Sudah dua minggu di Pulau Christmas[ii]. Tapi bagi lelaki dari Tassipi, rasanya seperti dua tahun kehilangan nama.
Langitnya tak pernah selesai. Anginnya seperti debu yang terus menempel. Lalu laut selalu dekat tapi tak bisa disentuh. Seolah hukuman sejati bukanlah jeruji, tapi kenyataan bahwa air asin tetap bisa tercium, namun tak bisa lagi dirasa.
Di sel kecil itu, ia tinggal bersama dua orang asing yang sama-sama tak bicara banyak. Tidur di atas matras tipis yang sudah lelah menyangga tubuh-tubuh yang patah. Satu jendela panjang menghadap ke tembok. Udara masuk bukan dari jendela, tapi dari kipas angin yang berdengung seperti dengkur hantu kapal karam.
Kadang ia terbangun malam-malam, tangannya mencari dayung. Tapi yang ia genggam hanya udara dingin dan bau logam. Ia masih menyimpan sehelai kecil tali sabut di balik bantal tipisnya. Serpih simpul dari perahu lamanya, tak lebih panjang dari seujung jari, yang entah bagaimana ikut terbawa di saku celana saat ia ditangkap. Petugas tak menyita, mungkin karena tak mengira benda sekecil itu bisa mengikat ingatan seseorang.
Dari balik dinding tipis, terdengar nyanyian:
“Wa ina… Wandiu diu… wandiu diu…”
Itu suara nelayan dari Wakatobi yang ditahan di sel sebelah karena membawa lima pencari suaka dan senjata rakitan. Ia tak bisa melihat wajahnya. Tapi suara itu seperti nyala kecil yang menolak padam di tengah gelap.
“Kenapa dia bernyanyi?” tanya lelaki Tassipi suatu hari pada petugas muda dari Fiji yang bisa sedikit berbahasa Indonesia.
Namanya Kalevu. Tubuhnya tinggi, gelap, dan tegap seperti tebing di sisi laut yang lama diam. Ia tak banyak bicara, tapi saat bicara, nadanya lembut, seakan tak ingin membuat siapa pun merasa makin kecil.
“Aku dulu tentara,” katanya. “Dari Fiji. Sekarang kerja di sini. Serco[iii] yang bawa.”
Lelaki Tassipi tidak tahu apa itu Serco, tapi ia mengangguk saja.
“Kadang saya menjaga di kamp Timor,” lanjut Kalevu sambil memungut kertas bungkus makanan yang tertiup angin. “Dengar orang panggil ‘bapa’, ‘ibu’, seperti kamu bilang ke anakmu di mimpi.”
Ia tak menjelaskan lebih lanjut. Tapi sore itu, Kalevu duduk di sisi bangku besi, membuka bekalnya: potongan singkong rebus dan saus ikan.
“Kalau rindu rumah, makan yang bau tanah,” katanya.
Ia lalu menyodorkan sepotong kecil kepada lelaki Tassipi. Rasanya asin, pahit sedikit, tapi anehnya membuat langit Pulau Christmas terasa lebih lunak hari itu.
Hari kelima belas, ia duduk di sudut sel, lelah tapi tak lapar. Petugas yang sama mendekat. Memberikan bungkusan kecil. “Ada yang titip kue dari dapur. Kamu bantu cuci kemarin, kan?”
Ia tak mengingat siapa. Tapi menerimanya. Kue lembut, seperti bolu. Ia hanya mencicipi sedikit. Sisanya ia bungkus lagi dengan hati-hati menggunakan serbet kecil.
Sore itu, saat melintas menuju ruang jemur pakaian, ia melihat anak kecil dari Sri Lanka berdiri di belakang pagar besi. Mata anak itu menatap kosong, seperti laut yang kehilangan dermaga.
Tanpa berkata-kata, lelaki Tassipi menyelipkan kue itu lewat celah bawah pagar.
Anak itu tak langsung mengambil. Hanya menatapnya, lalu berlutut dan menggambar sesuatu di lantai debu: sebuah perahu, sangat kecil, dengan lima titik di atasnya menyerupai lima orang yang dulu ia antar.
