Rupiah terus melemah. Dalam beberapa bulan terakhir, nilainya bergerak di kisaran Rp16.500 hingga Rp17.740 per dolar AS. Level yang dulu identik dengan situasi krisis, kini hadir biasa-biasa saja. Di saat yang sama, emas justru melesat. Harga emas batangan menembus angka Rp2,5 juta per gram, spektakuler. Dua arah yang berlawanan, namun bertemu pada satu titik yang sama, adalah kecemasan publik.
Setiap pelemahan rupiah selalu datang bersama penjelasan. Misalnya seperti tekanan global, suku bunga The Fed, ketidakpastian geopolitik, arus modal asing. Semua masuk akal. Namun kehidupan bergetar di pasar, di dapur, dan di tabungan yang nilainya menyusut.
Emas, sebaliknya, bergerak brutal. Ia tidak menjanjikan stabilitas, tidak menjual narasi. Ia hanya merespons kepercayaan. Ketika kepercayaan pada mata uang melemah, emas tidak perlu dipromosikan. Ia dicari, jalannya kencang.
Fenomena ini mudah dilihat. Saat rupiah tertekan, toko emas justru ramai. Bukan oleh spekulan besar, melainkan pedagang kecil, pekerja informal, dan ibu rumah tangga. Mereka tidak mengejar untung. Tapi sedang mengamankan nilai. Sehingga ingatan kolektif yang bekerja.
Pengalaman krisis 1998 masih hidup di benak banyak orang. Saat rupiah runtuh, tabungan menguap, sementara emas bertahan. Pelajaran itu diwariskan cukup lewat cerita keluarga dan pengalaman pahit. Hal serupa terjadi di kalangan UMKM. Banyak pelaku usaha kecil memilih menyimpan laba dalam bentuk emas atau barang keras, bukan uang tunai.
Alasannya sederhana. Harga bahan baku naik lebih cepat daripada bunga tabungan. Dalam kondisi seperti itu, menyimpan rupiah justru terasa seperti keputusan yang harus dibela, bukan yang otomatis masuk akal. Secara teori ekonomi, semua ini bisa dijelaskan. Ketika dolar menguat dan suku bunga global tinggi, mata uang negara berkembang memang tertekan.
Dalam situasi seperti itu, aset lindung nilai akan naik. Di atas kertas, ini normal. Masalahnya bukan pada teori, melainkan pada pola yang terus berulang dan respons yang nyaris selalu sama. Rupiah melemah, penjelasan diberikan. Emas naik, dianggap wajar. Tidak ada rasa darurat, seolah ini hanya fluktuasi musiman, padahal dampaknya merayap ke biaya hidup.
Harga naik tanpa menunggu stabilitas, cicilan berjalan tanpa mengenal sentimen global. Sementara itu, publik diminta bersabar, seolah kesabaran bisa menggantikan daya beli. Ironinya, emas kerap disebut aset pasif. Padahal justru ia bekerja paling aktif menjaga nilai. Sementara rupiah, yang dijaga oleh kebijakan, dan pernyataan resmi, terus meminta waktu untuk dipercaya.
Negara meminta keyakinan, tetapi kepercayaan tidak lahir dari kalimat normatif. Ia lahir dari konsistensi dan kepastian bahwa nilai hari ini tidak akan menyusut esok hari. Di titik ini, kenaikan emas menjadi kritik yang sunyi. Ia tidak menyerang, tidak memprotes. Ia hanya menunjukkan pilihan.
Ketika terlalu banyak alasan diberikan untuk menjelaskan rupiah, pasar memilih alat ukur yang lebih sederhana: benda yang nilainya tidak perlu dibela. Ini bukan soal nasionalisme ekonomi atau sikap anti-rupiah. Ini soal akal sehat.
Jika kita menyimpan uang berarti menyimpan risiko, sementara menyimpan emas berarti menjaga nilai, maka pilihan rakyat sepenuhnya rasional. Satirnya, pasar justru tampak lebih jujur daripada kebijakan.
Emas naik karena dipercaya. Rupiah tidak melemah karena dibenci, tetapi karena terus diminta dimengerti tanpa cukup alasan untuk diyakini.
Dalam ekonomi, kepercayaan selalu lebih mahal daripada stabilitas versi grafik. Dan selama kepercayaan itu bocor pelan-pelan, emas akan terus mengilap, sementara rupiah terus diminta bersabar.









