Lebaran dan Ilusi Kecukupan

thr

Setiap bulan Ramadan, percakapan tentang THR hampir selalu muncul di grup keluarga. Orang-orang biasanya memulai obrolan dengan sapaan ringan. Mereka saling menanyakan kabar dan aktivitas sehari-hari. Namun, suasana itu tidak berlangsung lama. Seseorang akan mengarahkan pembicaraan pada satu hal yang sama, yaitu pertanyaan tentang kapan THR akan turun. Pertanyaan sederhana itu sering kali membuat suasana menjadi lebih hidup. Anggota keluarga yang sebelumnya diam mulai ikut merespons.

Bagi banyak orang, THR memang terasa menyenangkan. Seseorang menerima uang tambahan dari tempat kerja, lalu ia merasa sedikit lega. Namun, perasaan itu biasanya tidak bertahan lama. Ia segera memikirkan berbagai kebutuhan yang sudah menunggu. Ia membeli tiket mudik untuk perjalanan pulang. Ia menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Ia membeli pakaian baru untuk hari Lebaran. Ia juga menyiapkan amplop untuk keponakan. Uang itu seperti sudah memiliki arah sebelum sempat benar-benar ia rasakan. Di balik semua itu, ada hal lain yang jarang dibicarakan secara terbuka. Seseorang tidak hanya memikirkan kebutuhan, tetapi ia juga memikirkan pandangan orang lain. Ia ingin terlihat baik-baik saja di depan keluarga. Ia ingin dianggap cukup. Ia tidak ingin dianggap kekurangan. Karena itu, ia tetap berusaha memenuhi semua kebiasaan tersebut, meskipun harus menghitung ulang isi dompetnya berkali-kali.

Dalam kondisi seperti ini, tidak semua orang membagikan THR dari uang yang benar-benar siap. Sebagian orang mengambil jalan lain. Seseorang meminjam uang agar tetap bisa memberi. Ia menggunakan kartu kredit untuk menutup kebutuhan. Ia bahkan menjual dan atau menggadaikan barang yang ia miliki demi menjaga penampilan di depan keluarga. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan mencari jalan pintas yang lebih jauh. Ia mengajukan proposal ke berbagai instansi demi mendapatkan dana bantuan yang sebenarnya tidak sepenuhnya untuk kebutuhan tersebut. Ia memanfaatkan celah-celah bantuan seperti dana sosial atau CSR agar tetap terlihat mampu. Lebih ironis lagi, ada juga yang tidak segan menggunakan uang yang bukan haknya, hanya agar citra dirinya tetap terlihat utuh di depan keluarga. Ia melakukan semua itu bukan karena kebutuhan mendesak, tetapi karena ia tidak ingin terlihat berbeda dari yang lain.

Di sisi lain, ada juga orang yang menjalani hal yang sama dengan cara yang berbeda. Seseorang memang mengeluarkan THR karena ia mampu. Ia sudah menyiapkan uang itu sejak awal. Ia memberi dengan tenang tanpa perlu menunjukkan apa pun. Ia tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain. Ia hanya percaya bahwa rezeki yang ia keluarkan tidak akan hilang. Ia yakin bahwa apa yang ia beri akan diganti dengan kenikmatan lain oleh semesta, meskipun tabungannya terlihat habis.

Perbedaan itu sebenarnya terasa, meskipun tidak selalu terlihat jelas. Orang yang memberi dengan kemampuan biasanya terlihat lebih ringan. Ia tidak banyak bicara. Ia tidak perlu menjelaskan. Ia hanya menjalankan apa yang menurutnya benar. Sebaliknya, orang yang memberi karena gengsi sering terlihat sibuk menjaga kesan. Ia berusaha tampak santai, tetapi pikirannya penuh dengan hitungan. Katakanlah saat momen pembagian THR tiba, suasana rumah tetap terlihat sama. Anak-anak berbaris dengan rapi. Mereka menunggu giliran dengan penuh harap. Seseorang membagikan amplop satu per satu. Semua tampak berjalan seperti biasa. Tidak ada yang bertanya dari mana uang itu berasal. Tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana kondisi sebenarnya.

Namun, keadaan mulai terasa berbeda setelah semua selesai. Seseorang yang memberi dengan kemampuan akan kembali ke kehidupannya dengan perasaan tenang. Ia mungkin melihat tabungannya berkurang, tetapi ia tidak merasa terbebani. Ia merasa cukup dengan apa yang ia lakukan. Sebaliknya, seseorang yang memberi karena gengsi mulai menghadapi kenyataan. Ia harus memikirkan utang yang harus dibayar. Ia harus mengejar cicilan yang tertunda. Ia sering kali kelabakan menghadapi akibat dari keputusan yang ia ambil sendiri.

Ungkapan “Tabungan Habis Rata” sering dianggap sebagai candaan. Namun, ungkapan itu menyimpan kenyataan yang tidak selalu ringan. Bagi sebagian orang, tabungan yang habis menjadi tanda bahwa ia telah berbagi dengan ikhlas. Bagi sebagian yang lain, tabungan yang habis justru menjadi awal dari beban baru. Dari sini, terlihat bahwa THR bukan sekadar soal uang. THR bisa menjadi cara untuk menjaga hubungan keluarga. Namun, THR juga bisa berubah menjadi alat untuk mempertahankan gengsi. Semua bergantung pada niat dan cara seseorang menjalaninya. Di bagian ini, yang paling terasa bukanlah jumlah uang yang tersisa, melainkan dampak dari cara seseorang menggunakan uang tersebut. Seseorang bisa saja mengeluarkan banyak uang dan tetap merasa tenang. Seseorang juga bisa melakukan hal yang sama, tetapi pulang dengan pikiran yang penuh beban. Dari situ, orang biasanya mulai memahami satu hal sederhana: tidak semua yang terlihat mampu benar-benar siap, dan tidak semua yang terlihat sederhana berarti kekurangan.

Di titik ini, seseorang sebenarnya dihadapkan pada pertanyaan yang lebih dalam. Ia menjalani puasa selama sebulan penuh dengan harapan kembali ke keadaan yang lebih bersih. Ia menahan diri dari lapar, dari keinginan, dan dari hal-hal yang berlebihan. Namun, setelah itu semua selesai, ia justru kembali pada kebiasaan lama yang ia pertahankan demi gengsi. Ia tetap memaksakan diri, ia tetap ingin terlihat lebih dari yang ia miliki, dan ia tetap menutupinya dengan cara apa pun. Dalam keadaan seperti itu, makna kembali ke nol tidak benar-benar ia pahami sebagai kesucian dalam kejatnikaan, yaitu keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima keadaan apa adanya. Ia hanya merayakan hari raya sebagai kebiasaan, tetapi ia melewatkan makna yang seharusnya ia bawa pulang sebagai bekal menuju Kampung Halaman Sejati, kelak. []

BEDEBAH
Baca Tulisan Lain

BEDEBAH


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *