Di pergantian tahun 2025 ke 2026, ketika bau tanah bencana alam di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara masih menyengat, Presiden Prabowo hadir memberi cahaya harapan tulus.
Memang Presiden memilih malam pergantian tahun di Posko Pengungsian Batu Hula, Batang Toru, Tapanuli Selatan, bukan di istana megah, tapi di atas tikar sederhana bersama ribuan pengungsi.
Presiden menyapa korban, makan malam bersama, lalu duduk bahu-membahu menonton film animasi karya anak bangsa yang mengisahkan keberanian menghadapi badai hidup.
Tawa anak-anak pengungsi pecah di tengah tenda, menyembuhkan luka yang tak terlihat. Menjelang tengah malam, Presiden mengajak semua bernyanyi “Tanah Airku” dan “Rayuan Pulau Kelapa”. Suara haru bercampur syukur memenuhi udara, menyambut 2026 dengan ikrar bersama. Kita tidak sendiri.
“Percayalah, Presidenmu tidak akan meninggalkanmu,” ucap beliau dengan tegas. Kata-kata itu bukan sekedar pelipur duka, melainkan wujud kasih sayang pemimpin kepada rakyatnya.
Ini mengingatkan pemikiran filsuf besar Jean-Jacques Rousseau, negara lahir dari kehendak rakyat untuk saling melindungi. Saat seorang pemimpin turun ke lumpur, duduk di tikar, dan bernyanyi bersama rakyatnya, ia sedang menghidupkan kembali esensi bernegara, bukan kekuasaan.
Pagi harinya, 1 Januari 2026, Presiden bertolak ke Aceh Tamiang, melihat dari dekat pembangunan hunian sementara oleh Danantara. Ratusan rumah layak huni, dengan listrik, air bersih, bahkan Wi-Fi—dibangun kilat demi mengembalikan martabat warga.
Presiden memuji tim lapangan, jembatan darurat dibangun hanya dalam 10 hari, membuat denyut kehidupan ekonomi lokal.
Aristotle pernah mengatakan, negara yang baik, mengutamakan kebaikan bersama (common good), bukan kepentingan segelintir elite.
Sebab “Manusia adalah zoon politikon, makhluk yang hidup dalam komunitas politik.”
Kebersamaan Presiden saat menonton film bersama anak-anak pengungsi, bukti nyata negara bukan abstraksi dingin, tapi ikatan emosional hangat.
Ketika seorang presiden menanyakan langsung program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada anak-anak dan meminta maaf atas kendala penyaluran, ia sedang menjalankan tanggung jawab moral. Empati itu menyala terang di seluruh penjuru negeri.
Di Jakarta, perayaan tahun baru tanpa kembang api, diisi doa bersama dan penggalangan dana Rp3,6 miliar untuk korban. Masyarakat ibu kota membuktikan bahwa Indonesia adalah keluarga besar yang saling menguatkan.
Wujud nyata “veil of ignorance”, jika kita tak tahu posisi kita di masyarakat, kita akan membangun sistem yang adil bagi semua, termasuk yang paling lemah.
Pesan paling tegas dari presiden adalah untuk para pemegang hak pengelolaan hutan. Jaga lingkungan, atau izin dicabut. Ini adalah panggilan etika. The Imperative of Responsibility, di era teknologi modern, kita memiliki tanggung jawab baru untuk menjaga bumi bagi generasi mendatang.
Bencana bukan sekadar musibah alam, tapi cermin kegagalan manusia menjalankan amanah sebagai khalifah fil ardhi.
Seperti kata Franz Magnis-Suseno, negara yang kuat adalah negara yang berpihak pada yang kecil, yang miskin, yang tertindas.
Kunjungan Presiden ke pengungsi, apresiasinya pada petugas lapangan, hingga kepeduliannya pada gizi anak-anak, adalah praktik nyata dari keutamaan bernegara yang berakar pada nilai-nilai luhur Pancasila.
Tahun 2026 dimulai dengan pelajaran indah bahwa di tengah cobaan berat, kita menemukan kekuatan besar tentang kasih sayang, solidaritas, dan kepemimpinan.
Dan pemimpin sejati adalah philosopher-king yang bijak, bukan ia yang haus kekuasaan, rendah hati, dan melayani. Presiden Prabowo, dengan langkahnya di lumpur dan nyanyian bersama rakyat, sedang menulis babak baru filsafat bernegara.
Bahwa negara hidup, bernapas bersama rakyatnya.
Mari kita jadikan 2026 sebagai tahun kebangkitan sejati. Karena di balik setiap bencana, ada cahaya kebersamaan yang semakin terang.
Di balik setiap duka, ada harapan tumbuh subur dari tanah yang sama yang kita pijak bersama. Selamat Tahun Baru 2026, tahun penuh berkah, tahun pemulihan, dan tahun solidaritas.









