Setiap kali Persib Bandung dan Persija Jakarta bertemu, atmosfer sepak bola Indonesia selalu berubah. Ada gairah, ada kebanggaan, tetapi juga ada kecemasan yang sulit dihindari. Rivalitas dua klub besar ini bukan semata urusan skor dan klasemen, melainkan telah lama menjadi peristiwa sosial yang menyentuh emosi publik, khususnya di Jawa Barat dan Jakarta.
Pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta sendiri dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 11 Januari 2026, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Sejak jauh hari, laga ini sudah menyedot perhatian besar. Tiket pertandingan habis terjual beberapa hari sebelum kick-off. Antusiasme tersebut tentu membanggakan, namun sekaligus menuntut kedewasaan bersama agar sepak bola tetap menjadi ruang kegembiraan, bukan sumber ketegangan.
Dalam konteks itulah imbauan Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, patut dibaca secara utuh. Ia mengajak masyarakat untuk merayakan pertandingan melalui kegiatan nonton bareng di daerah masing-masing. Pemerintah provinsi bahkan telah meminta para kepala daerah di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat untuk memfasilitasi nobar, baik di aula pemerintahan maupun di gelanggang olahraga.
“Persib ini bukan hanya milik Kota Bandung, tetapi milik Jawa Barat,” ujar Erwan Setiawan usai rapat koordinasi pengamanan pertandingan di Mapolrestabes Bandung. Pernyataan tersebut tidak sekadar ajakan teknis, melainkan penegasan bahwa identitas Persib melekat pada kebersamaan warga Jawa Barat, bukan pada dorongan untuk memaksakan diri hadir di stadion.
Langkah ini juga tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan keamanan. Aparat kepolisian memahami betul bahwa laga Persib kontra Persija selalu memiliki tingkat risiko tinggi. Karena itu, Polda Jawa Barat mengambil alih langsung pengamanan pertandingan. Kapolda Jabar, Irjen Pol Rudi Setiawan, menegaskan bahwa pengamanan ini dilakukan agar koordinasi dengan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya dapat berjalan lebih efektif.
Pengawasan tidak hanya dilakukan di sekitar stadion, tetapi juga diperluas ke jalur-jalur masuk Kota Bandung, baik melalui transportasi darat maupun kereta api. Bahkan, ruang digital turut menjadi perhatian. Kepolisian memantau media sosial untuk mengantisipasi ajakan atau hasutan dari oknum yang berpotensi memperkeruh suasana. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keamanan hari ini tidak lagi sebatas pengamanan fisik, tetapi juga pengelolaan percakapan publik.
Di sisi lain, Polda Metro Jaya mengeluarkan imbauan tegas kepada kelompok suporter Persija Jakarta, The Jakmania, agar tidak datang ke Stadion GBLA. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan bahwa larangan kehadiran suporter tim tamu pada laga tandang masih berlaku dan harus dipatuhi demi keamanan serta kenyamanan bersama.
Imbauan tersebut bukanlah pembatasan semangat dukungan, melainkan ajakan untuk menunjukkan kedewasaan sebagai suporter. Dukungan tetap dapat diberikan tanpa kehadiran fisik di stadion, baik melalui nonton bareng yang terorganisir maupun dari rumah. Cara-cara ini justru mencerminkan kecintaan pada klub yang disertai tanggung jawab sosial.
Sebagai penonton sepak bola, saya melihat langkah pemerintah daerah dan kepolisian kali ini sebagai ikhtiar menjaga akal sehat sepak bola. Negara hadir bukan untuk mematikan gairah, melainkan untuk memastikan gairah itu tidak berubah menjadi bara. Sepak bola seharusnya menjadi ruang belajar tentang sportivitas, bukan ajang pelampiasan emosi kolektif.
Pertandingan Persib dan Persija akan tetap panas dan penuh tensi. Namun, kedewasaan suporter, kejelasan sikap pemerintah, serta pendekatan humanis aparat keamanan menjadi fondasi agar laga berakhir dengan cerita tentang permainan dan strategi, bukan tentang kericuhan dan penyesalan.
Harus diakui, bahwa mencintai klub kesayangan itu tidak bisa dilepaskan dari makna menjaga ruang bersama. Kemenangan sejati dalam sepak bola bukan hanya soal hasil akhir, tetapi tentang bagaimana semua pihak pulang dengan rasa aman, martabat yang utuh, dan kenangan yang layak disimpan. []








