Surga Tidak Ada di Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Surga Tidak Ada di Telapak Kaki Ibu Pertiwi e1750314424380

Begitu banyak cara manusa berjalan menemui kegembiraan dan kebahagiaan dengan caranya masing-masing, seperti aku dengan cara melingkar dengan sedulur-sedulur Maiyah, yang terkadang sulit di pahami namun bisa di rasakan, meskipun seringkali aku menjumpai kesunyian dalam hal menyampaikan kesemestian semesta raya kepada sesama, pesan yang tak jelas dan seolah-olah datang dari mana entah antah berantah, yang kadang aku sendiri kesulitan mengartikan dan menemukan jalan kedaulatan berpikir dan berkedaulatan dalam bertindak selayaknya manusia yang katanya makhluk istimewa yang seharusnya istimewa pula dalam menelurkan kebijaksanaan.

Sependek pengetahuanku yang bersumber dari kebodohanku bahwasanya Maiyah itu lelaku yang berlandaskan “Eling Lan Waspodo” dalam segala hal, salah satu yang musti aku waspadai adalah akhir-akhir ini kehidupan selalu saja di benturkan dengan kasunyatan hidup di lingkungan terkecil hingga lingkungan bernegara bahkan sampai beragama pun terkadang aku temui ketidak Warasan, lagi-lagi urusan isi perut dan Sosialita Lieur yang Liar, seolah meraka tersingkirkan jika tidak ikut menikmati budaya syahwat kesepakatan, yang hanya berpedoman pada pandangan mata; semata saja dan itu sudah mengakar kuat, terus tumbuh, tumbuh dan tumbuh melebihi budaya, karakter bahkan jadi DNA, repotnya mau digimanakan juga kalau sudah menDNA itu sangat sulit menemukan cara untuk menyelesaikan permasalahan-permasalah yang memang itu bukan masalah buat mereka, dan khayalnya lagi, mereka sadar dan tau kalau itu memang salah, gampang kok itu!

Mereka taunya Tuhan Maha Pemaaf, apalagi mereka punya do’a Khusus yang sangat ampuh dan turun-temurun, nantinya Tuhan akan memaklumi dan memaafkan dengan bertaubat pada waktunya, nunggu tua dulu baru bertaubat dengan Taubatannashuha sebelum sakarotul maut. Di situ aku dengan segala kebodohanku coba menerka jangan-jangan Tuhan kita tidak sama, atau lebih menariknya lagi mereka tinggal nunjuk ke pendahulu mereka yang sebelumnya juga begitu dan pantas kalau sekarang terjadi otomatisasi perilaku dan lain sebagainya, jadi jangan salahkan kami kalau begini.

Masuuuuk to ideku…

Tidak sampai disitu saja, fakta nyata penuh tanya pergeseran-pergeseran nilai, akhlak, adab saparakanca yang tidak mungkin ujug-ujug muncul begitu saja ditatanan kehidupan, Etika, Budaya, Sejarah bernegara dan beragama. Saya yakin ada kesengajaan yang terencana dan sangat Masif merangsek memaksa masuk ke dalam otak setiap Individu dari balita sampai tuapun sedang terjadi.

Paksaan yang nantinya akan berujung pada ketersiksaan, kita di paksa lupa akan SEJARAH LELUHUR kita, Lupa BUDAYA kita, Lupa Jatidiri NUSANTARA, Lupa ber-AGAMA. Sejarah kita yang mungkin saja banyak direkayasa, dan kita sepakati saja kalau itu memang IYA !!!.

MUSTAHIL Nusantara Raya bisa jadi Digdaya,

Mustahil di bawah telapak kaki Ibu Pertiwi ada Surga, Sumber alam yang terus di Rudrapaksa oleh saudara kandung sendiri. Sedulur-sedulurku yang semoga bisa menghentikan kehinaan yang mengasyikan yang sungguh ini merusak bangunan kepercayaan alam semesta raya, ingat lah bahwa Bumi yang kita injak ini adalah Kakak Kandungmu sendiri: Hormati dia jaga dia, anak cucumulah yang menikmati karyamu saat ini []

Sumedang Juni 2025

Jas Merah; Pak Harto
Baca Tulisan Lain

Jas Merah; Pak Harto


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *