Kontu Wuna dari Maginti

Kontu Wuna dari Maginti

Kayu itu disimpan sejak anak sulungnya lahir. Bukan kayu biasa. Bitti[1] tua yang dipilih langsung dari hutan Maginti, dibawa turun waktu tubuhnya masih kuat menahan beban dan pikirannya belum digerogoti kekhawatiran. Ia tidak segera membelahnya. Ia tahu, ini bukan kayu untuk sekarang. Ini untuk suatu hari yang ia belum tahu kapan akan tiba.

Disanggah dua batu pipih di kolong rumah panggung Lagasa, kayu itu dilapisi abu dapur dan diusap minyak kelapa tiap awal bulan. Ia memperlakukannya seperti tubuh yang sedang tumbuh.

“Kalau anakku tumbuh benar, kayu ini juga akan dewasa pada waktunya,” katanya pelan.

Ia berhenti membuat perahu sejak istrinya hendak melahirkan. Air ketuban pecah lebih awal. Saat itu satu keluarga asing sudah menunggu perahu yang belum selesai. Ia harus memilih:

Menyelesaikan lunas perahu agar segera dipakai pelarian, atau mendampingi istrinya.

Ia tinggal. Ia pilih keluarga. Tapi perahu tetap selesai. Dibawa orang lain. Tiga hari kemudian, berita datang: satu tubuh tak pernah ditemukan.

Sejak itu, ia tak lagi memukul pahat pada kayu. Ia tinggalkan Maginti, pindah ke Lagasa, berdagang ikan dari tangkapan tetangga. Tiap hari ke pasar. Tiap malam tidur di samping anaknya. Dan satu batang kayu bitti itu tetap ia simpan. Seperti janji yang belum sempat ditepati.

“Ini untuk satu nyawa yang belum lahir, dan satu nyawa yang tak sempat tiba.”

Pagi itu, sebelum palu pertama jatuh, telepon bergetar di meja makan yang masih kosong. Suara anaknya dari Kendari datang seperti hujan kecil di atap seng: tipis, tapi membuat ia menoleh.

Ia mendengarkan, mengangguk walau tak terlihat. Anak itu sedang bersiap seminar akhir. Jika tak ada kendala, September pulang.

Di sela-sela kabar, anaknya bertanya apakah kayu yang dulu sering disebut masih ada.

Ia menjawab dalam hati:

Masih. Kayu itu tumbuh bersama kamu. Sama keras dan sama diamnya sekarang.

Lalu telepon berakhir dengan suara yang lama menggantung di udara, seperti tali kaghati kolope[2] putus tapi tetap mengambang di atas tanah.

Ia menyimpannya karena tahu suatu saat, ada satu hidup yang layak diberi lunas terbaik.

Lalu pagi itu, lelaki dari Tassipi datang. Kawan lamanya sejak muda. Dulu mereka sering melaut bersama, mengantar orang yang tak disebut namanya, melintas malam dan sunyi di laut yang belum dijaga kamera atau garis patroli. Kini lelaki itu datang dengan satu kalimat:

“Saya butuh satu perahu untuk seseorang yang tak bisa berenang, dan dunia tak memberinya pelampung.”

Mereka tidak bicara banyak. Karena kalimat selebihnya sudah pernah diucapkan puluhan tahun lalu.

Saat itu, matahari condong dan bayangan mereka memanjang di tanah, kenangan datang tanpa diminta. Tentang dua anak dari Wakatobi yang pernah mereka antar ke utara.

Yang satu terus muntah di haluan. Yang satu lagi lebih kecil, tertawa tiap kali ombak datang. Mereka tak punya orang tua yang ikut. Hanya selembar kertas lipat dan dua nama yang ditulis tergesa.

Yang kecil pernah bilang sesuatu, tapi mereka sudah lupa kalimat persisnya. Hanya ingat rasa: bahwa laut bisa jadi ayunan, dan daratan kadang terlalu keras untuk dijalani.

Sejak itu, mereka tahu: tidak semua orang ingin selamat. Beberapa hanya ingin terapung lebih lama.

