HAI MATA HATIKU

HAI MATA HATIKU

Dalam hal meng Up kepercayaan diri tidak sedikit Orang-orang termasuk saya dan mungkin anda salah satunya, yang menyebut bahwa aku adalah Nasabnya ini atau pun itu, dan kalimat itu sering terucap sebagai pembuka acap kali terjadi bertukar omongan atau diskusi ataupun nggedebus, supaya apa ? saya sendiri terkadang bingung sendiri menyikapinya, kebingunganku pun terus tersemai dalam hati yang mengkin semaian itu akan subur atau pun tidak bahkan malah merusak kebun yang tidak tau apa-apa.

Bangga kah??!! Iya bangga

Namun juga muak akan hal semacam itu,apalagi jika melihat diri kita ternyata ga bisa apa-apa meskipun ketika kita keturunan Dewa sekali pun.

Namun hal itu juga ternyata di dalam bersilat lidah itu perlu karena akan ada manusia yang akan silau terhadap hal itu.

Saking silaunya sampai mata pun mulai merabun tidak bisa melihat mana itu warna kesungguhan atau warna kebohongan, kita semua mulai memelihara penyakit rabun mata hati, sulit melihat kerusakan-kerusakan, sulit melihat kerakusan-kerakusan, sulit untuk melihat kerasukan-kerasukan bergiga-giga bite tontonan yang acap kali menjadi tuntunan.

Kembali bicara Nasab sebagai penentu nasib, bagi segelintir Manusia pantaslah bersyukur jika ia punya garis turunan yang memang termasyhur, namun juga beresiko tersungkur jika mereka tidak bisa melebarkan kebermanfaatannya secara lebih dan lebih berkualitas lagi, serta mampu melihat kenyataan bahwa semua manusia tanpa embel-embel nasab bisa menjadi lebih bermanfaat untuk sesama dan sudah cukup bisa menggambarkan betapa semua adalah atas kehendak Kuasa Sang Maha.

Seruku: “Hai mata hatiku, cobalah pakai kacamata tua ini, kacamata yang framenya cuma 2 jenis, yaitu Eling Lan Waspodo”

Waspadalah! []

Membaca Tulisan
Baca Tulisan Lain

Membaca Tulisan


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “HAI MATA HATIKU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *