“Hajat Rakyat”

ref

Refleksi Kemerdekaan – Tirakat Evaluasi Diri
Di balik euforia tentu ada hal-hal intim di dalam lubuk hati masing-masing diri kita. Ada perang bathin tentang perbaikan diri. Ada tembakan gejala tentang pengendalian diri. Ada darah mengalir tentang kesungguhan diri.

Ada yang gugur tentang tumbuh subur pembaharuan diri. Ada bom waktu keadaan tentang pertaubatan dan kerendahan diri sujud kepadaNya. Ada yang Maha Ada yang tidak pernah tiada, meskipun kita sering berlaku melampaui batas pengadaan diri.

Sehingga Ia sering kita tiadakan eksistensiNya di dalam napas kehidupan kita sehari-hari.

Refleksi kemerdekaan – Tirakat Pengadilan
Refleksi Kemerdekaan, perkuat kesadaran pikiran dan tindakan Iman dan Ketaqwaan.

—Pahami keterbatasan Diri menjadi Ahli Dalam Pengendalian Diri—
—Surat Ar Ra’du Ayat 11 : Innallaha laa yughoyyiruma Bi qoumin Hatta Yughoyyiruma Bi Anfusihim.
—Sabda Rasulullah :
“إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم، وأعمالكم”. وفي رواية: “إن الله لا ينظر إلى أجسادكم، ولا إلى صوركم، ولكن ينظر إلى قلوبكم

1. Ilmu dasar dari merdeka adalah ilmu tentang batas. (manusia tidak bisa mengontrol metabolisme tubuhnya sendiri, tidak bisa menjadwal kapan ia kentut dan tidak. Manusia banyak tidak tahu ketimbang tahunya).

—Ilmu tentang batas mengantarkan pada pengendalian diri. Ukuran—indikator manusia dalam menilai sesuatu itu apa?

2. Innallaha laa Yuhhibul Mufsidhin ( Sungguh Allah tidak menyukai, tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas ). Orang merdeka adalah orang yang mengerti tentang batas sehingga ia mampu mengendalikan dirinya supaya tidak melampaui batas.

3. Belajar memilah dengan tepat antara keinginan dengan kebutuhan disetiap hal. Keinginan dominannya berasal dari nafsyu dan hanya untuk individu sedangkan kebutuhan dari ilmu dan berefek baik, bermutu dan bermanfaat untuk yang lainnya. Mana yang Primer mana yang sekunder. Mana Ghoyyah mana Washilah.

Tatagenan hirup urang nu primer Ka Saha? Siapakah pemilik saham kehidupan kita ini? Profesor, Guru Besar Akademik kah dengan kejeniusannya, Konglomerat kah dengan materialnya, Pejabat kah dengan jabatannya ataukah Allah dengan Rahman Rahim-Nya?

—Ada sesuatu hal yang penting dan mendesak
—Ada sesuatu hal yang penting dan tidak mendesak
—Ada sesuatu hal yang Tidak Penting tapi mendesak
—Ada sesuatu hal yang tidak penting dan tidak mendesak
—Ada manusia wajib, sunat, makruh, haram
—Ada manusia syahadat : senantiasa aktif koneksi penyaksian kehadiran Allah di setiap keadaan.
—Ada manusia sholat ; Manusia Sadar Posisi, dia itu siapa dan selayaknya harus bagaimana? Makhluk – insan – ‘Abdun – Khalifah. Jabatan tertinggi seorang manusia adalah menjadi hamba-Nya.
—Ada manusia Puasa ; Manusia yang mengerti dan ahli dalam mengendalikan diri. Kapan harus ngegas kapan harus ngerem.
—Ada manusia Zakat ; manusia yang tidak tertaut dan berat hatinya kepada materi
—Ada manusia Haji ; manusia yang paripurna, totalitas konsistensi penghambaannya

4. Notifikasi BRI selalu kita nanti ketimbang notifikasi dari Ilahi Rabbi. Embrio Masalah itu berasal dari dalam diri kita bukan yang di luar diri kita. Yaitu tergantung dari bagaimana respon kita terhadap sesuatu yang kita jumpai atau kita alami? Apakah sabar atau aral? Apakah syukur atau kufur?

Kalau cara merespon kita sudah terlatih dan menjadi dewasa, maka sabar dan syukur itu menjadi sebuah pasangan yang selalu dihadirkan di setiap keadaan.

Kita butuh kabar dari Allah, sebab Sangkan Paran ilmu pengetahuan kita sering diliputi oleh kegelapan pengetahuan kita sendiri.

5. Konsep Halalan Thoyyiban ; Makanan Fisik, Pikir dan Psikis. Halal dan menyehatkan.

6. Orientasi Pelayanan selaku pegawai kementerian agama ; Rabbunnas – Malikunnas – Ilahunnas Melayani sepenuh hati – Terbangun ingatan dan kekuatan di hati orang – Harumnya Citra Diri (wangi – Siliwangi). Bukan sebaliknya ; menyebar informasi untuk citra diri untuk menguasai dan mengendalikan orang lain sehingga tidak sampai pada melayani.

7. Fokus penilaian Allah itu terletak pada apa yang tertanam di hati dan perbuatannya bukan pada bentuk rupa ( cantik, ganteng, tinggi besar, pangkat jabatan meningkat ) dan bukan pada harta benda. Ini menjadi pola bagi kita untuk latihan sadar diri, pengendalian diri dan ketepatan orientasi.

8. Konsep Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofur. Titik tekannya pada Rabbun Ghofur dulu sehingga akibatnya adalah Baldatun Thoyyibatun.

9. Husnun Niat – Husnu Taqorrubi – Husnudhon. Niat Baik, Tata Cara Baik, Pola Pikir Baik.

—Demokrasi Allah untuk manusia ; Allah memberi kedaulatan kepada manusia dalam menentukan dan memutuskan di wilayah hati dan pikirannya.
—Manusia diberi kedaulatan atas hidupnya ini pada dua dimensi yakni Dimensi Keyakinan dan Harapan, jangan sampai memaksa masuk pada dimensi kepastian sebab dimensi kepastian itu mutlak hak Allah.
Melak Sugan Di Taneuh Meureun dicebor ku mudah-mudahan Nu Hasilna Boa Teuing. “inni Kuntu ‘Inds Dhonni Abdibii”.

10. Konsep Rezeki dari Allah ;

—Transaksional ; Kasab Ikhtiar material manusia.
—Interaksi Sosial ; Menolong, membantu, membahagiakan
—Mahiwal : Min Haitsu Laa Yahtasib

Konsep Barokah ada pada uluk salam sehari-hari Ummat Islam : Salam – Rahmat – Barokah ( Ke semua skema tiga diatas adalah bentuk kesatuan bulatan). []

penyusun Ihsan Farhanuddin ‘2024 


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *