Semakin Alloh perjelas, semakin Alloh perluas, semakin meninggikan kasih sayang dalam secuil kehidupan yang hanya persinggahan ini. Mengasingkannya aku dari fatamorgana dunia, kiranya sudah tepat keputusannya. Meski sesekali aku terbujur kaku dihentakan laju dunia yang entah kemana kemudinya itu bercerita.
Aku memang tak sabar, dan sesekali berada dalam fase ditidak sabarkan, padahal ini aku hanya bisa tak berdaya sebab kebanyakannya aku tak tega pada siapa saja yang merayuku untuk sekedar menikamti jamuan dunia.
Sudah kuduga air panasnya. Namun sesekali kusandarkan permohonanku pada yang kuasa untuk membiarkanku mengarungi samudera lepas hanya untuk membuktikan kepada mereka tentang Alloh Yang Maha Bertanggungjawab atas segala ciptaannya dan kiranya hanya Dia Maha Penolong disetiap jerit hambaNya yang meminta.
Pada keadaan yang aku terhimpit oleh masalah yang semakin membuatku sulit membuat manusia bersabar dengan syukurnya atas limpahan rahman-rahimNya, bergegas menjalani limpahan itu dengan bersabar, sambil berjalan di atas realistisnya dan sunatullahnya suatu kehidupan kiranya, bersabar untuk berhusnudzon terhadap rizki yang lebih luas, tinggi, mendalam jauh yang diingginkan oleh imajinasi belaka.
Pada kenyataannya, mereka membuatku semakin tidak tega atas apa yang membuatnya kehilangan kenikmatan hidup yang berwarna-warni begitu indah ini. Lantas, haruskah aku menemani mereka meski urat nadiku seakan berhenti detaknya karena putus asa akan adanya suatu kesadaran pada akal, hati, dan nurani mereka? Atau kutinggalkan saja semuanya yang menjadikanku dilema antara beban dan cinta yang begitu tidak terbatasnya sebuah makna tentang memperjuangkan?
Inikah yang dinamakan hidup?
Simpan rasa, dalam kejernihan hati ini
Biarlah rindu menuntun langkahku
Dan bercerita dalam kesungguhan cintaku
Pun lahirlah sepenggal lirik yang coba kurangkai menjadi sebuah lagu “Menuju Hati Itu”. [2024]









