lokasi terdampak. foto karya Dr. Rasyidin M.Sn
Aceh-Sumatra | Bahana banjir bandang telah melumat habis sendi-sendi kehidupan masyarakat, menyapu bersih segala yang dimiliki—mulai dari peranti pakai yang ringkih dan fana, hingga kebutuhan primer berupa sandang, pangan, dan papan. Benda-benda tersebut bukanlah sekadar materi, melainkan entitas yang berkelindan erat dengan identitas kebudayaan setempat, baik dalam skala domestik maupun di mata dunia internasional.
Jika kita membedah artefak domestik ini, nampak jelas jejak warisan leluhur di dalamnya. Benda-benda yang diturunkan secara estafet dari generasi ke generasi merupakan fragmen sejarah dan perilaku kolektif yang tak mungkin dipisahkan dari jati diri sebuah bangsa.
Peradaban di Tengah Arus Abnormal
Dalam kemelut bencana, benda-benda bersejarah tersebut sirna terseret arus, menyisakan keselamatan hanya pada wilayah yang luput dari terjangan. Menghadapi situasi up normal ini, diperlukan upaya proteksi dan benteng pertahanan untuk menjaga agar marwah budaya tetap tegak. Sangat krusial untuk mengingatkan para pemangku kepentingan—baik donatur maupun relawan—agar dalam proses rekonstruksi, mereka tidak sekadar membangun fisik, namun membangkitkan kembali simbol-sendi peradaban tersebut.
Dalam konteks Tanoh Gayo, pengalaman empiris saya sebagai relawan menunjukkan realitas yang getir. Dari amatan langsung, saya mengidentifikasi hilangnya dua dimensi budaya: kebudayaan fisik (tangible) yang kasat mata dan kebudayaan non-fisik (intangible) yang tak terlihat. Manifestasi fisik yang paling terdampak dalam pengamatan saya adalah aspek arsitektur dan kuliner.
Arsitektur: Menenun Kembali Local Genius
Sebagai observer aktif di Tanoh Gayo, saya menyaksikan bagaimana arsitektur khas—seperti Meunasah (Mushalla) dan rumah adat Umah Pitu Ruang—serta kuliner warisan buyut mulai terancam. Dalam tata ruang kampung yang dipimpin oleh seorang Reje, Meunasah hadir dengan karakteristik atap piramida yang ikonik. Begitu pula dengan Umah Pitu Ruang yang menjadi poros perhatian arsitektural.
Mitigasi bencana dalam perspektif ini menuntut penyelamatan potensi budaya lokal di bawah panduan para ahli. Tujuannya jelas: mengarahkan para dermawan agar proses pemulihan fasilitas yang hancur tetap berpijak pada konsep budaya setempat.
Melalui peran aktif tersebut, kami berhasil mengawal pembangunan Masjid Siaga sumbangan Masjid Nusantara. Dengan mengadopsi prinsip local genius, Masjid tersebut tegak tanpa mencerabut akar kearifan lokal. Di Desa Uning Mas, meski dalam situasi darurat dan keterbatasan waktu, kami berhasil mengarahkan rancang bangun Meunasah dengan metode Umah Pitu Ruang sebagai prototipe terdekat, menggantikan rencana awal kubah piramid yang terkendala teknis.
Kuliner: Rasa yang Tak Boleh Larut
Aspek kedua yang saya cermati adalah khazanah kuliner Gayo. Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Aceh memegang teguh tradisi Meugang atau Munggah—sebuah ritual menyantap daging yang telah mendarah daging. Di tengah lokasi bencana, saya sempat mencecap Gutet (talas kukus berbalut daun) yang autentik.
Pengalaman ini membawa saya pada satu kesimpulan: pemulihan kehidupan masyarakat terdampak harus mencakup pemulihan kebudayaan mereka. Momentum Ramadhan harus dijadikan titik balik di mana masakan daging khas Gayo menjadi prioritas. Hal ini penting agar rehabilitasi pascabencana menyentuh seluruh sektor, terutama identitas kultural masyarakat.
Para donatur saat ini mulai menginisiasi program “masak besar” dengan bahan baku sapi atau kerbau. Di sinilah relawan lokal harus berperan sebagai pemandu, memastikan bantuan tersebut tidak mengabaikan kekayaan rasa daerah, seperti:
- Cecah Reraya/Kekulit: Olahan kulit dan jeroan kerbau/sapi dengan bumbu kelapa gongseng dan perasan getah pohon uwing atau tingkem yang sepat namun magis.
- Ayam Sengeral: Ayam kampung yang kaya rempah dan kelapa sangrai, gurih tanpa sentuhan santan.
- Cecah Menet: Daging cincang dengan campuran kulit batang kayu menet yang berkhasiat sebagai obat tradisional.
- Masam Jing: Sajian asam pedas berwarna kuning dengan bumbu dapur yang kental dan menggugah selera.
Penutup: Mencegah Hilangnya Jejak
Besar harapan saya agar pengawasan terhadap seluruh aset budaya lokal menjadi agenda serius bagi pemangku kebijakan pemulihan bencana. Jika kita abai dan tidak menyikapi hal ini dengan saksama, kita berisiko mengulang tragedi kehilangan aset kebudayaan yang sama pahitnya dengan peristiwa Tsunami Aceh 2004 silam. Kebudayaan adalah ruh dari sebuah rekonstruksi fisik; tanpanya, bangunan hanyalah benda mati tanpa makna.



