Tulisan ini untuk mengenang Papap, sosok ayah yang sangat berjasa bagi kami, kelima anak-anaknya.
Latar Belakang
Di balik setiap tradisi yang bertahan lama, selalu ada cerita manusia yang sederhana. Bukan cerita yang dibuat untuk buku sejarah, melainkan kisah tentang rasa ingin tahu, ketekunan, dan sedikit keberanian untuk mencoba hal baru. Begitu pula dengan lahirnya istilah ARUMBA, yang hari ini akrab di telinga banyak orang sebagai bentuk ensambel musik bambu dari tanah Pasundan.
ARUMBA lahir dari pengalaman sehari-hari seorang anak muda kelahiran Ciparay Garut yang menetap di desa kecil bernama Manonjaya, Tasikmalaya pada awal 1964. Nama lengkapnya Raden Joes Roesadi Poerawinata (baca Yus Rusadi Purawinata). Di lingkungan keluarga, kami anak-anaknya memanggil Papap.
Bagi banyak pecinta musik bambu, ia adalah salah satu pelestari budaya Angklung sekaligus sosok yang memperkenalkan istilah ARUMBA yang kita kenal hingga sekarang. Namun kisahnya bermula dari sesuatu yang
sangat sederhana, yaitu rasa penasaran seorang anak muda terhadap bunyi bambu.
Pada awal 1960-an, Joes muda pernah menyaksikan pertunjukan pandu atau pramuka di wilayah Tasikmalaya. Di sana, puluhan anak memainkan angklung secara bersama-sama. Pertunjukan itu dipimpin oleh tokoh angklung terkenal, Daeng Soetigna, yang saat itu sudah memperkenalkan angklung dengan tangga nada diatonis.
Suasana meriah. Angklung dimainkan massal, ritmis, dan kompak. Tapi di tengah keramaian itu, Joes muda justru memikirkan sesuatu yang berbeda. Bagaimana jika satu set angklung dimainkan oleh satu orang saja? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dalam kacamata filsafat kreativitas, justru pertanyaan semacam itulah yang sering melahirkan gagasan baru. Ia melihat sesuatu yang sudah ada, lalu membayangkan kemungkinan lain.
Kesempatan tersebut ternyata datang dari rumahnya sendiri. Ibunya, Ros Yatmikasari, seorang penilik sekolah saat itu, suatu hari membeli satu set angklung untuk keperluan sekolah. Set itu hanya terdiri dari nada dasar: C, D, E, F, G, A, B. Angklung itu kemudian disimpan di rumah mereka di Manondjaja (baca Manonjaya). Di situlah eksperimen kecil dimulai.
Joes muda mencoba memainkan lagu-lagu sederhana seorang diri. Awalnya tentu tidak mudah. Angklung pada dasarnya dirancang untuk dimainkan banyak orang. Tetapi justru di situlah tantangannya.
Hari demi hari ia berlatih memainkannya. Tidak ada guru khusus, tidak ada metode tertulis. Yang ada hanya telinga, kesabaran, dan rasa cinta yang perlahan tumbuh. Lama-kelamaan ia jatuh hati pada bunyi bambu itu. Pada masa itu hampir tidak ada hari tanpa suara angklung di rumahnya.
Dalam perspektif sosiologi hukum budaya, kebiasaan seperti ini sering menjadi akar lahirnya praktik budaya baru. Hukum formal mungkin belum mengaturnya, tetapi masyarakat lebih dulu menerimanya melalui pengalaman bersama.
Ketika berusia sekitar 20 tahun, Joes bertemu dengan seorang guru wanita bernama Sukestie Juhana. Dua tahun kemudian mereka menikah. Kehidupan berjalan sederhana, tetapi musik bambu tetap menjadi bagian penting dari hari-hari mereka.
Perlahan nama Joes mulai dikenal di kampung-kampung. Ia sering diundang untuk tampil dalam acara hajatan warga atau perayaan 17 Agustus. Angklung yang ia mainkan seorang diri menjadi tontonan yang
unik. Orang-orang penasaran sekaligus terhibur. Seni, pada akhirnya, memang hidup dari masyarakat.
Inovasi Lahir dari Rasa Cinta terhadap Angklung
Cinta pada bunyi bambu ternyata tidak berhenti pada satu penemuan kecil. Setelah terbiasa memainkan angklung seorang diri sejak awal 1960-an, Joes mulai merasakan satu hal, bahwa melodi saja tidak cukup. Sebuah lagu butuh ruang, butuh napas, butuh teman untuk berjalan bersama. Dari situlah pikirannya mulai bergerak. Jika satu orang bisa memainkan melodi dengan angklung, lalu siapa yang mengiringinya?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi di dalamnya ada semacam refleksi filsafat tentang harmoni. Dalam musik, seperti juga dalam kehidupan sosial, suara yang indah sering muncul ketika beberapa unsur saling mengisi. Tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri.
