MUHASABAH : Refleksi dan Aksi

Muhasabah e1750880562564

Kemalasan adalah penyakit universal yang ada dan kerap menjangkiti setiap diri manusia, tanpa memandang staus sosial. Rasa malas jadi penghalang utama dalam meraih potensi terbaik diri guna mengabdi kepada Sang Pencipta. Namun, sudahkah kita merenungkan betapa kontrasnya sifat malas ini dengan Allah swt yang Maha Fa’’al (Maha Bekerja) dan Maha Bertanggung Jawan atas ciptaanNya?

Salah satu hal yang harus diingat, ketika rasa malai mulai merangkul, ingatlah bahwa Allah tidak pernah berhenti berkarya. Ia senantiasa mengatur dan menjaga semesta dengan sempurna. Dari sifatNya yang agung ini, kita bisa belajar dan mengambil hikmah.

Ada pun salah satu metode spiritual untuk mengendalikan kemalasan itu dengan berdialog bersama Allah melalui pengulangan asmaNya, “Yaa Fa’’al”, dengan cara menyebutnya berulang kali (dawam), sesuai kemampuan hati, tentu saja kita berharap getaran energi positif dari sifat Maha Bekerja itu meresap ke dalam diri (hati, pikir dan rasa), guna membangkitkan semangat yang yang mampu menghilangkan segenap belenggu dari rasa malas itu sendiri,

Maka dari itu, tidak ada salahnya pula, kita belajar berdialog dengan diri sendiri; mengajak nafsu untuk berdiskusi secara mendalam dengan saksinya nurani. Renungknalah:

“Wahai nafsuku, setelah mati nanti, tak ada lagi kesempatan untuk beramal baik atau memperbaiki kesalahan. Justru yang tersisa hanyalah nilai dari setiap perbuatanmu di dunia. Maka, apakah engkau menginginkan siksaan Allah ataukah kasih-sayang, ampunan, dan ridhaNya?”

“Jika pilihanmu adalah kasih-sayang, ampunan, dan ridhaNya, patutkah dirimu terus bermalas-malasan? Padahal, Allah mencintai hambaNya yang tekun mengabdi dan berusaha.”

Di sisi lain, seringkali kita merawat cita-cita dan harapan tinggi: rezeki melimpah, kesehatan prima, umur panjang, dan kenikmatan hidup lainnya, guna dapat memberikan manfaat lebih bagi sesama. Namun, ironisnya, laku diri kita tidak memiliki semangat sedikit pun untuk melangkah di jalan yang akan membuat Allah bermurah hati dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Bukankah laku diri seperti itu sebagai rupa dari kekonyolan itu sendiri?

Tidakkah kita merasa malu dengan segala bentuk kasih-sayang Allah yang senantiasa memberi tanpa diminta, sementara rasa syukur kita seringkali hanya sebatas obrolan belaka? Sementara, Allah telah mengaruniai manusia dengan status Ahsanu At Taqwim, sebaik-baik bentuk ciptaan.

Namun, banyak dari kita yang menyia-nyiakannya, sehingga martabat kita justru jauh lebih hina dari hewan. Kehinaan ini yang disebut Asfala as Saafiliin, adalah akibat dari keangkuhan dan kesombongan kita. Dan akar dari semua ini hanyalah satu, yaitu; terus-menerus menyuburkan rasa malas dalam diri.

Malas bertaubat, malas beribadah, malas berpikir, malas berterima kasih, dan malas-malas dalam segala hal. Kemalasan adalah pangkal dari keterpurukan. Mari kita renungkan kembai makna hidup dan bangkit dari segenap belenggu kemalasan, demi meraih martabat yang sesungguhnya di sisi Allah swt.

Bukankah kita diturunkan ke bumi itu salah-satunya untuk membaca? Bukankah membaca itu tak bisa dilakukan—kala rasa malas masih meraja dalam laku diri kita? [ihfa]

20 Maret 2024

KERENDAHAN HATI
Baca Tulisan Lain

KERENDAHAN HATI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *