Lantai Tanah dan Jejak Belimbing Hutan

Lantai Tanah dan Jejak Belimbing Hutan

Bagian 1 – SD Swasta Laea

Aku datang pagi itu. Langit belum biru sepenuhnya, dan embun belum menyerah dari ilalang.

Dari kejauhan, pagar kayu itu seperti sudah letih berdiri. Catnya pudar. Huruf-hurufnya nyaris tak terbaca, tapi masih tersisa cukup untuk menyebut nama: SD Swasta Laea.

Tak ada gerbang. Hanya sepotong papan yang digeser dan kembali bersandar pada batu.

Di kiri dan kanan sekolah tumbuh pohon gamal, menjulang ringan. Di belakang, beluntas[1] tumbuh rapat, seperti barisan pelindung yang tidak perlu diperintah. Aku tak tahu mengapa urutannya begitu, gamal di samping, beluntas di belakang. Tapi di kampung ini, tak ada yang tumbuh tanpa sebab.

Atap sekolah seluruhnya dari rumbia. Sudah sangat tua. Tiga ruang kelas berdiri berdampingan seperti barisan orang sabar.

Satu ruang sudah lama ditutup karena atapnya rusak. Beberapa bagian jatuh ke tanah, lapuk dan tertimbun debu. Sisanya menggantung seperti janji yang tak selesai.

Pintunya tetap tertutup tapi tidak dikunci. Aku masuk perlahan, melangkah di antara bayangan, seperti memasuki ingatan yang dibiarkan tinggal sendiri.

Anak-anak datang satu per satu.

Tak ada seragam. Ada yang memakai sandal jepit, ada yang bersandal kebesaran, mungkin milik ayahnya. Ada pula yang memakai sepatu robek tanpa kaos kaki. Semua berjalan kaki. Beberapa membawa adik kecil. Beberapa menggiring kambing, itik, dan seekor sapi.

Hewan-hewan itu diikatkan pada batang kayu yang tertancap dalam. Itik dimasukkan ke kandang dari ilalang hidup[2], pagar alami yang tumbuh mengikuti garis tanah.

Hewan-hewan itu diam, seperti paham bahwa hari ini akan diawali dengan belajar.

Aku menyelinap di antara dinding papan yang renggang. Dari celah belakang, aku bisa mengintip ke dalam kelas. Ruangannya kecil. Lantainya tanah. Tak rata.

Di bawah meja terlihat jejak kaki: jempol kecil, garis-garis telapak, bahkan sebuah lubang cerobong kecil, semacam sarang larva pemangsa semut. Aku menyaksikan dua anak di barisan belakang mengendap-endap menangkap semut dan memasukkannya ke dalam cerobong larva itu seperti diisap pasir hidup. Mereka tertawa kecil, tapi diam seketika saat guru membalikkan badan.

Tanah di sisi guru lebih kering, padat. Tapi di sisi murid, tanah lebih lembap, seperti menyerap setiap ketakutan dan keraguan dari tangan-tangan kecil yang menulis perlahan.

Gurunya hanya bertangan satu. Tapi ia menulis dengan khidmat. Suara kapur yang digantikan getah: diam, tapi menyisakan gesek halus. Papan tulisnya hitam legam, bukan karena bersih, tapi karena kapur jarang datang. Hari itu, ia memakai belimbing hutan[3]. Getahnya berwarna samar, tapi cukup untuk meninggalkan huruf. Anak-anak menyalin cepat, karena mereka tahu: jika tulisan itu mengering, bekasnya mengeras dan sulit dihapus.

Mereka memanggilnya: Gu. Ia datang setiap pagi, berdiri di depan kelas yang tanahnya tak rata.

Ia bukan guru dari kota. Ia ditunjuk oleh warga, bukan karena ijazah, tapi karena ia sabar dan bisa membaca huruf dengan baik.

Dulu, katanya, ia adalah pelempar lembing terbaik di kabupaten. Tangan kanannya yang hilang adalah tangan yang dulu ia gunakan melempar jauh, mewakili kampung dalam perlombaan.

Kecelakaan datang seperti angin buruk. Kini ia menulis dengan tangan kiri.

“Tak sekuat dan tak serapi yang dulu,” ujarnya pelan, sambil menorehkan satu demi satu huruf di papan.

Bayarannya bukan gaji. Kadang hasil kebun, kadang ikan dari sungai, kadang hanya salam dan syukur. Tapi ia tak pernah absen. Huruf-huruf itu tetap muncul di papan, dengan getah belimbing dan niat yang tak berubah.

Di sudut belakang kelas, berjejer pot kecil dari batok kelapa.

Setiap anak memiliki satu. Di dalamnya tumbuh bawang, cabe, atau tomat. Jika tumbuh dengan baik, mereka boleh membawanya pulang. Jika gagal, mereka akan diberi bibit baru.

“Orang tua mereka akan tahu, yang membawa pulang pot berisi tumbuhan, atau yang datang dengan tangan kosong,” kata guru itu pada aku.

Tak ada yang dimarahi. Tak ada yang dianggap gagal. Hanya bibit baru dan waktu yang diperpanjang.

Langit sudah lebih biru ketika aku melangkah pergi, tapi aku merasa, tanah di lantai kelas itu masih melekat di telapak kaki.***


[1] Beluntas (Pluchea indica) tanaman pagar sekaligus pengusir nyamuk. Kombinasi dengan gamal kemungkinan bukan kebetulan, tapi bentuk kearifan lokal dalam menata ruang sekolah.

[2] Tanaman ini ditata seperti pagar alami dan cukup kuat menahan itik. Ini adalah praktik ekologis yang luar biasa.

[3] Belimbing hutan (Averrhoa bilimbi) menghasilkan getah bening yang dapat meninggalkan bekas pada papan tulis. Getah dan daging buah ini dapat dipakai untuk menulis, walau cepat memudar. Tindakan ini menunjukkan adaptasi terhadap minimnya sarana belajar.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *