RESPECT : Mr. Naturalisasi WNA di Pulau Dewata Bali

BALI

Perasaan “respect” (rasa hormat) terhadap warga negara asing (WNA) yang dinaturalisasi (menjadi Warga Negara Indonesia atau WNI) di Pulau Dewata Bali sangat bervariasi dan kompleks, tergantung pada perilaku individu yang bersangkutan dan bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Secara umum, sentimen masyarakat Bali dapat dijelaskan sebagai berikut:

Rasa hormat positif bagi yang terintegrasi dan menghargai budaya. Banyak WNA yang mengajukan naturalisasi atau menjadi WNI karena kecintaan mereka yang mendalam terhadap adat istiadat, budaya, dan kearifan lokal Bali.

Warga lokal cenderung menerima dan menghormati mereka yang berusaha mengasimilasi diri, mempelajari bahasa, dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam sistem banjar adat. Proses integrasi sosial ini sering kali berhasil jika ada pemahaman dan interaksi yang baik antara kedua belah pihak.

Sentimen negatif terhadap WNA yang bermasalah. Di sisi lain, terdapat keprihatinan dan sentimen negatif yang meningkat terhadap WNA (khususnya turis atau ekspatriat jangka pendek) yang melanggar hukum, tidak menghormati adat istiadat setempat (misalnya, berpakaian tidak pantas di tempat suci, mengganggu ketertiban), atau membentuk “koloni” eksklusif yang meminggirkan ekonomi lokal.
Pihak berwenang Bali telah memperketat pengawasan dan penegakan hukum untuk menekan celah WNA bermasalah.

Ada juga seruan di media lokal agar masyarakat Bali “berhenti mendewakan bule” dan lebih menghargai identitas lokal.

Proses naturalisasi yang ketat. Pemerintah, melalui Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali, melakukan verifikasi lapangan dan menguji wawasan kewarganegaraan, pajak, dan catatan kriminal pemohon naturalisasi untuk memastikan mereka layak menjadi WNI yang baik.

Jadi kalau kita simpulkan bahwa “rasa respect” di Bali tidak didasarkan semata-mata pada status kewarganegaraan baru, melainkan pada sikap, perilaku, dan kontribusi individu terhadap komunitas dan budaya lokal. WNA naturalisasi yang menunjukkan rasa hormat dan berintegrasi dengan baik umumnya diterima dan dihormati oleh masyarakat Bali.

Toleransi beragama di Bali:

Di Bali, toleransi antarumat beragama terjalin dengan baik. Saling menghargai keyakinan masing-masing menjadi nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali. Toleransi ini tercermin dalam berbagai kegiatan sehari-hari, dari acara keagamaan hingga kegiatan sosial yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

Agama Hindu Dharma di Bali berbeda dengan Hindu di India, meskipun dianggap berakar sama, karena Hindu Bali sangat kuat sekali terakulturasi dengan budaya kearifan lokal sunda, sunda besar sunda kecil Nusantara, kaharingan, animisme/dinamisme pra-Hindu, dan juga dipengaruhi Sriwijaya, menghasilkan perbedaan signifikan dalam ritual (Pura Desa, persembahan lebih beragam seperti rokok/alkohol), festival (Nyepi), dan konsep ketuhanan (penekanan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Acintya sebagai manifestasi Brahman), berbeda dengan Hindu India yang lebih beragam sekte, filosofi (Weda/Purana), dan praktik ritual yang bervariasi.

Perbedaan ini muncul karena Hindu di India mungkin dianggap lebih tua dan beragam, sementara Hindu Dharma Bali, ada yang berpendapat memperlirakan terbentuk dari perpaduan ajaran Hindu dari India, dengan akulturasi tradisi lokal yang kuat.

Jadi pada dasarnya, meskipun berbeda dalam praktik dan budaya, keduanya tetap berakar pada prinsip dasar filosofi Hindu. Hindu Bali adalah contoh bagaimana tradisi universal dapat beradaptasi dan berkembang menjadi bentuk unik yang kaya di lingkungan budaya yang berbeda.

Rasa toleransi universal di Bali:

Rasa toleransi universal di Pulau Dewata Bali ini, terwujud lewat adat istiadat yang menyatu dengan agama, menciptakan harmoni antarumat beragama, di mana perbedaan dihormati sebagai bagian dari kekayaan budaya, tercermin dalam tradisi seperti Ngejot (saling berbagi makanan saat hari raya) dan filosofi Tri Hita Karana (harmoni dengan Tuhan, manusia, alam), menjadikan Bali contoh hidup toleransi yang mengakar kuat dalam kehidupan sosial dan ritual sehari-hari, meskipun tantangan intoleransi tetap ada, karena hidup dalam kehidupan ini Dualitas.

Wujud Toleransi Terlihat di Bali:

Adat dan Agama Menyatu: Toleransi bukan hanya konsep, tapi praktik sehari-hari. Ritual Hindu dan tradisi Islam hidup berdampingan, bahkan saling mendukung.

Tradisi Ngejot: Umat Hindu memberi makanan saat hari raya (Galungan, Kuningan), sementara umat Islam membalas saat Idulfitri. Ini menunjukkan saling memberi dan menghargai.

Tri Hita Karana: Filosofi ini (harmoni dengan Tuhan, sesama, dan alam) menjadi landasan, mendorong kerukunan dan sikap saling menghormati tanpa memandang agama.

Menyama Braya: Konsep persaudaraan, di mana semua warga Bali, terlepas dari agama, merasa sebagai satu keluarga besar, memperkuat toleransi.

Dialog Antaragama: Masyarakat aktif menjalin komunikasi untuk menjaga kedamaian di tengah keberagaman.

Contoh Praktis:

Umat Islam di Bali tidak kesulitan menjalankan ibadah, karena adat setempat menghargai keberagaman keyakinan. Gotong royong dalam kegiatan sosial tetap berjalan tanpa membedakan latar belakang agama.

Tantangan dan Solusi:

Meskipun toleransi tinggi, kasus penolakan terhadap pemuka agama tertentu menunjukkan adanya tantangan. Solusinya adalah penguatan literasi sejak dini dan terus secara edukasi mempromosikan sikap saling menghormati agar nilai toleransi tetap lestari.

Secara keseluruhan, toleransi di Bali adalah perpaduan unik antara kearifan lokal, adat istiadat Hindu yang pluralis, dan praktik kehidupan sehari-hari yang menjunjung tinggi ideologi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dalam harmoni atau Keselarasan antarumat beragama di Nusantara Indonesia.

Sekian Terimakasih
Salam Rahayu Jaya Waluya Walagri Mulya Nugraha Sampurna SapapanjangNa Bangsa Sunda Nusantara Indonesia…

Bandung, 10.Desember.2025


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *