Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan Hijriah, melainkan momentum pembaruan spiritual yang paling agung dalam setahun. Kehadirannya menuntut kesiapan hati dan jiwa agar setiap detiknya bernilai ibadah. Sejak sebelum hilal terlihat, para ulama dan orang-orang saleh telah membiasakan diri menyambut Ramadhan dengan doa dan persiapan batin. Mereka melakukan muhasabah, memperbaiki kebiasaan, serta membenahi hubungan dengan Allah dan sesama. Dengan menyiapkan diri lahir dan batin serta meluruskan niat karena Allah, puasa tidak hanya menjadi ibadah menahan lapar dan haus, tetapi juga sarana meningkatkan ketakwaan, kesabaran, dan keteguhan dalam beribadah.
Musabab itulah mengapa Bulan Ramadhan itu sebagai bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di bulan yang mulia ini, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi momentum memperkuat hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak doa. Doa adalah senjata orang beriman dan bentuk penghambaan yang paling nyata. Terlebih lagi, doa orang yang berpuasa memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Tsalātsatun lā turaddu da‘watuhum: ash-shā’imu ḥattā yufthira, wal-imāmul ‘ādilu, wa da‘watul maẓlūm.
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad: 305, dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Hadis ini menunjukkan bahwa sepanjang hari puasa, seorang mukmin berada dalam kondisi mustajab doa. Maka sangat merugi jika Ramadhan berlalu tanpa kita memperbanyak permohonan kepada Allah SWT.
Berikut adalah doa-doa penting yang dianjurkan untuk dihafal dan diamalkan selama bulan Ramadhan.
1. Doa Menyambut Awal Ramadhan
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengajarkan doa:
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِيْ مُتَقَبَّلاً
Allahumma sallimni li ramadhaana wa sallim lii ramadhaana wa tasallamhu minni mutaqobbalan
Artinya: “Ya Allah, selamatkanlah aku untuk bulan Ramadhan dan selamatkanlah bulan Ramadhan untukku dan selamatkanlah Ramadhan dariku demi amal ibadah yang diterima.” (HR Thabrani dan al-Dailami).
2. Doa atau Niat Puasa
Niat merupakan syarat sah puasa. Ia dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar sebagai bentuk kesadaran dan kesungguhan hati dalam menjalankan ibadah.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardli syahri Ramadlâni hadzihis sanati lillahi ta’ala”
Artinya: Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.
Dengan niat yang tulus, puasa menjadi ibadah yang bernilai di sisi Allah. Niat bukan sekadar lafaz, tetapi tekad dalam hati untuk menjalankan perintah-Nya.
3. Doa atau Niat Makan Sahur
Sahur adalah sunnah yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa dalam sahur terdapat keberkahan, meskipun hanya dengan seteguk air.
نَوَيْتُ بِأَكْلِ هَذَا طَعَامِ سُنَّةً سَحُوْرِ
“Nawaitu bi akli haadza tha’aami sunnatan sahuri.”
Artinya: “Aku niat makan makanan ini sebagai sunnah sahur”
Dengan niat ini, aktivitas makan sahur berubah menjadi ibadah yang bernilai pahala.
4. Doa Setelah Makan Sahur
Setelah makan, kita dianjurkan untuk bersyukur atas nikmat Allah SWT.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلْنَا مُسْلِمِينَ
Alhamdu lillāhilladzī ath‘amanā wa saqānā wa ja‘alanā muslimīn.
Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberi kami makan dan minum, dan menjadikan kami orang-orang Islam.” (HR. Abu Dawud & at-Tirmidzi)
Doa ini mengajarkan kita untuk menyadari bahwa nikmat makan, minum, dan iman adalah karunia terbesar dari Allah SWT.
5. Doa Ketika Berbuka
Berbuka puasa adalah waktu yang sangat istimewa. Selain sebagai momen kebahagiaan, ia juga menjadi saat dikabulkannya doa.
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘urūqu wa tsabatal ajru insyā Allāh.
Artinya: “Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah”. (HR. Abu Dawud)
Doa berbuka yang populer di Indonesia:
اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
“Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika aftartu birahmatikaya arhamarrahimin.”