Maka Joes mulai bereksperimen, minta dibuatkan angklung pengiring yang sangat sederhana kepada mang Rahmat, pengrajin angklung saat itu. Hanya dua akord saja. Akord C terdiri dari nada C dan E, sedangkan akord G terdiri dari nada D dan G. Tidak rumit, bahkan bisa dibilang sangat dasar. Tetapi bagi Joes, itu sudah cukup untuk mengiringi beberapa lagu rakyat dan lagu-lagu ringan yang sering dimainkan dalam acara kampung. Angklung tidak lagi hanya berbunyi sebagai melodi. Ia mulai memiliki lapisan.
Dari sudut pandang sosiologi budaya, langkah kecil ini menarik. Banyak inovasi lahir bukan dari laboratorium, tetapi dari kebutuhan praktis. Joes hanya ingin lagunya terasa lebih “hidup”. Namun tanpa disadari, ia sedang membuka jalan bagi bentuk ensambel bambu yang lebih kompleks. Hingga perjalanan itu kemudian membawanya ke Jakarta.
Suatu ketika, Joes mendapat tawaran untuk tampil dalam acara malam penggalangan dana pembangunan sebuah sekolah dasar. Acara itu digelar di Hotel Indonesia, tempat yang pada masa itu menjadi simbol kemajuan dan pertemuan berbagai kalangan.
Bagi seorang pemusik dari desa kecil Manonjaya, tampil di sana tentu pengalaman yang berbeda. Lampu lebih terang, penonton lebih beragam, dan suasana terasa lebih kosmopolitan.
Pertunjukan selesai dengan baik. Tetapi kejutan sebenarnya datang setelah acara berakhir. Ketua pelaksana penggalangan dana, mengajaknya naik ke sebuah tempat hiburan di lantai atas hotel, Nirwana Club. Di sana malam itu
tampil seorang penyanyi jazz terkenal Indonesia, Bill Saragih. Joes duduk menonton.
Musiknya berbeda dari angklung yang ia kenal. Ada piano, drum, dan satu alat yang menarik perhatiannya: vibraphone. Bilah-bilah logamnya berkilau di bawah lampu, dan setiap pukulan menghasilkan suara yang lembut sekaligus bergetar panjang.
Saat itulah pikirannya kembali mengembara. Bagaimana jika vibraphone dibuat dari bambu? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Ia bahkan sempat melamun cukup lama sambil menonton pertunjukan. Dalam pikirannya, bambu tidak hanya bisa digoyang seperti angklung. Ia juga bisa dipukul, menghasilkan nada seperti vibraphone, dan jika vibraphone bisa dibuat dari bambu, mengapa tidak sekalian membuat bass dari bambu? Begitulah cara kerja imajinasi. Satu ide memancing ide lain.
Sepulang dari Jakarta ke Manonjaya, Joes tidak menunda terlalu lama. Ia langsung memesan alat baru secara kromatis kepada pengrajin angklung. Angklung dan vibrabu masing-masing 2⅟₂ oktaf (nada dimulai dari G), bass bambu 1 oktaf. Vibraphone versi bambu mulai dibuat. Bilah-bilahnya diganti dengan bambu yang disusun layaknya vibraphone. Alat itu kemudian dinamakan vibrabu, yang kemudian juga dikenal sebagai calung dalam bentuk panggungnya.
Namun tantangan sebenarnya muncul saat membuat bass bambu. Para pengrajin angklung sempat kebingungan. Untuk menghasilkan nada bass, dibutuhkan bilah bambu yang diameter lingkarannya jauh lebih besar dan kuat. Tidak semua bambu cocok, dan proses pembuatannya jauh lebih rumit dibandingkan angklung biasa. Butuh beberapa kali percobaan.
Akhirnya, bass bambu itu pun selesai. Angklung pengiring menjadi 3 akord: C, F, dan G. Baru kemudian sekitar tahun 1970 anklung pengiring diubah menjadi kromatis.
Ketika semua alat sudah siap, Joes tidak berjalan sendirian. Ia mengajak adiknya (Yoyo Bagio, duduk kiri), adik iparnya (Toersiman Lidrapraja, duduk kanan), serta seseorang dari Lingga Binangkit Tasikmalaya, bernama
Kurnia (atas kanan) untuk ikut bermain. Dari ruang keluarga yang sederhana, perlahan terbentuk sebuah kelompok kecil musik bambu.
