Kalampeda

bag 8 e1751190045670

Bagian 8

Malam itu laut tak beriak, angin menepi, seolah memberi ruang pada sesuatu yang hendak diambil.

Perahu kayu kecil itu berhenti di sisi timur Ashmore Reef, hanya beberapa meter dari batas yang tak terlihat. Dalam sunyi itu, nelayan Wakatobi turun ke laut dengan panah karet merah di tangan. Ia hanya memakai senter kepala, tapi dimatikan. Tak ada suara, hanya gemuruh pelan dari dalam dirinya.

Ia tahu ikan sedang menjauh. Laut tak memberi tanda. Tapi ia merasa, ini adalah malam kalampeda.

Bagi nelayan Wakatobi, kalampeda bukan sekadar ikan sebelah. Ia penjaga batas. Ikan yang hanya muncul ketika seseorang menyimpan niat yang terlalu dalam, atau ketika arwah yang belum selesai berkeliaran di laut. Ikan ini tak pernah berenang berdua. Hanya sendiri, berenang silang ke kiri, seolah dunia tak punya tengah.

Nelayan itu pernah melihat kalampeda waktu kecil, di utara Sombano, Kaledupa. Ikan itu diam di balik karang, tubuhnya seperti bayangan. Kata kakeknya, kalau kau melihat kalampeda, jangan kejar. Tapi bila kalampeda mendekatimu, bersiaplah: sesuatu akan hilang darimu.

Malam itu, kalampeda muncul.

Ia mengitari kaki sang nelayan, melintas cepat, lalu lenyap. Tak lama kemudian, bocah lelaki yang ia bawa dari perahu, anak pengungsi yang tinggal di bawah terpal basah, mendadak kejang dan kehilangan napas. Suhunya turun. Tak ada pelukan yang cukup hangat. Kasuami terakhir pun hanya sempat digigit ujungnya.

Bocah itu meninggal sebelum fajar.

Nelayan Wakatobi membungkusnya dengan selimut asin dan membaringkannya di ujung perahu. Di atas dadanya, ia letakkan jeruk nipis, aroma terakhir yang menenangkan, sebagai tanda bahwa anak itu sudah kembali ke laut.

Sejak itu, ia merasa tangan kirinya tak pernah benar-benar hangat. Seolah sebagian tubuhnya ikut tenggelam bersama napas terakhir bocah itu.

Tak ada yang bicara di perahu. Lima penumpang dewasa hanya menunduk. Salah satu dari mereka meletakkan tangan di pundak sang nelayan. Cukup lama. Gerakan itu bukan belas kasihan. Tapi semacam pengakuan bahwa di laut, duka tidak perlu dijelaskan, hanya dibagi dalam diam.

Ia tak menangis. Tapi panah karet merah di tangannya mulai bergetar. Ia tahu laut sudah menegur. Maka ia menyimpan panah itu dan mengganti dengan panah hitam yang lebih panjang, lebih kaku, dan lebih tajam. Bukan untuk berburu, tapi berjaga. Karena laut kadang tak hanya mengirim kalampeda. Tapi juga kapal tanpa nama.

Dua jam setelah itu, keheningan pecah, perahu patroli mendekat. Kapal besar dengan lampu menyilaukan, suara logam, dan perintah yang tak bisa ditolak. Mereka datang seperti hujan badai yang memilih satu titik untuk menghukum.

Lima orang dewasa di atas perahu tak melawan. Tapi nelayan Wakatobi menyelam lebih dulu. Ia menahan napas seperti biasa. Dalam hening laut, tubuhnya menyatu dengan bayangan terumbu. Ia bergerak seperti arus, berpindah seperti bayangan.

Namun malam itu, laut tidak menyembunyikannya.

Seorang petugas berkata setelahnya:

“Dia seperti tidak butuh udara. Tapi ikan di sekitar pun tak mendekat. Seperti laut sedang mengusirnya.”

