Bungursari || Sekretariat Kelompok Wanita Tani (KWT) Teratai yang berlokasi di Kp. Pamijahan, Sukarindik, Bungursari, pagi hari ini, (Jum’at, 12/09), menjadi tuan rumah berlangsung kegiatan kolaborasi penguatan program ketahanan pangan antara Penyuluh Agama Cipedes dan Bungursari dengan penggiat kelompok wanita tani. Agus Setiana dari KUA kec Cipedes, Ihsan Farhanuddin dari KUA kec Bungursari, dan Sri Nurcahyati, ketua KWT Teratai, bersinergi dalam kegiatan ini.
Pada pukul 08.00 WIB, kegiatan dimulai dengan penyebaran benih lele sebanyak 60 ekor. Ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui budidaya perikanan. Kegiatan ini menunjukkan betapa pentingnya peran komunitas dalam meningkatkan akses pangan bergizi. Tutur Agus
*Penanaman Tanaman Lalapan dan Sharing Pupuk Organik*
Setelah penyebaran benih lele, dilanjutkan dengan penanaman tanaman lalapan, memanfaatkan tempat sekitar. Dalam sesi sharing, dibahas tentang penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan dan mendukung pertanian berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan prinsip ketahanan pangan yang mengutamakan keberlanjutan. “Upaya kecil yang kita lakukan ini semoga terus mengalir deras terjaga terawat dan berkembang dengan skala yang lebih luas lagi untuk kebaikan dan kebermanfaatan anak cucu kita, tutur Sri.
*Membedah Konsep Ajaran Islam tentang Halalan Thoyyiban*
Dalam kegiatan ini, juga dibedah konsep ajaran Islam tentang halalan thoyyiban. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” (QS. Al-Baqarah: 168). Konsep ini menekankan pentingnya makanan yang halal dan thayyib (baik) bagi kesehatan. “Kesehatan itu ada dalam tiga dimensi yang satu sama lain saling berkaitan erat sehingga sama sama pentingnya. Ketiga itu adalah kesehatan pangan untuk makanan jasad, pikiran dan rohani ( hati ). “Kita harus benar benar belajar kembali kepada masa lalu, dimana para leluhur kita sangat cerdas dan proporsional dalam mengonsumsi makanan untuk jasad, akal dan hati nya yang bernilai tidak hanya Halal saja tetapi Thoyib juga.” Artinya orangtua kita dulu sangat mewaspadai sumber makanan yang dikonsumsi dengan ketat memerhatikan kehalalan dari segi zatnya, sifatnya, tatacaranya dan nilai kandungannya harus thoyyib atau menyehatkan tubuh, pikiran dan hati.” Makanan jasadnya menyehatkan karena bahan bahannya organik, makanan akalnya sehat, karena informasi yang di terima para orangtua dulu adalah informasi yang bermanfaat, bernilai ilmu serta makanan hatinya pun menyehatkan, berupa dzikir wirid dan shalawat yang sudah menjadi kebutuhan pokoknya. Maka wajar umurnya panjang², jarang sakit parah serta aura wajah nya teduh². Tutur Ihsan
*Pentingnya Kemandirian Ekonomi dalam Ketahanan Pangan*
Kemandirian ekonomi dalam ketahanan pangan menjadi sorotan dalam kegiatan ini. “Kemandirian ekonomi berangkat dari aktualisasi hal kecil ini, ya seperti menanam tanaman pangan, tanaman obat obatan maupun budidaya ikan sesuai dengan kapasitas kemampuan masing masing, asalkan konsisten dan sabar. Tambah sri.
Dengan adanya kegiatan sinergi antara penyuluh agama Islam dan kelompok tani ini, diharapkan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pertanian dan perikanan yang berkelanjutan. Imbuh agus
Harapan ke Depan dengan mengacu pada ajaran Islam tentang halalan thoyyiban dan prinsip ketahanan pangan lewat kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi komunitas lain dalam membangunkan kembali kesadaran akan pentingnya upaya ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi dengan cara gotong royong, kerja bersama sama. Tambah Ihsan









