JURNALISME KEBENCANAAN

jurnalismekeb 1

Secara geografis Indonesia, terperangkap dalam pertemuan lempeng tektonik aktif antara Cincin Api Pasifik, yang menyebabkan rentan terhadap bencana geologi, gempa, tsunami, erupsi vulkanik. Konfigurasi kepulauan dengan topografi curam memperburuk kerentanan hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan longsor.

Krisis iklim mempercepat siklus ini, sehingga frekuensi bencana akibat cuaca ekstrem melonjak dalam dekade terakhir. Yang ini bukan semata alamiah, melainkan dimungkinkan akibat eksploitasi manusia terhadap ekosistem.

Bencana bukan hanya ancaman fisik, tapi juga ujian sistemik terhadap komunikasi dan resiliensi sosial.
Peran media dalam melakukan peliputan bencana kesiapsiagaan, respons, pemulihan seakan tak tergantikan.

United Nations Office for Disaster Risk Reduction – UNDRR, lembaga PBB yang bekerja untuk pengurangan risiko bencana menegaskan, tanggung jawab media mengedukasi publik untuk mitigasi risiko. Namun, praktik di Indonesia sering menyimpang, banyak media yang saat pasca-kejadian melakukan peliputan dengan logika “bad news is good news”, mengabaikan edukasi preventif.

Pakar Komunikasi Internasional Simon Cottle dari Cardiff University, dalam Disasters and the Media, mengkritik “ritualisasi katastrofe”, dimana penderitaan dijadikan spektakel, kalkulasi korban mendominasi, tapi akar masalah struktural yang harus dibantu terlupakan. Ia mendorong konsep “injunction to care”: yakni sikap peduli dan perhatian jurnalisme dalam membangkitkan empati dan aksi kolektif.

Kerangka Crisis and Emergency Risk Communication (CERC) dari CDC AS menekankan membangun konstruksi komunikasi yang akurat, tepat waktu, berempati, mencegah kepanikan, dan membangun trust.

Memang era digital bisa jadi menambah infodemik hoaks menyertai setiap isu bencana yang dikapitalisasi sekedar mengejar algoritma. Dalam konteks ini media harus jadi “clearing house fakta”. Seorang pegiat bencana Amerika J.B. Houston mengatakan, jurnalisme bencana harus holistik, paham tentang mitigasi hingga resiliensi.

Meski disadari bahwa posisi jurnalis mempunyai kerentanan secara fisik, psikologis, bahkan dari dampak hoaks.

Studi Lars Englund seorang komunikator Swedia menyoroti tentang etika emosi yang kerap menjadi titik kritis bagi jurnalis. Dalam beberapa kasus, jurnalis televisi nasional, saat live report dari lokasi banjir atau gempa besar, tak kuasa menahan air mata melihat penderitaan korban, anak kehilanglangan orang tuanya, rumah rata tanah dan faktor buruk lainnya.

Tangisannya terekam kamera, sempat ditayangkan, tetapi kemudian redaksi memutuskan untuk take down, alasannya jurnalis tak boleh hanyut perasaan hingga mengaburkan objektivitas. Kode etik jurnalistik menuntut profesionalisme, emosi pribadi tak boleh mendominasi narasi, karena liputan harus tetap netral, faktual, mencerahkan, bukan menambah drama emosional yang bisa menyesatkan publik atau mengeksploitasi duka.

Masalahnya berita yang sudah di take down terlanjur viral di media sosial. Ketika publik mendengar bahwa kontennya sudah dihilangkan dari platform media tersebut, publik justru penasaran.

Kasus semacam ini memang seringkali memicu debat filosofis, apakah menangis membuat jurnalis lebih manusiawi, atau justru melanggar batas profesi? Pakar seperti Kovach dan Rosenstiel dalam The Elements of Journalism berargumen bahwa represi emosi total seperti robot tak manusiawi, harus terkontrol agar esensi dari empati itu tak bias.

Di Barat, seperti jurnalis Anderson Cooper CNN menangis saat liput Hurricane Katrina, justru dipuji sebagai autentik, membangun kedekatan dengan audiens. Namun, di Indonesia tampilan seperti itu bisa jadi masalah, karena khawatir akan terjebak pada sensasionalisme jauh dari akurasi data dan fakta untuk kepentingan pengambilan kebijakan.

Ini menggarisbawahi dilema, bahwa jurnalisme bencana menuntut keseimbangan antara empati dan distansi. Hanyut emosi bisa mengaburkan fakta, tapi tampil terlalu dingin dapat mengikis nilai empati dan kemanusiaan. Maka yang dibutuhkan adalah sosok jurnalis yang mampu membangun kekuatan bijak dalam liputannya, sehingga setiap yang disampaikan menjadi catatan sejarah masa depan secara resilien.

Ingat informasi yang benar adalah yang terkendali secara emosi, sehingga media dapat menjadi benteng utama dalam penanganan pemulihan pasca bencana.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *