Seniman kontemporer Indonesia, Tisna Sanjaya, menggelar pameran tunggal pertamanya di Sydney, Australia, pada Februari 2026. Pameran bertajuk Cultural Amnesia ini berlangsung di The Cross Art Projects, Kings Cross, Sydney, dari 21 Februari hingga 28 Maret 2026. Pameran ini menghadirkan rangkaian karya terbaru yang merefleksikan warisan korupsi sistemik dan fenomena “amnesia budaya” pasca-Orde Baru di Indonesia. Melalui lukisan, instalasi, grafis, serta performance art, Tisna Sanjaya menegaskan praktik seni sebagai doa, kritik, sekaligus tindakan reflektif atas realitas sosial-politik. Artikel ini membahas konteks pameran, karakteristik karya, serta dimensi personal dan politis yang melandasi praktik artistiknya.
Seni Kontemporer, Performance Art, Kritik Sosial, Amnesia Budaya, Reformasi, Tisna Sanjaya
Seniman rupa kontemporer Indonesia, Tisna Sanjaya, sejak lama dikenal sebagai figur yang memilih jalur “antimainstream” dalam lanskap seni rupa Indonesia. Sikap antimainstream tersebut bukan sekadar gaya atau strategi diferensiasi, melainkan posisi etis dan ideologis dalam berkesenian. Ia kerap menghadirkan karya yang terasa keras, gelap, bahkan mengganggu kenyamanan visual, karena baginya seni bukanlah ruang dekoratif, melainkan ruang gugatan. Kritik sosial yang ia sampaikan sering tampil secara simbolik, satir, dan kadang konfrontatif, sehingga memancing dialog sekaligus perenungan.
Lahir di Bandung pada 1958, Tisna tumbuh dalam dinamika sosial-politik Indonesia yang penuh perubahan. Sejak dekade 1980-an ia telah aktif bereksperimen, terutama melalui medium seni grafis yang pada masa itu menjadi salah satu medium penting untuk menyuarakan kritik secara subtil. Seiring waktu, eksplorasinya meluas ke berbagai bentuk ekspresi: lukisan dengan material nonkonvensional, instalasi yang melibatkan ruang secara total, cetak tubuh yang menghadirkan jejak fisik sebagai pernyataan eksistensial, hingga happening art dan performance art yang menempatkan tubuh sebagai medium utama. Selain berkarya, ia juga mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, sehingga posisinya tidak hanya sebagai praktisi, tetapi juga sebagai pendidik yang menanamkan kesadaran kritis kepada generasi muda.
Karya-karyanya secara konsisten mengangkat isu sosial, politik, pendidikan, dan lingkungan hidup. Salah satu isu lingkungan yang sering muncul dalam praktik artistiknya adalah persoalan Sungai Citarum, yang ia respons sebagai simbol krisis ekologis sekaligus cerminan tata kelola yang bermasalah. Dalam banyak karya, Tisna memperlihatkan bahwa kerusakan alam tidak pernah berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan sistem kekuasaan dan budaya yang tidak sehat. Karena itu, karya-karyanya dapat dibaca sebagai bentuk respons terhadap struktur sosial yang ia nilai perlu dikritisi.
Pada 21 Februari hingga 28 Maret 2026, Tisna menggelar pameran tunggal bertajuk Cultural Amnesia di The Cross Art Projects, 8 Llankelly Place, Kings Cross, Sydney. Pameran ini menjadi tonggak penting karena merupakan presentasi tunggal pertamanya di Sydney. Momentum ini menandai perluasan dialog artistiknya ke ruang internasional dengan konteks yang lebih luas. Tidak hanya menampilkan karya, pameran ini juga menghadirkan sesi Public Conversation bersama Dr. Elly Kent pada 14 Maret 2026 pukul 14.00 waktu setempat. Forum tersebut menjadi ruang diskusi terbuka untuk membicarakan latar belakang gagasan, konteks sosial-politik Indonesia, serta relevansi karya dalam percakapan global.