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, denganMu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Catatan: apabila berbuka di rumah orang lain atau menghadiri undangan buka bersama, Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut:
Doa Ketika Berbuka di Rumah Orang Lain
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ
|”Afthara ‘indakumush shā’imūn, wa akala tho‘āmakumul abrār, wa shallat ‘alaikumul malā’ikah.”
“Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat.” (HR. Abu Dawud)
6. Doa Setelah Sholat Tarawih dan Sholat Witir
Setelah melaksanakan sholat Tarawih, umat Muslim dianjurkan membaca doa berikut:
اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِتْقَائِكَ مِنَ النَّارِ
“Allahumma aj’alna min ‘utaqa-ika min an-nar.”
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau bebaskan dari neraka.”
Doa Kamilin, Dibaca Sesudah Shalat Tarawih
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa ‘alâ sariirl karâmati qâ’idîn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.
Artinya, “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta)
Doa setelah Shalat Witir
Setelah melaksanakan salat witir, Rasulullah SAW membaca:
Bacaan pertama:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
Subḥānal malikil quddūs. (dibaca 3 kali)
Artinya: “Mahasuci Allah, Raja yang Maha Suci.” (HR. An-Nasā’i dan Ibnu As-Sunni)
Dilanjutkan denga doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Allāhumma innī a‘ūdzu bi riḍāka min sakhaṭika, wa a‘ūdzu bi mu‘āfātika min ‘uqūbatika, wa a‘ūdzu bika minka, lā uḥṣī tsanā’an ‘alaika, anta kamā ats-naita ‘alā nafsika.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (murka)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasā’i)
7. Doa Mendapatkan Malam Lailatul Qadar
Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam ini, pahala ibadah dilipatgandakan secara luar biasa.
اَلَّلهُمَّ ارْزُقْ نَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فىِ هَذِهِ السَّنَةِ وَ فىِ كُلِّ سَنَةٍ
“Allahummarzuqnaa lailatul qadri fii hadzihis sanati wa fi kulli sanatin.”
Artinya: “Ya Allah karuniakanlah kepada kami malam lailatul qadar pada tahun ini dan pada setiap tahun yang akan datang.”
8. Doa di Malam Lailatul Qadar dan 10 Hari Terakhir
Suatu ketika Aisyah RA bertanya kepada Nabi Muhammad SAW saat Ramadhan tiba, “Apa yang harus aku ucapkan, ya Rasulullah?” Beliau pun menjawab dengan doa yang singkat, tapi sarat makna. (Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabarani, Kitab ad-Du’aa)
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
‘An ‘Āisyata qālat: Qultu yā Rasūlallāh, ara’aita in ‘alimtu ayyu laylatin laylatul qadr mā aqūlu fīhā? Qāla: Qūlī:
Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul ‘afwa fa‘fu ‘annī.
Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami).” (HR. at-Tirmidzi)
Doa tambahan yang sangat baik diamalkan pada 10 hari terakhir:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا وَوَالِدَيْنَا وَعَنْ جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Allāhumma innā nas’aluka riḍāka wal-jannah, wa na‘ūdzu bika min sakhaṭika wan-nār.
Allāhumma innaka ‘afuwwun karīm, tuḥibbul ‘afwa fa‘fu ‘annā wa wālidaynā wa ‘an jamī‘il muslimīna wal muslimāti bi raḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn.
Artinya: “Ya Allah, kami memohon keridhaan-Mu dan surga-Mu. Kami berlindung dari kemurkaan-Mu dan api neraka. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun lagi Mahamulia, Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah kami, kedua orang tua kami, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.”
9. Doa Menjelang Akhir Ramadhan
أَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا
Allahumma laa taj’alhu akhiral ‘ahdi min shiyamana iyyah, fain ja’altahu faj’alnii marhuuman wa laa taj’alnii mahruuma
Artinya: “Ya Allah janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati bukan yang hampa semata.”
Dari bahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa doa adalah ruh ibadah di bulan Ramadhan. Dengan menghafal dan mengamalkan doa-doa di atas, insya Allah puasa kita akan semakin bermakna, penuh keikhlasan, dan mendapatkan keberkahan yang melimpah.
Selain memperbanyak doa, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan karena pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Aamiin.
#dirangkum dari berbagai sumber









