Kiranya kita mesti sering melatih telinga untuk mendengar siapa pun, sebab mutiara hikmah selalu tersajikan di setiap bilik kehidupan.
Zaman semakin maju di era teknologi industri, manusia semakin cepat memicu langkahnya, keras semangatnya dan besar pencapaian hidupnya.
Teknologi menjadi alat yang didambakan dalam kehidupan manusia abad ini. Manusia bisa mengakses apapun yang ia inginkan dengan mudah dan cepat.
Saat ini, manusia dan teknologi ibarat suami istri. Satu sama lain saling membutuhkan dan membantu. Seberapa pentingkah teknologi dalam hasrat kehidupan manusia?
Belajar pada touch screen android. Hanya sentuhan jari, ia langsung beroperasi dengan cepat dan tepat sesuai apa yang diinginkan manusia. Membuat senang manusia dengan kinerja pelayanannya.
Ini soal kepekaan! Kepekaan layar android saja mampu melayani dengan cepat, tepat, dan menyenangkan. Lantas kenapa kita selaku manusia yang menggaulinya berbanding terbalik dengan kepekaan hati kita sendiri? Ketepatan berpikir kita yang banyak diluar batas kemanusiaan.
Kita semakin jadi makhluk yang mudah tersinggung, dendam, amarah dan penuh kebencian. Kalau lah si android ini bisa bicara, mungkin sangat keras terdengar suara tawa ejekannya, mengejek kita yang katanya makhluk spesial yang Tuhan ciptakan.
Kiranya, kita sebagai penghuni zaman akhir ini haruslah merenungkan kembali sebuah ungkapan “Bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dalam bentuk berpasangan, dari ‘laki laki dan ‘perempuan’, bersuku bangsa, supaya saling mengenal satu sama lain.”
Ini soal potensi dasar psikologis yang ada dalam setiap diri manusia. Masing-masing manusia dititipi unsur maskulin atau kelelakiannya, seperti keras, tegas dan semangat dan unsur feminisme atau keperempuanan seperti kelembutan.
Meskipun secara fitrah jasadiyah, lelaki dominannya adalah hal pikiran, adapun perempuan dominan potensinya adalah psikis, rasa, kesensitifan. Hikmah nya, kita dengan jenis kelamin yang berbeda itu harus bisa melengkapi satu sama lainnya.
Jika kita menghadapi seorang perempuan (istri) yang sedang punya masalah, sedang cemberut, maka sikapi dengan rasa dan kelembutanmu bukan akalmu. Pun sebaliknya, jika kita sedang menghadapi laki laki (suami) yang sedang bermasalah, maka layani, sikapi ia dengan akal bukan rasa. Pastilah akan ditemukan keseimbangan karena kita sudah saling mengenal dan memahami (Lita’aarafu).
Cinta tidak mengenal indikator nilai-nilai nominal ataupun material. Melainkan ketulusan yang tak ternilai. Bukan melihat cantik ganteng, pandai atau kaya raya nya, melainkan akhlak dan kepribadian dari dalam dirinya.
Kekerasan yang terjadi di manapun, bukan hanya kepada anak-anak dan perempuan saja, melainkan semua aspek manusia. Terjadi karena minimalnya dua hal: pertama, sensitifisme, dan kedua, kedangkalan berpikir, satu sama lain.
Keras itu penting bagi hubungan intim persuamiistrian, kalau tidak keras maka tidak akan ada regenerasi selanjutnya.
Jadi soal keras dengan lembut itu soal positioning, soal presisi. Kapan harus keras kapan harus lembut. Dan mengapa harus keras mengapa harus lembut?
Menyikapi problematika kekerasan abad ini, perlulah kita meletakan kesadaran dan cara pandang yang tepat, jangan terjebak oleh birahi salah benar siapa atau baik buruknya siapa. Melainkan apa yang benar atau salahnya, apa yang baik atau buruknya. Sehingga kita bisa mengambil makna keindahan, yaitu hikmah-kebijaksanaan. Itu cara pandang birruhi, bukan birahi.
RUU soal kekerasan seksual dan apapun itu, apakah dirumuskan dengan cara pandang birruhi (melibatkan Allah dan kepekaan bathin asas kemanusiaan) atau hanya birahi saja karena sangat seksi soal ampawnya?
Ah soal itu, kita saja yang harus bisa berjuang secara personalitas maupun komunalitas dalam mengendalikan diri, menjadi subjek subjek penyeimbang keadaan sosial, cara berpikir yang meluas dan mendalam dan terus menebarkan kebaikan terhadap siapapun.
Kalaulah fitnah akhir zaman itu adalah perempuan dan anak-anak, maka jaga istri dan anak kita dalam konteks keluarga dan lebih pentingnya, personalitas kita yang harus mampu mengendalikan kesensitifan jiwa agar tidak mudah tersinggung dan berpikir panjang, siglikal tidak berpikir pendek! [Ihfa,2018]