Barangkali saat itu mereka belum menyadari sepenuhnya apa yang sedang mereka bangun. Namun dari eksperimen sederhana di Manonjaya itulah, satu demi satu unsur musik bambu modern mulai lahir. Sebuah perjalanan kreatif tahun 1964, yang awalnya bernama ARUBA (Alunan RUmpun BAmbu), kelak dikenal dengan satu nama yang akrab di telinga banyak orang, ARUMBA (Alunan RUMpun BAmbu).
Lalu datang sebuah peristiwa yang mengubah arah perjalanan itu. Tanggal 4 Agustus 1965, bertepatan dengan kelahiran adik perempuan pertama penulis, seorang tamu dari Jakarta datang ke Manonjaya dan membawa kabar yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia mengatakan bahwa Pa Joes diminta datang ke Jakarta untuk menampilkan pertunjukan angklung di Istana Negara, atas perintah Presiden Soekarno. Maka Papap memberi nama Arubadewi pada adik penulis.
Setelah pengalaman yang tidak terlupakan ketika dipanggil tampil di Istana Negara oleh Presiden Soekarno, perjalanan kreatif Raden Joes Roesadi Poerawinata tidak berhenti begitu saja. Justru dari sana, langkahnya masuk ke ruang yang lebih luas. Sekitar awal 1970-an, Joes mulai sering berada di Jakarta dan mendapat kesempatan tampil secara rutin di beberapa tempat hiburan dan restoran yang cukup dikenal pada masa itu. Beberapa di antaranya adalah Oasis Restaurant, Latin Quarter Restaurant, dan Bamboo Den Restaurant milik Bleszynski. Tempat-tempat ini menjadi ruang pertemuan yang menarik antara budaya lokal dan selera musik kota besar.
Tantangan Baru Muncul
Pengunjung restoran datang dari latar belakang yang beragam, dan rata- rata orang asing. Ada yang ingin mendengar lagu daerah, ada yang meminta lagu populer, bahkan kadang lagu-lagu Barat yang sedang dikenal saat itu. Angklung dan alat-alat bambu yang sebelumnya dimainkan dalam suasana kampung, kini harus berdialog dengan selera musik yang lebih luas. Joes tidak melihat itu sebagai hambatan. Ia justru melihatnya sebagai kesempatan.
Dalam perspektif filsafat kreativitas, seni selalu hidup ketika ia bersedia beradaptasi tanpa kehilangan akar. Maka perlahan ia mulai menambahkan unsur baru dalam kelompok musik bambunya. Bukan untuk meninggalkan identitas bambu, tetapi untuk memberi warna yang lebih kaya.
Mulailah hadir alat-alat perkusi lainnya. Ada conga, bongo, tambourine, hingga reco-reco. Instrumen-instrumen ini memberi ritme yang lebih hidup, menciptakan suasana yang lebih mengalir, atau dalam istilah para musisi: groove. Ketika bambu bertemu dengan perkusi Latin, suasana
musik berubah menjadi lebih dinamis.
Seiring waktu berjalan, beberapa penyesuaian lain juga dilakukan. Peran bass bambu yang dulu menjadi fondasi irama perlahan digantikan oleh bass kolintang, kemudian electric bass, yang lebih stabil untuk kebutuhan memainkan berbagai
macam irama. Begitu pula dengan perkusi. Conga yang semula menjadi penggerak ritme akhirnya dipadukan dengan drum, menciptakan struktur musik yang lebih kuat.
Di sinilah menariknya perjalanan ARUBA, yang kelak dikenal dengan satu nama yang akrab di telinga banyak orang, ARUMBA Bamboo Band. Di mana hal tersebut tidak lahir dari teori
musik yang rumit, tetapi dari perjumpaan sosial. Dari permintaan pengunjung, dari percakapan antar musisi, dari ruang-ruang makan dan panggung kecil yang dipenuhi suara manusia.
Menurut sosiologi hukum, proses budaya seperti ini sering disebut sebagai “legitimasi sosial”. Sebuah bentuk seni tidak perlu menunggu pengakuan resmi. Ketika masyarakat menikmati, memanggil, dan terus memintanya hadir, di situlah ia menemukan tempatnya.
Dan bagi Joes, setiap permintaan lagu merupakan satu pelajaran baru tentang bagaimana bambu bisa terus berbunyi mengikuti zaman. Dari sebuah rumah sederhana di Manonjaya, bunyi bambu itu akhirnya berjalan menuju panggung yang lebih besar. Dari perjalanan panjang itulah, kelak lahir sebuah istilah yang sederhana tetapi bersejarah, ARUBA (Alunan RUmpun BAmbu), menjadi ARUMBA (Alunan RUMpun BAmbu).


