Lukisan ini menampilkan sebuah komposisi abstrak-kaligrafi dengan dominasi warna gelap, yang berpusat pada sebuah bentuk kaligrafi Arab yang dikelilingi oleh pola lingkaran. Namun ada lingkaran berwarna terang dalam lukisan tersebut, seakan menegaskan, sang pelukis merasa diri berlumur lumpur duniawi yang gelap, hendak menuju terang batin dan pikiran. Quran diturunkan, dalam ayat pertama Surat Ibrahim menegaskan: menghijrahkan manusia dari kegelapan menuju pelita yang menerangi alam batin (pikiran dan perasaan).
Allah dalam lukisan tersebut, mengacu kepada Sang Kausa Prima, penyebab Utama semua kejadian di alam semesta yang tak berhingga, termasuk dibenarkan oleh seorang Cicero, filsuf dari Yunani, yang mendebatkan eksistensi Tuhan sejak jaman Epikuros, yang menurut Cicero, adalah filsuf pendahulu paling bernas menerangkan eksistensi Tuhan.
Allah dalam lukisan kaligrafis Zawawi, di letakkan di tengah, hendak menegaskan adalah entitas yang sentrifugal dari semua pergerakan alam makrokosmos, termasuk mikrokosmos sang pelukis. Ia menyerupai kalbu yang terdiri dari jantung dan lever, yang menjadi pusat kehidupan manusia. Jantung adalah Allah yang zahir atau nampak bagi tiap manusia. Tak seorang pun bisa memerintahkan denyut jantung harus berketukan seperti apa, sebab jantung adalah Allah yang zahir, dan lever atau hati, adalah Allah yang bathin (tidak nampak). Periksa Quran surat Alhadid ayat 3 – 5: Dia tidak berawal, Dia tidak berakbhir, Dia yang nampak dan Dia yang tidak nampak, dan Dia maha mengetahui atas segala perkara.
Objek yang mengurung huruf Allah, membentuk kepala manusia, di mana dalam kepala itu, terdapat otak dengan fungsi sebagey akal, tempat manusia disebut mulia atau hina, karena akalnya berfungsi atau tidak. Akal ini maha mengetahui atas perkara tiap orang per orang. Akal juga menjadi penjelmaan Allah, jika akal itu digunakan untuk berpikir yang selaras dengan denyut jantung dan getaran hati. Karena itulah, Dia maha mengetahui atas segala perkara dirinya. Kau boleh membohongi aku secerdas-cerdasnya, tapi akalmu tidak bisa membohongi nuranimu. Itulah, bahwa Allah yang mikrokosmos, mengetahui atas segala perkara pada dirinya. Landasan inilah kiranya yang menyebabkan Syeh Siti Jenar mengatakan, “Aku adalah allah!”
Lukisan ini, meski tampak sederhana, namun mengandung kompleksitas makna, apalagi terdapat tekstur dan kontur yang abstaktif, yang memancarkan makna simbolis, yang tentu dapat didekati, difahami, dari berbagai sudut pandang, arah, dan pola pikir yang menyimaknya. Semakin si penyimak menggunakan akalnya, dan memiliki kecerdasan spritual serta emosional, semakin lukisan ini memendarkan kilowan-kilowan hakikat maupun makrifat. Peun!
Typo is my idolohi!