Karya-karya yang dipamerkan menunjukkan spektrum praktik Tisna yang utuh. Instalasi dan performance art Art as a Prayer for Change diproduksi khusus untuk konteks Sydney. Dalam karya ini, ruang galeri tidak lagi sekadar tempat memajang objek, melainkan diolah menjadi arena kesaksian atas luka sejarah kediktatoran di Indonesia. Atmosfer ruang yang cenderung gelap, dengan material yang mengingatkan pada abu dan aspal, menciptakan pengalaman visual sekaligus emosional. Pengunjung diajak memasuki ruang yang sarat memori, seolah-olah berdiri di antara sisa-sisa sejarah yang belum selesai.
Performance art Laundry & Cleaning Service menghadirkan tindakan sederhana: mencuci 27 potong pakaian sebagai metafora 27 tahun Reformasi. Namun, kesederhanaan tindakan tersebut justru menyimpan lapisan makna yang kompleks. Setelah dicuci, setiap pakaian dilukis dengan gambar dan potret satir, lalu dijemur di ruang pamer. Gestur domestik ini berubah menjadi simbol kritik terhadap praktik “pencucian sejarah” dalam dinamika politik Indonesia kontemporer. Tindakan membersihkan, yang biasanya dimaknai sebagai sesuatu yang positif, dihadirkan dalam ambiguitas: apakah benar-benar membersihkan, atau sekadar menghapus jejak tanpa pertanggungjawaban?
Selain itu, karya Portrait of Ourselves as Hypocrites (Potret Diri sebagai Kaum Munafik) yang sebelumnya dipamerkan di Museum MACAN dan Galeri Nasional Indonesia kembali dihadirkan dalam konteks baru. Seri aquatint berukuran besar ini menampilkan potret-potret satir yang menyentil kemunafikan sosial dan politik. Sementara itu, karya Untitled (2023) berupa cat minyak dan campuran di atas kanvas memperlihatkan figur-figur tradisi Sunda dalam lanskap visual gelap menyerupai abu dan aspal. Figur-figur tersebut tampil sebagai penjaga ingatan, mengisyaratkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga saksi sejarah. Seri cetakan tubuh—yang memadukan jejak tangan dan kaki dengan gambar pohon serta topeng misterius—menegaskan keterlibatan tubuh seniman sebagai arsip hidup dari pengalaman sosialnya.
Sebelumnya, Tisna juga terlibat dalam pameran Contemporary Worlds: Indonesia di National Gallery of Australia, Canberra (2019), serta pameran Rakus di Tasmania (2023). Partisipasi tersebut menunjukkan kesinambungan dialog artistiknya di ranah internasional. Pada periode yang hampir bersamaan dengan pameran di Sydney, ia juga menggelar pameran Sketsa Sabda di Kedai Laudatosi (13–28 Februari 2026) sebagai ruang refleksi kolektif melalui kegiatan menggambar bersama. Hal ini memperlihatkan bahwa praktiknya tidak berhenti pada ruang galeri formal, tetapi juga hadir dalam ruang-ruang alternatif yang lebih intim.
Dalam pernyataan artistiknya, Tisna menyampaikan bahwa performance di Sydney berangkat dari tindakan sederhana: mencuci pakaian dan membersihkan lantai. Ia melihat gestur keseharian tersebut sebagai tindakan yang menyimpan makna mendalam. Gagasan itu lahir dari dua pengalaman personal: kenangan tentang Molly yang semasa kecil mencuci pakaian di Sungai Ci Leueur, Ciamis, lalu membersihkan rumah, serta refleksinya terhadap situasi politik Indonesia sejak Reformasi. Dari dua pengalaman—yang satu intim dan domestik, yang lain politis dan struktural—lahirlah karya yang dipersembahkan sebagai hommage dan doa: untuk Molly, untuk negeri, dan untuk alam semesta.
Momentum pameran yang berlangsung bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 2026 semakin memperkuat dimensi spiritual dalam praktik artistiknya. Dalam pandangan Tisna Sanjaya, seni bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan laku batin dan tanggung jawab sejarah. Melalui Cultural Amnesia, ia menegaskan kembali bahwa seni dapat menjadi ruang kritik sekaligus ruang doa—tempat ingatan dirawat dan harapan dipanjatkan.
Sekian Terimakasih
Salam Sehat Bahagia senang Gembira
Bandung, 26 Februari 2026









