ANDAI SAJA

akhlaq

Banyak dari kita lebih rajin menuntut orang lain agar menjadi sosok yang ideal. Tapi sangat sedikit yang mau menuntut dirinya sendiri.

Di rumah tangga, misalnya, seorang Istri lebih banyak menuntut suaminya untuk berperilaku seperti nabi, bagaimana sosok nabi menjadi suami yang baik. Si istri juga lebih banyak membaca buku-buku atau konten-konten yang membahas perihal “kiat-kiat menjadi suami ideal”, yang tujuannya tiada lain dan tiada bukan untuk menyudutkan suaminya.

Begitupun sebaliknya, suami banyak menuntut istrinya untuk berperilaku seperti wanita-wanita terbaik, bagaimana akhlak dan kepribadian Khadijah saat menjadi istri baginda nabi SAW. Sang suami juga lebih rajin membaca buku dan konten-konten yang membahas kiat-kiat menjadi istri sholehah, yang tujuannya untuk menyudutkan istrinya.

Hal ini juga terjadi di dunia pendidikan. Seperti seorang guru lebih banyak menuntut murid atau para wali murid agar lebih beradab dan menghargai dirinya seperti apa yang disampaikan dalam ta’limul-muta’allim, tapi ia tidak mau memperbaiki diri dan mengevaluasi dirinya sendiri agar menjadi guru yang layak, kompeten, dan patut dicontoh.

Begitu pun sebaliknya, murid dan wali murid lebih banyak menuntut gurunya agar menjadi guru yang layak dicontoh, beradab, dan sesuai dengan apa yang disampaikan dalam ihya’ ulumiddin, dan menjauhi sifat-sifat para ulama suu’ dan tidak menjual ilmu demi kekayaan duniawi, tapi mereka tidak mau berterima kasih dan mengakui jasa para guru sama sekali.

Hal seperti ini juga bahkan terjadi di ranah yang lebih luas di masyarakat, seperti dalam hubungan antara rakyat dan pemimpin.

Para pemimpin, pemerintah, dan para pemangku jabatan lebih banyak menuntut rakyatnya agar menjadi rakyat yang baik, agar menjadi masyarakat yang mudah diatur, mau bekerja, tertib, dan lainnya, tapi mereka sendiri tidak sadar pada tanggung jawab besar yang mereka miliki, mereka juga tak bisa membuat sistem atau kebijakan yang baik.

Pun sebaliknya, masyarakat dan rakyat lebih banyak menuntut para pemimpin dan pemerintahnya agar menjadi para pemimpin yang adil, yang peduli pada masyarakat miskin, dan lainnya, tapi mereka sendiri tidak mau memperbaiki mental, kepribadian, karakter, dan lainnya untuk menjadi masyarakat yang lebih baik dan berkualitas.

Akhirnya, kebiasaan saling menuntut pihak lain seperti ini menjadi karakter yang bukan memperbaiki keadaan, tapi malah membuat semua keadaan semakin memburuk.

Andai kita semua dapat ikhlas dalam menuntut diri sendiri, dan andai kita dapat ikhlas dan sadar pada tugas kita masing-masing: istri ikhlas untuk mematutkan diri menjadi istri yang lebih baik. Suami ikhlas mematutkan diri menjadi suami yang lebih baik dan bertanggung jawab. Guru ikhlas meng-upgrade kualitas, adab, dan tanggung jawabnya.

Murid dan wali murid ikhlas menghormati, mengakui, dan menghargai jasa para guru. Pemimpin ikhlas melaksanakan tugas dan membantu rakyatnya. Rakyat dan masyarakat ikhlas memperbaiki dirinya untuk menjadi masyarakat yang lebih baik dan berkualitas. Kiranya, kita tidak akan berlama-lama larut dalam kebiasaan saling menyalahkan.

Andai saja semua ikhkas dan sadar pada tugas dan bertanggung jawab pada kewajiban masing-masing tentu saat ini kita sudah ada pada keadaan yang lebih baik. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *