Ini cerita mengapa RRI menghadirkan radio visual. Ketika pendengar tidak lagi cukup hanya mendengar, radio menghadapi tantangan baru: bagaimana membuat suara tetap hidup sekaligus terlihat?
Inilah titik lahirnya radio visual. Sebuah langkah berani untuk membuka studio yang selama ini tertutup, menampilkan ekspresi penyiar, dan menghadirkan radio ke dalam ruang publik secara langsung.
Ide ini lahir dari kebutuhan nyata masyarakat yang aktif dan kritis, yang ingin “menonton apa yang mereka dengar”, sekaligus menegaskan bahwa radio tetap radio, meski kini divisualkan.
Sebagai lembaga penyiaran publik, RRI dituntut untuk melayani semua segmen masyarakat, tanpa terkecuali.
Dari sini, nilai improvement radio muncul: radio selangkah lebih dekat dengan publik barunya, menghadirkan pengalaman yang lebih partisipatif, inklusif, dan manusiawi.
Lahirnya Radio Visual: Dari Tantangan ke Inovasi
Gagasan radio visual pertama kali diwujudkan di RRI Surabaya, pada masa penulis menjadi Kepala RRI Surabaya. Di sana, perubahan perilaku masyarakat mulai terasa: pendengar tidak hanya ingin mendengar suara, tetapi juga ingin melihat proses siaran, ekspresi penyiar, dan dinamika interaksi.
Segmen masyarakat ini, yang aktif, responsif, dan berkembang seiring perubahan teknologi, dalam praktik disebut sebagai audience modern.
Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, RRI memiliki kewajiban untuk melayani semua segmen masyarakat, tanpa terkecuali. Radio visual hadir sebagai jawaban: bukan untuk menggantikan radio, tetapi memperluas layanan.
Radio Picture menjadi sarana agar kelompok minoritas, generasi muda, dan publik yang akrab dengan pengalaman visual tetap terhubung dengan radio. Dengan cara ini, RRI menegaskan sikap inklusifnya: tidak meninggalkan siapa pun, sekalipun yang berada di pinggiran arus utama media.
Langkah pertama yang konkret adalah mengubah studio siaran yang tertutup menjadi studio terbuka dengan desain kaca.
Transformasi ini memungkinkan pengunjung, tamu, atau publik yang hadir, untuk menyaksikan proses siaran secara langsung, menyimak gaya, ekspresi, dan interaksi penyiar, tanpa mengurangi kualitas siaran radio itu sendiri.
Penyiar tetap berbicara dengan ritme dan spontanitas radio, sedangkan kamera dan visual hanya mengikuti, bukan mendikte. Radio tetap menjadi inti; visual menjadi pendamping yang memperkuat kehadiran dan kedekatan dengan publik.
Dari Radio Picture ke RRI Net: Memperluas Layanan Publik
Eksperimen Radio Picture di Surabaya terbukti memberikan hasil signifikan.
Ketika publik menonton apa yang mereka dengar, kepercayaan dan keterikatan terhadap radio meningkat. Radio tidak kehilangan kekuatannya sebagai medium suara yang intim dan manusiawi.
Sebaliknya, visual menjadi sarana agar radio tetap relevan di tengah masyarakat yang berubah.
Pengalaman di Surabaya menjadi pijakan ketika penulis dipercaya menjadi Direktur Utama RRI pada 2016.
Pada level nasional, radio visual diangkat menjadi bagian strategi kelembagaan melalui RRI Net – radio visual, dengan positioning yang jelas: “Tonton Apa yang Anda Dengar.”
Positioning ini menegaskan prinsip utama: suara tetap menjadi inti, kata tetap menjadi kekuatan, dan dialog tetap menjadi jiwa siaran. Visual hadir sebagai penguat dan jembatan antar generasi, bukan pengganti radio.
RRI Net membuka ruang baru agar semua segmen—tua, muda, urban, daerah, minoritas—dapat tetap terlayani, tanpa meninggalkan siaran radio konvensional.
Dengan radio visual, RRI menegaskan jati dirinya. Radio tetap tegak sebagai medium utama, sementara visual menjadi amplifier yang memperluas jangkauan dan kedekatan dengan publik.
Dari Radio Picture di Surabaya hingga RRI Net di tingkat nasional, perjalanan ini menunjukkan konsistensi RRI dalam membaca zaman, menjaga inklusivitas, dan tetap setia pada prinsip radio: mendengar adalah inti, menyuarakan adalah tujuan, dan kini juga dapat disaksikan tanpa kehilangan identitas.
Perjalanan dan Adopsi Internasional
Sepanjang hampir satu dekade terakhir, radio visual terus bertumbuh di berbagai wilayah Indonesia, menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar tren sementara, tetapi bagian dari strategi layanan publik yang nyata.
Menariknya, konsep Radio Picture sendiri terinspirasi dari praktik radio visual yang lebih awal dikembangkan di Australia, yang sudah berhasil menggabungkan audio dengan pengalaman visual untuk publiknya. RRI mengadopsi ide tersebut, menyesuaikan dengan karakter pendengar lokal, sehingga lahirlah versi Indonesia yang tetap mempertahankan jati diri radio, sambil menawarkan pengalaman baru bagi publik modern.
Dengan demikian, radio visual RRI bukan sekadar eksperimen; ia adalah perluasan mandat publik: menjaga suara tetap menjadi inti, kata tetap menjadi kekuatan, dan menyuarakan tetap menjadi tujuan, namun kini dapat dilihat dan dirasakan oleh publik yang lebih luas.









