I Nyoman Nuarta, karya dan keluarga. sumber foto Ig nyoman_nuarta https://www.instagram.com/nyoman_nuarta/. dok tangkapan layar Mohammad Rohamudin
I Nyoman Nuarta dan Perjuangan Seni sebagai Identitas Bangsa
I Nyoman Nuarta kesohor dalam seni rupa Indonesia modern. Ia memandang seni sebagai lautan kebudayaan.Lahir di Tabanan, Bali, pada 14 November 1951, ia tumbuh dalam lingkungan budaya yang menempatkan seni sebagai bagian dari kehidupan spiritual dan sosial.

Dia seorang arsitek. Pendidikan formalnya di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung memperluas cara pandangnya sebagai mental baja yang kokoh. Di ITB, Nuarta berhadapan dengan sepak terjang modernisme, rasionalitas bentuk, dan dialog antara tradisi lokal dengan seni kontemporer dunia.
Dari sinilah Nuarta mengambil keputusan artistik yang menyokong seluruh kariernya, bagaimana dia memilih patung monumental sebagai medium utama. Patung monumental menuntut sumber daya besar, kerja kolektif, serta ketahanan fisik dan mental yang panjang. Di sanalah Nuarta melihat kemungkinan seni berbicara langsung kepada ruang publik dan kesadaran bangsa.Keputusan tersebut membentuk jejak karyanya.
Nama Nyoman Nuarta kemudian lekat dengan karya-karya yang hadir di ruang publik.Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali menjadi contoh paling populer. Dengan tinggi 121 meter di atas tanah, GWK lebih tinggi daripada Patung Liberty di Amerika Serikat yang mencapai 93 meter. Patung ini berdiri di ketinggian ±263 meter di atas permukaan laut, sehingga terlihat dari radius hingga 20 km, termasuk kawasan Kuta dan Nusa Dua.
Proses Pembuatan GWK gila-gilaan
Proses pembangunan GWK sendiri menjadi cermin watak artistik Nuarta. Patung ini tersusun dari 754 modul, masing-masing seberat ±2 ton, yang diangkut menggunakan ±500 truk tronton dari Bandung ke Bali. Berat total mencapai ±3.000–4.000 ton, menjadikannya salah satu patung tembaga terbesar di dunia.
Pembangunan dimulai sejak 1990, mengalami berbagai hambatan, termasuk krisis ekonomi dan perubahan pemerintahan, dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 September 2018 setelah ±28 tahun pengerjaan.
Selain GWK, Nuarta juga membangun narasi kebangsaan melalui karya lain seperti Monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya. Monumen ini menegaskan kembali identitas Indonesia sebagai bangsa maritim. Laut tidak diposisikan sebagai pusat peradaban dan sumber kekuatan nasional.
Dalam konteks pembangunan yang sering melupakan dimensi maritim, karya ini berfungsi sebagai sekaligus pernyataan ideologis yang membedakan dengan karya-karya besar lain di dunia.
Melalui karya-karya tersebut,Nuarta menunjukkan bahwa identitas bangsa tidak hanya dibentuk oleh kebijakan atau pidato politik, tetapi juga oleh simbol karya yang hidup di ruang publik dan terus berinteraksi dengan masyarakat sehari-hari.
Seni sebagai Kritik Sosial dan Keberpihakan
Penting dicatat bahwa Nyoman Nuarta menggunakan seni sebagai medium kritik sosial. Karya seperti Dewi Zolim memperlihatkan keberaniannya mengangkat isu ketidakadilan hukum dan penderitaan manusia dalam sistem yang timpang. Dalam karya ini, keadilan tidak digambarkan sebagai sosok ideal yang melindungi, melainkan sebagai kekuatan yang justru melukai.
Dewi Zalim dibuat oleh I Nyoman Nuarta sebagai bagian dari karya karyanya yang dipamerkan di NuArt Sculpture Park di Bandung, Jawa Barat. Patung ini memang berlokasi di galeri dan ruang outdoor taman seni tersebut.
Patung ini menggambarkan figur perempuan besar tanpa wajah, memegang timbangan di satu tangan dan sabit di tangan lainnya, berdiri di atas figur manusia yang tak berdaya.
Secara simbolik, Dewi Zolim menyampaikan kegelisahan yang sering kali tidak tertangkap oleh bahasa hukum atau politik. Karya ini menegaskan bahwa keberpihakan Nuarta tidak berhenti pada negara sebagai simbol, tetapi juga pada manusia sebagai subjek yang mengalami ketidakadilan.
Keberpihakan tersebut juga tercermin dalam langkah Nyoman Nuarta membangun NuArt Sculpture Park di Bandung. Ruang ruang publik tempat seni, pendidikan, dan dialog budaya bertemu. Nuarta tidak memposisikan seni sebagai barang elit, tetapi sebagai ladang yang dapat diakses, dipelajari, dan diperdebatkan oleh masyarakat luas.
Luas lahan taman ini mencapai ±250 hektar, menjadikannya salah satu taman seni terbesar di Indonesia. Melalui NuArt, Nuarta menunjukkan bahwa perjuangan kebudayaan dinobatkan melalui pembentukan ekosistem yang memungkinkan seni terus hidup, berkembang, dan melahirkan kesadaran baru.
Seni Monumental sebagai Strategi Ideologis
Pilihan Nyoman Nuarta terhadap seni monumental seperti sejarah panjang kolonialisme dan krisis identitas adalah warna visual yang memberi ingatan kolektif sekaligus lukisan bagi kehadiran nilai-nilai bangsa.
Patung-patung Nuarta bekerja sebagai teks publik yang terus hadir dalam keseharian masyarakat. Monumentalitas memaksa ruang untuk berhenti sejenak, mengajak publik membaca ulang makna simbol yang kerap tereduksi oleh rutinitas dan pragmatisme. Dengan cara ini, seni menjadi alat resistensi terhadap budaya instan dan lupa sejarah.
Di sisi lain, karya-karya Nyoman Nuarta berada dalam wilayah persinggungan antara seni, kekuasaan, dan ruang publik. Keterlibatannya dalam proyek-proyek negara sering memunculkan kritik bahwa seni monumental berisiko menjadi alat legitimasi kekuasaan.Namun justru di titik inilah posisi Nuarta menjadi kompleks dan menarik. Ia tidak sepenuhnya berada di luar sistem, tetapi juga tidak menanggalkan sikap kritisnya.
Dengan menyisipkan refleksi moral dan simbol kegelisahan sosial, ia menunjukkan bahwa seniman masih dapat menjaga integritas artistik meskipun bekerja dalam ruang institusional. Ketegangan inilah yang mencegah karyanya jatuh menjadi propaganda i dividual.
Studi Kasus: Ketika Karya Menjadi Arena Ujian Gagasan
Proses pembangunan Garuda Wisnu Kencana menjadi studi kasus utama tentang bagaimana seni berhadapan langsung dengan realitas sosial, ekonomi, dan politik. Pembangunan GWK melibatkan ±1.000 pekerja, mulai dari Bandung hingga Bali?
Kritik terhadap biaya, fungsi, dan relevansi justru memperlihatkan bahwa seni monumental selalu memicu perdebatan, dan di sanalah nilainya sebagai pemantik diskursus publik.
Studi kasus lain terlihat pada karya Dewi Zolim, yang menghadirkan wajah lain dari praktik seni Nuarta. Di sini, ia tidak membangun kebesaran, melainkan membongkar ironi. Karya ini menjadi representasi kegelisahan masyarakat terhadap sistem hukum yang timpang, dan menunjukkan bahwa Nuarta tidak terjebak dalam glorifikasi kekuasaan.
Monumen Jalesveva Jayamahe dapat dibaca sebagai studi kasus tentang seni sebagai pendidikan ideologis. Karya ini mengingatkan kembali orientasi maritim Indonesia melalui bahasa visual yang mudah dikenali, sekaligus menempatkan monumen sebagai medium kesadaran geopolitik, bukan sekadar ornamen kota.
NuArt Sculpture Park menjadi studi kasus lain yang penting
Penulis benar-menikmati NurArt Sculpture Park yang terkesan mewah dengan ragam nilai seni yang dapat dinikmati secara terbuka.
Berbeda dari patung monumental, ruang ini menegaskan bahwa Nuarta memahami seni sebagai proses sosial. Ia membangun ruang belajar, dialog, dan regenerasi, sehingga seni tidak terputus dari konteks masyarakatnya.
Terakhir, keterlibatan Nuarta dalam konsep archsculpt pada rancangan Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara menunjukkan arah masa depan gagasannya. Seni tidak lagi berdiri sebagai objek terpisah, melainkan menyatu dengan arsitektur dan fungsi ruang negara. Ini menandai pergeseran dari monumen statis menuju seni sebagai struktur hidup yang berinteraksi dengan kehidupan publik.
Seni sebagai Ingatan, Sikap, dan Tanggung Jawab
Pada akhirnya, I Nyoman Nuarta layak dipahami bukan hanya sebagai pematung besar, tetapi sebagai pejuang kebudayaan. Ia menempatkan seni sebagai medium untuk di ingat, kritik, dan tanggung jawab karya. Karyanya sangat dimensional, mengajak publik merenungkan identitas, kekuasaan, dan nilai kemanusiaan.
Di tengah zaman yang serba cepat, pragmatis, dan mudah melupakan makna, Nuarta memilih jalan panjang yang penuh risiko. Dari pilihan itulah lahir kekuatannya. Seni, dalam tangan Nyoman Nuarta, tidak berhenti sebagai benda monumental, tetapi hadir sebagai sikap, untuk berpihak pada identitas bangsa, keadilan sosial, dan martabat manusia.









