Bagian 7
Di pesisir Vanua Levu[1], perahu dibangun tanpa paku. Hanya dengan simpul, anyaman, dan keyakinan bahwa kayu akan saling menjaga asal tidak dipaksa tunduk.
Kalevu tumbuh dari kayu-kayu itu. Sejak kecil, ia lebih sering mendengar desis ombak daripada panggilan nama. Ia tahu suara laut sebelum tahu nama ayahnya. Dan sebelum ia bisa membaca, ia sudah tahu ombak tidak selalu datang untuk menenggelamkan. Kadang hanya ingin didengar.
Perahu pertamanya bukan yang memakai layar, tapi sebuah camakau[2] ringan, lentur, namun mampu melawan badai. Di dalamnya, simpul dan serat kelapa menjadi fondasi. Jika satu tali lepas, bukan perahu yang karam, tapi arah yang hilang.
Ketika tiba di Buton, ia berdiri lama menatap sebuah rumah tinggi tanpa paku: malige[3]. Bau kayu kering, suara lantai tua, dan udara yang penuh langkah membuatnya sadar. Ia sedang menatap bayangannya sendiri di pulau lain.
“Camakau membawaku ke laut, malige menahanku agar tak hilang.” katanya pelan.
Antara dua bangunan itu, ia mengerti bahwa manusia tak selalu butuh fondasi dari logam. Yang dibutuhkan adalah simpul, keyakinan, dan kenangan untuk tetap berdiri utuh.
Mungkin itu sebabnya ia menikahi perempuan Buton, Wa Siofa. Mereka bertemu bukan di dermaga, tapi di klinik terapung. Kala itu, Kalevu menjadi teknisi pompa air, Wa Siofa merawat luka anak-anak pesisir.
Yang membuat Kalevu jatuh cinta bukan senyumnya, tapi caranya memberi nama pada luka. Bagi Wa Siofa, luka bukan sekadar sobekan kulit tapi ingatan orang-orang yang lautnya dicuri.
Pada malam terakhir kapal bersandar, Wa Siofa berbicara sedikit berbisik kepada Kalevu.
“Kalau laut jujur, datanglah tanpa kapal.”
Dua bulan kemudian, Kalevu melompat dari kapal dagang dan berenang menuju desa di Buton. Ia datang sendirian, hanya membawa simpul rambutnya sendiri. Itu alasan konyol yang membuat Wa Siopa tertawa tapi menyukainya.
Wa Siofa menunggunya di tangga rumah panggung. Tak banyak obrolan. Hanya membuka pintu dan membiarkannya masuk. Karena bagi mereka, laut yang jujur adalah bahasa paling cukup.
Kalevu masih menyimpan rambut itu di saku bajunya, seperti doa yang berkelok ke timur.
Dan di Pulau Christmas, simpul rambut itu satu-satunya yang membuatnya tetap manusia, saat dunia menuntutnya menjadi penjaga.
Ia bukan penjaga yang galak. Tapi juga bukan yang lunak. Mungkin hanya ia satu-satunya yang tahu: tidak semua jeruji terbuat dari besi. Kadang dari suara yang tertahan, atau napas yang diputus sebelum sempat bernyanyi.
Suara itu datang tiap malam. Lirih. Retak.
Wa ina… wandiu diu… wandiu diu…
Lelaki dari Wakatobi, bersandar ke tembok, bernyanyi bukan untuk orang lain, tapi untuk laut yang ia simpan dalam dadanya.
Tiap malam, suara itu terus datang. Dan pada malam ketujuh, lagu itu tinggal di telinga Kalevu meski ia sudah kembali ke kantor jaga.
Ia bermimpi tentang anaknya. Tentang Wa Siofa. Tentang asap dapur dan suara kayu tua. Ia mulai duduk lebih lama di depan sel itu. Tidak bertanya. Hanya hadir.
Lelaki itu tetap bernyanyi, tapi lebih lambat. Seolah nyanyian itu mulai menyisakan celah.
Beberapa hari kemudian, Kalevu meninggalkan sepotong kasuami dan jeruk nipis kecil di celah jeruji. Tanpa kata.
Lelaki Wakatobi menatapnya. Cukup Lama. Lalu berbisik, hampir tak terdengar tentang anak yang hanya sempat makan satu gigitan. Tentang malam yang terlalu dingin dan tentang sesuatu yang gagal ia selamatkan.
Kalevu tidak bertanya. Ia hanya tahu yang dibutuhkan lelaki itu bukan penjaga, tapi orang lain yang mengerti laut dalam dadanya.
Malam berikutnya, Kalevu menulis memo singkat:
“Izinkan satu pertemuan. Untuk dua orang yang sama-sama belum pulang.”
Ia tahu suara kunci terlalu dingin untuk disebut belas kasih. Tapi malam itu, ia meminjamnya. Bukan untuk mengurung, tapi untuk membuka. Karena laut tidak pernah menunggu izin.
Di layar ruang kontrol, ia melihat lelaki Wakatobi duduk bersandar menatap kosong sedang lelaki Tassipi menggenggam simpul di bawah bantalnya.
Kalevu tahu sesuatu harus dijaga agar tidak saling tenggelam.
***
Aku mendengar cerita ini dari nelayan Tassipi di beranda rumahnya. Ia berkata, di antara semua penjaga penjara, mungkin hanya satu yang dikenal para tahanan dengan rasa hormat: “Dia yang tak pernah menjaga tapi mendengar.”
Dan mungkin, itulah yang tersulit: mendengar laut dari balik pintu besi.***

REKAMAN KATA , KATANYA
[1] Vanua Levu: pulau terbesar kedua di Fiji, dikenal sebagai wilayah dengan tradisi maritim kuat. Kapal tradisionalnya cukup terkenal dalam menggambarkan filosofi hidup masyarakat yang menghormati keseimbangan alam dan laut.
[2] Camakau: perahu tradisional dari Fiji yang dibangun tanpa paku, mengandalkan simpul dan keseimbangan alami.
[3] Malige: rumah bangsawan Buton, dibangun tanpa paku dengan empat tingkat. Mewakili pembagian semesta dalam kepercayaan lokal: langit, manusia, roh, dan dasar laut—lantai tak kasat mata tempat jiwa-jiwa diam.