Ia ditangkap di bawah, masih menggenggam panah hitam. Tak menyerang. Tak bicara. Tapi di antara giginya, ditemukan sepotong benang simpul. Mungkin dari ikatan panah. Mungkin dari sesuatu yang ingin ia ingat tapi tak ingin diucapkan.

Dalam laporan resmi, hanya tercatat:

“Alat menyerupai senjata. Tindakan mencurigakan. Satu anak di kapal ditemukan meninggal.”

Tak ada yang menyebut Kalampeda.

Tak ada yang tahu mengapa jeruk nipis masih tersimpan di dada anak itu, bahkan setelah beberapa jam. Tak ada pula yang mendengar bisikan sang nelayan saat kapal patroli mengangkat tubuh itu:

“Kalau laut mau mengambil, biarlah dia ambil yang paling suci.”

Dan malam pun kembali tenang. Tapi di dalam tenang itu, ada satu ikan yang menyilang sendirian.

Tak tertangkap. Tak dicatat.

Hanya meninggalkan luka di laut yang tak bisa dijahit siapa pun.

**

Ia membawa dua panah saat ditangkap. Satu bertali merah, sedikit lentur, seperti mengerti tekanan dalam laut. Satu lagi bertali hitam, lebih panjang, lebih tegang, dan tampak dibuat untuk sesuatu yang tak bisa dijinakkan.

Bagi petugas, panah hitam itu bukan sekadar alat pancing. Itu potensi senjata. Itulah alasan ia dianggap sangat berisiko dan nantinya dimasukkan ke blok isolasi, bukan karena jumlah orang yang ia bawa, tapi karena satu benda yang dianggap “lebih siap menyerang daripada bertahan.”

Namun bagi nelayan Wakatobi, panah merah justru yang paling tajam. Tajam bukan karena ujungnya, tapi karena ia bisa menyampaikan permintaan dalam keheningan laut yang enggan bicara. Panah itu hanya dipakai saat bulan mati, saat ikan sulit ditangkap, dan malam terlalu tenang untuk dipercaya.

Nelayan Wakatobi menyelam saat lima penumpang masih di perahunya. Termasuk seorang anak kecil yang duduk meringkuk di sisi buritan.

Bukan karena ingin meninggalkan mereka, tapi karena laut berubah. Arus bawah bergerak tak seperti biasanya. Suhu naik dan jejak ikan kecil yang mendadak naik ke permukaan pertanda bahwa sesuatu di dasar sedang gelisah.

Ia tahu, waktu mereka sempit. Dan jika ia tak menyelam sekarang, terumbu yang mereka cari akan disapu angin pasang dalam satu jam ke depan.

Ia tak menjelaskan. Hanya memberi isyarat pada lelaki dewasa paling tua di perahu, lalu turun perlahan, membawa satu panah merah.

Ia percaya, laut sedang membuka celahnya hanya sebentar. Ia menyelam bukan untuk melarikan diri. Tapi karena laut bergetar. Dan saat laut bergetar, nelayan Wakatobi tahu, ada sesuatu yang harus disampaikan lewat tubuh.

Sejak itu, ia merasa tangan kirinya tak pernah benar-benar hangat. Seolah sebagian tubuhnya ikut tenggelam bersama napas terakhir bocah itu.

***

Kami duduk bersisian, menghadap laut yang perlahan surut. Di depan kami, barisan perahu kayu terbalik ditopang batu karang, mungkin hari ini tak akan turun hujan.  Katanya, sejak bocah itu meninggal, tangan kirinya tak pernah hangat lagi, seolah sebagian tubuhnya ikut tenggelam bersama napas terakhir.

Mungkin, itulah kutukan Kalampeda:

bukan membawa maut, tapi menyisakan tubuh yang tak bisa lepas dari ingatan.

Tassipi, 2025

SARINAH ANGELLA
Baca Tulisan Lain

SARINAH ANGELLA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *