Bagian 1
Nelayan dari Tassipi datang dengan perahu kayu sempit dan layar sobek yang dijahit ulang berkali-kali. Mereka tidak membawa banyak barang, hanya buras[1] yang bisa bertahan lebih dari tiga hari. Mereka tahu cara membaca angin lewat suara air yang mendesis di antara lunas dan lambung. Mereka kadang bisa tahu arah ikan hanya membasuh wajah dengan air laut, lalu diam lama menghadap ke timur.
Dari Wakatobi, nelayan datang dengan cadik ganda dan parang pendek terselip di pinggang. Mereka fasih bicara pada arus, tahu tempat penyu bertelur. Mereka membawa kasuami.[2] Makanan yang bisa tetap kering meski terkena udara asin, tak mudah basi, dan mengenyangkan.
Nelayan dari Rote datang dari laut yang tak pernah diam. Mereka membawa kolo[3] . Nasinya pekat, beraroma asap dan minyak kelapa, bisa bertahan seminggu dalam terik. Mereka tak banyak bicara. Hanya satu atau dua potong sirih yang dikunyah lama sambil menatap cakrawala. Dalam kisah mereka, Pulau Pasir bukan sekadar tempat singgah, tapi tempat para leluhur menanam doa, dan pasirnya kadang mengeluarkan suara halus seperti bisikan anak kecil yang belum pernah dilahirkan.
Mereka berbeda. Tapi laut tak pernah menyuruh mereka sama.
Justru karena perbedaan itulah mereka bisa saling mengisi. Nelayan Wakatobi mengajari cara mengikat jerat kepiting yang tak melukai cangkangnya sedangkan nelayan Rote menunjukkan cara menyamarkan mesin agar tak terlihat petugas patroli. Nelayan Tassipi, yang paling sering terdampar dan tersesat, tahu tempat persembunyian yang bahkan burung laut pun lupa.
Saat mereka bertemu, entah di lekukan karang yang tak punya nama, atau di perairan yang selalu dikira perbatasan, mereka tak saling menyebut asal. Yang mereka sebut: ikan yang datang, arah angin, dan bekal yang tinggal separuh.
Di laut, tak penting dari mana asalmu. Yang penting, apakah kamu bisa menjaga diamnya malam dan tahu kapan ombak sedang berkata jangan.
Aku pernah sekali ikut mereka, tanpa tahu ke mana kami akan menuju. Tak ada yang bertanya siapa aku, hanya sepotong buras di tanganku dan arah yang ditunjuk dengan dagu. Malam itu, pasir terdengar seperti berbisik, dan aku seperti tak pernah benar-benar kembali sejak itu.
Begitulah mereka karib. Bukan karena sepakat, tapi karena saling menjaga punggung saat tidur. Karena tahu, jika satu tak kembali, yang lain akan bercerita di dermaga, agar namanya tetap hidup dari lipatan angin, dari lipatan ombak, dan dari suara perahu yang kembali meski tanpa kemudi.***
Tassipi, 2025

Empat Lakon Detak Detik Detok
[1] nasi yang dikukus dalam daun pisang, direbus lama dengan santan.
[2] parutan singkong yang dikukus dan dipadatkan dalam anyaman daun kelapa.
[3] nasi bakar khas Rote yang dimasak dalam bambu.