Kayu itu mereka angkat berdua dari kolong rumah. Seratnya masih kuat, baunya masih menyimpan musim kemarau. Dan saat matahari condong ke timur, palu pertama jatuh pelan, seperti napas yang ditarik panjang setelah ditahan sekian lama.

Istrinya tak langsung bertanya. Ia hanya mencium bau tua yang datang lagi: serbuk kayu bitti di sela baju, ketukan pahat yang mengembalikan suara-suara masa lalu. Ia tahu irama itu. Irama suami yang sedang membangun tubuh lain. Tubuh yang bisa mengambang.

Ia marah dengan diam. Dalam diamnya, ia ingin suaminya tahu:

“Aku tidak pernah takut kau kembali ke laut. Aku hanya takut kau tidak pernah kembali ke rumah.”

Dulu, setelah anak mereka lahir, mereka membuat sumpah yang tak ditulis. Tapi ia percaya, suaminya mengerti. Bahwa sekali lagi ke laut, berarti menghapus jalur pulang ke Lagasa dan hatinya.

Nelayan Tassipi melihat dari kejauhan. Ia tidak masuk rumah. Ia duduk di bawah ketapang, seperti bayangan yang dibiarkan menyebar. Orang-orang Lagasa mulai bertanya siapa dia, kenapa selalu datang tanpa ikan, kenapa lelaki itu kembali memukul kayu seperti anak muda.

Tapi lelaki tua dari Maginti tak menjawab. Ia hanya bekerja. Palu dan pahat jadi suara yang tak bisa dibantah. Mungkin tiap dentuman adalah cara ia meminta maaf pada laut.

Perahu selesai saat matahari seperti luka yang ditutup perban senja. Tak ada upacara atau teriakan. Hanya dua lelaki yang menarik lunas ke air, dan satu perempuan yang berdiri di tangga rumah, bergeming.

Marahnya penuh sudah. Tapi tangannya tak mengangkat. Hanya matanya yang tajam, seperti ingin menusuk laut lebih dalam.

Lalu ia melihatnya. Di sisi perahu, dekat garis air, tertulis dengan arang basah dan kuku:

Kontu Wuna[3]

(dengan lekukan khas, hanya mereka berdua yang tahu)

Ia tertegun. Itu nama kecilnya.

Nama yang dulu hanya dipanggil suaminya sekali, waktu mereka berteduh dari hujan di bawah batu karang Napabale. Nama yang tak pernah ia dengar lagi sejak anak mereka bisa berjalan.

Mungkin laut tak pernah bisa membunuh cinta. Tapi cinta kadang harus kembali ke laut agar tahu batasnya.

Ia tak berkata apa-apa. Hanya turun dua anak tangga. Tidak sampai tanah.

Dan malam itu, perahu belum berlayar. Tapi angin sudah datang seperti membawa kabar.

Di dekat buritan, Kontu Wuna meletakkan satu ikan kering dalam daun pisang. Tanpa suara. Tapi cukup untuk sebuah keberangkatan tanpa anggukan.***


[1] Bitti (Vitex cofassus): kayu keras khas Muna dan Buton, tahan rayap dan air. Umumnya dipakai membuat lunas perahu. Biasanya dilapisi minyak kelapa tua atau abu dapur agar rayap tak masuk lewat serat kayu, disimpan di tempat tertutup tanpa menyentuh tanah. Usianya bisa mencapai 30 tahun tanpa rusak.

[2] Kaghati kolope adalah layang-layang tradisional Muna, terbuat dari daun kolope (umbi hutan) yang ringan dan lentur. Daun ini dijadikan sayap layang-layang yang diterbangkan saat musim angin, sebagai hiburan, atau penanda panen.

[3] Kontu Wuna, bahasa Muna: bunga yang tumbuh di atas batu. Simbol cinta yang bertahan di tempat keras.

PAGI MEREVISI PAGI
Baca Tulisan Lain

PAGI MEREVISI PAGI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *