Tasikmalaya – Usai peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT ke-80 PGRI, SMA Negeri 9 Tasikmalaya menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) Pendidikan Karakter Pancawaluya. Kegiatan yang diikuti seluruh tenaga pendidik tersebut dibuka oleh Ketua KCD XII, Zhairy Andhryanto, S.Pd., M.MPd., dan kepala sekolah SMA Negeri 9 Tasikmalaya yaitu Asep Hasanudin, S.Pd., M.Pd.

IHT berlangsung selama dua hari, 27–28 November 2025, menghadirkan dua pemateri, yakni Herlina Husen, S.Si., M.Pd.I (Guru MAN 3 Tasikmalaya) dan Susanti, S.Pd., M.Pd. (Pengawas Sekolah Kabupaten Tasikmalaya).
Mengenal Gapura Pancawaluya
Program Gapura Pancawaluya merupakan gagasan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, dan diperkenalkan secara resmi melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 43/PK.03.04/KESRA. Istilah ini berasal dari kata gapura (gerbang), panca (lima), dan waluya (kesempurnaan), sehingga bermakna “gerbang lima kesempurnaan”.
Adapun lima nilai dalam Gapura Pancawaluya meliputi:
- Cageur – sehat jasmani dan rohani
- Bageur – berperilaku baik dan berbudi pekerti luhur
- Bener – menjunjung kejujuran dan kebenaran
- Pinter – cerdas dan berpengetahuan
- Singer – terampil, sigap, dan adaptif
Konsep ini berakar pada nilai budaya Sunda yang tidak hanya menekankan kecerdasan akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.
Hari Pertama: Penguatan Tradisi dan Praktik Pembinaan Karakter
Pada hari pertama, peserta yang terdiri atas guru, tenaga pendidikan, komite, dan perwakilan siswa dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok membuat yel-yel untuk meningkatkan semangat pelatihan, kemudian mendata tradisi Sunda yang mulai memudar seiring perkembangan zaman. Pendataan ini diselaraskan dengan nilai-nilai Pancawaluya.
Peserta juga menyusun langkah penerapan pendidikan karakter melalui tahapan: transferring, training, modeling, conditioning, habituation, dan culturalization, yang kemudian dipresentasikan dalam forum.
Salah satu gagasan yang muncul adalah program S-POWER dari Kelompok 2. Program ini merupakan akronim dari Smile, Pray, Orderly, Welcome, dan Respect, yang diadaptasi menjadi gerakan 5S: salam, senyum, sapa, sopan, dan santun. Program tersebut dirancang melalui tahapan pembinaan yang melibatkan sosialisasi, simulasi, keteladanan guru, penghargaan siswa, pembiasaan, hingga kulturalisasi.
Hari Kedua: Internalisasi Nilai dan Penguatan Mutu Guru
Pada hari kedua, setiap kelompok diberi tugas menyusun rencana internalisasi nilai Pancawaluya pada satuan pendidikan melalui salah satu dari 9 Langkah Pembangunan Jawa Barat. Kelompok 2 memilih poin “Peningkatan Mutu dan Kompetensi Guru” dan mengusulkan program Guru Berprestasi.
Program tersebut bertujuan menyiapkan guru unggul di tingkat sekolah untuk kemudian mengikuti seleksi hingga tingkat nasional. Kriteria yang digunakan meliputi guru inovatif, dedikatif, dan inspiratif.
Pesan Pemateri: Karakter adalah Fondasi
Pemateri Susanti, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan karakter Pancawaluya harus diimplementasikan secara menyeluruh oleh seluruh warga sekolah, termasuk orang tua. Menurutnya, degradasi budaya Sunda serta meningkatnya fenomena negatif di kalangan remaja menjadi alasan pentingnya pendidikan karakter.
“Kalau bukan kita yang menjaga karakter regenerasi bangsa, khususnya lembaga pendidikan formal, siapa lagi?” ujarnya.
Ia juga mengutip pernyataan Kang Dedi Mulyadi yang menyebut bahwa: “Memperbaiki sarana prasarana mudah, tetapi membentuk karakter jauh lebih sulit sehingga perlu diinternalisasikan dalam kurikulum.” pungkasnya. []









