mukadimah edisi 104 Lingkar Daulat Malaya
Tasikmalaya, juni 2025-Berita-berita sedang berhamburan mengabarkan tentang perang, dagang dan kemalangan. Sementara dibalik layar ‘tragedi’ yang diberitakan, sebagian orang sedang membuat kunci dan borgol besar yang dipersiapkan untuk generasi baru yang pertumbuhan populasinya kian meningkat.
Bahkan sebagian borgol sudah digunakan lewat platform media sosial dan berhasil menjadi menu konsumsi sehari-hari. Mulai dari ngejar fyp, koleksi tayangan seksi, harapan pada judi online dan semangat investasi ‘halusinasi’, sedang menjerat tangan muda-mudi bangsa ini, sehingga tak lihai lagi berdaulat.
Artificial Intelegensi menjadi pengganti mata hati bagi manusia abad 21 ini. Meski pun tidak seluruhnya, tetapi faktanya sebagian besar menjadi pelanggan setia mengkonsumsi penuh sukacita. Menikmati khayalan-khayalan dan membunuh komponen berharga pada akal pikiran.
Sebagian kecilnya memproduksi konten kreasi dan inovasi menggunakan jasa AI dan mendapatkan respon positif meskipun masih pada tataran jari jemari. Ya masih pada tataran ruang layar berukuran 15 cm. Mendinglah daripada seragam seluruhnya.
Dari cuplikan kecil itu, menjadi bahan latihan yang menarik bagi Orang Maiyah dan kehidupannya. Orang Maiyah bukan sebutan nama bagi anggota suatu ormas, LSM, Lembaga Thoriqoh, Pemerintahan maupun Pendidikan. Orang Maiyah adalah sebutan bagi orang yang membaca dirinya berulang-ulang, ribuan kali (pengamal sikap muhasabah).
Di dalam Maiyah tak ada guru dan murid. Semua orang adalah murid, sang penghendak ilmu, semua orang adalah pembelajaran sekaligus pejuang hidup yang seharusnya (mengharap ridho Allah). Hidup orang Maiyah tidak tergantung pada kekayaan dan atau kemiskinan, tetapi tergantung pada proses pembelajaran menggunakan akal dan nuraninya sendiri untuk menyutradarai hidupnya menuju yang pantas dituju.
Orang Maiyah menunjukkan kepada kita bahwa Mbah Nun bukanlah satu-satunya tokoh kunci. Mbah Nun bukanlah orang suci yang berusaha mencerahkan bumi. Mbah Nun sebagai perantara yang menghubungan kembali tautan cinta dengan Maha Cinta; Allah SWT dan kekasihNya, Nabi Muhammad SAW.
Mbah Nun sebagai orangtua kami. Buah pikirannya tertransfer kepada orang-orang Maiyah lainnya, yang kemudian melanjutkannya lagi kepada orang-orang disekitar mereka. Orang Maiyah adalah orang-orang pekerja keras dalam kesukarelaan dan mau berpikir.
Kita sedang memasuki masa Tahun Baru Hijriah 1447 H. Tentu ini menjadi bahan refleksi bagi kita semua atas tingkah laku yang sudah berlalu. Atas kejadian apa pun saja yang sudah kita alami sebelumnya dan atas konsistensi respon positif kita terhadap apa pun saja persoalan hidup yang sedang kita hadapi.
Orang Maiyah Ora Goyah. Orang Maiyah Pantang Goyah. Orang Maiyah Ajeg Tangtungan.
Ajeg Tangtungan bisa dipahami secara harfiah adalah teguh pendirian. Ajeg Tangtungan menjadi tema yang ditawarkan kepada kita semua di edisi kali ini untuk kita kaji, pelajari, hayati dan elaborasi bersama. Tumbuh bersama menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai yang sejati.
Apakah kita akan tetap berposisi ‘ajeg Tangtungan’ ataukah bergeser pada posisi yang ditentukan oleh yang bukan diri kita?
Tentu akan banyak lagi muncul tanya jawab, masalah dan solusinya. Biarkan mengalir semestinya. Kita hadir saja lagi di malam nanti sambil menikmati kopi. []