Anak itu lalu menatapnya dan berkata dengan pelan:
“Sa nakana maiyo, sa lalaiyo pa’ambo…”
“Kalau engkau tak ada, laut tak bisa tidur…”
Ia tak tahu artinya. Tapi tubuhnya goyah. Itu bukan kata-kata biasa. Itu luka yang diucapkan dengan sangat lembut.
Malamnya, ia tak bisa tidur. Suara nyanyian nelayan Wakatobi masih berlanjut di dinding sebelah, tapi lebih lirih. Seperti seseorang yang menyanyi untuk dirinya sendiri agar tidak hancur.
Dan di tengah suara angin yang mengaduk mimpi, lelaki Tassipi menempelkan telapak ke tembok.
Tak ada yang membalas. Tapi ia yakin: di sisi lain, ada tangan yang juga menyentuh dari balik keheningan. Ia percaya, kadang yang membuat seseorang bertahan bukanlah harapan pulang, tapi keyakinan bahwa ada yang masih mendengar walau hanya dari balik dinding yang tak bisa dibuka.
Hari pemindahan tiba.
Semuanya bersiap setelah nama-nama penghuni Cristmas dibacakan. Tapi satu nama tidak disebut. Bapak dari keluarga Sri Lanka. Ia tak ada dalam manifest ke Darwin.
“Dia tak bisa ikut,” kata petugas. “Demam tinggi. Harus dikarantina.”
Ibu si anak kecil meraung pelan, namun tahu tak bisa melawan. Anak itu naik kapal, terus menoleh ke belakang, matanya menahan hujan yang belum jatuh.
Nelayan Tassipi duduk di antara tubuh-tubuh lelah dan bisu. Angin laut tak lagi membawa bau ikan, hanya bau logam dari dek kapal dan rasa asin dari air mata yang tak diusap.
Saat kapal mulai bergerak, ia merasakan dada semakin berat. Bukan karena laut, tapi karena sesuatu yang tak disebut. Apa benar lelaki itu hanya demam? Atau ada yang disembunyikan?
Darwin menanti di ujung garis, tapi semua cerita yang dulu pernah dikirim ke sana, terdengar lebih gelap dari Christmas. Dindingnya lebih tinggi. Jam makannya lebih sunyi. Dan tak ada lagi suara nyanyian dari balik tembok. Hanya bunyi gesekan sendok plastik di atas nampan, rapuh, tapi tak kalah sunyinya.
Dan malam itu, di atas kapal menuju tempat yang lebih jauh, lelaki Tassipi akhirnya tahu: yang paling menakutkan dari penjara bukan jeruji, bukan penjaga, bahkan bukan kehilangan, tapi saat nama seseorang tidak disebut lagi dan tak ada yang menanyakannya.***
Tassipi, 2025
![Sepotong Kue untuk Darwin[i] Lantai Tanah dan Jejak Belimbing Hutan](https://kosapoin.com/wp-content/uploads/2025/07/Lantai-Tanah-dan-Jejak-Belimbing-Hutan-80x80.jpg)
Lantai Tanah dan Jejak Belimbing Hutan
[i] Kisah lelaki dari Tassipi episode #6
[ii] Pulau Christmas adalah wilayah Australia di Samudra Hindia, dikenal sebagai tempat pendaratan pencari suaka yang ditangkap di laut. Pulau ini memiliki pusat penahanan imigrasi yang pernah dioperasikan oleh perusahaan swasta dan sering menjadi lokasi transit sebelum tahanan dipindahkan ke fasilitas di daratan utama Australia, seperti Darwin.
[iii] Serco adalah perusahaan swasta asal Inggris yang mengelola berbagai pusat detensi imigrasi di Australia atas kontrak pemerintah, termasuk Pulau Christmas. Mereka merekrut staf dari berbagai negara, termasuk kawasan Pasifik Selatan.
Menurut Australian Fisheries Management Authority (AFMA) dan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Indonesia, 48% nelayan Indonesia yang ditangkap di Australia pada tahun 2024, berasal dari Sulawesi Tenggara.
![Sepotong Kue untuk Darwin[i] HOROR](https://kosapoin.com/wp-content/uploads/2025/08/tafsir-1-80x80.jpg)








