Bungursari || Ahad, 08 September 2025, pukul 19.30 WIB, Masjid Bani Musytari Lengo RW 10 Bantarsari menjadi tuan rumah kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihadiri oleh sekitar 300 jemaah. Kegiatan ini diisi dengan Mauidhah Hasanah oleh Kiai Yandi Irsyad Badruzzaman, S. Pd dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Nagasari Singaparna. Selepas pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an beserta shalawat dan Mahalul Qiyam, acara dilanjutkan dengan sambutan.
Sambutan pertama disampaikan oleh Ustadz Deden selaku Ketua DKM yang menekankan pentingnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai sarana untuk mengingat keteladanan beliau dan menjaga kerukunan di tengah ujian pecah belah umat. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al-Ahzab: 21). Beliau juga mengajak jemaah untuk memperkuat keamanan lingkungan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kerukunan.
Sodiq Sunandi, S. IP, Camat Bungursari juga menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat. Beliau juga menyampaikan terima kasih kepada jajaran pengurus dan tokoh di tempat ini yang sudah mengundang kami sehingga momentum ini juga kita manfaatkan untuk menyelenggarakan deklarasi damai selepas pengajian nanti bersama Ihsan Farhanuddin dan Ido Ridwanullah dari Penyuluh Agama Islam KUA kecamatan Bungursari, tokoh agama, tokoh masyarakat, Babinsa, babinkamtibmas serta masyarakat.
Acara dilanjutkan dengan Mauidhah Hasanah sebagai acara inti yang disampaikan oleh Kiai Yandi Irsyad Badruzzaman. Beliau menyampaikan beberapa nilai penting, diantaranya 5 wasiat Nabi Muhammad yang dituliskan dalam kitab Nashoihul Ibad
Nabi saw. bersabda ; “Allah tidak memberikan lima kepada seseorang, melainkan telah mempersiapkan lima hal yang lain, yaitu Dia tidak memberikan syukur kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya tambahan, Dia tidak memberikan doa kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya ijabah, Dia tidak memberikan kepadanya istigfar, melainkan telah menyediakan
untuknya ampunan, Dia tidak memberikan untuknya tobat, melainkan telah menyediakan penerimaan tobat, dan Dia tidak memberikan kepadanya sedekah, melainkan Dia telah menyediakan untuknya menerima (sedekah itu).”
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabnya” (QS Al-Isra: 36).
Kemudian menyampaikan tentang 3 jawaban unik Sayyidina Ali didepan para sahabat lain. Pertama, Amal apa yang paling baik? “Amal yang paling baik adalah bukan sholat, zakat, puasa, sedekah atau haji melainkan amal yang diterima oleh Allah disisiNya”, kedua Bulan apa yang paling baik? Bukan bulan ramadhan, Muharram, Dzulqoidah, Dzulhijjah, Rajab atau rabiul awwal tetapi “Bulan yang paling baik adalah bulan dimana kita melakukan taubat sungguh sungguh di bulan itu”, dan yang ketiga, hari apa yang paling baik? Bukan hari Senin, kamis ataupun Jum’at,tetapi “Hari dimana kita meninggal dunia dalam keadaan Iman dan taqwa kepada Allah”. (Kitab Nashoihul Ibad).
Acara terakhir diisi dengan penyampaian deklarasi damai yang dibacakan oleh Bapak Abdul Gani selaku Ketua RW 10 Kp. Lengo Bantarsari. Deklarasi damai ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk menjaga kerukunan dan kedamaian di masyarakat. “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-Hujurat: 10). Selepas itu, acara ditutup dengan foto bareng dan doa bersama.
Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih peduli terhadap lingkungan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kerukunan dan kedamaian. “Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al-Baqarah: 195).









