Asal Usul Takbiran
Berdasarkan satu riwayat, ketika golok (sejenis pisau) yang dipegang oleh nabi Ibrahim as., mengenai leher nabi Ismail, Jibril turun ke bumi sambil mengumandangkan takbir: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar’. Kemudian nabi Ismail menjawab: “Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar”. Disusul dengan suara nabi Ibrahim as., yang mengumandangkan lafal: “Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.”
Ada pun makna dari tiga lafal tersebut adalah: “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.” Sampai kini tiga lafal tersebut masih dikumandangkan dalam tiap malam perayaan hari raya Idul Adha. “Sudah berapa ribu tahun kah lamanya, sejak kali pertama dikumandangkan?” Pungkas Kiai Ali Abdul Kholik M.Pdi, (06/06/25) selaku Imam dan Khotib dalam perayaan Shalat Idul Adha yang di selenggarakan oleh Takmir Masjid MilikNya Bukan Milikku yang bekerjasama dengan warga Kp. Smeasari RT 01/RW 08 Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya.
Agenda Tetap
Doni M. Nur, selaku perwakilan dari pihak Majelis Ilmu MilikNya Bukan Milikku, dalam sambutannya mengatakan, “Bahwa hal ini sudah menjadi agenda tetap sejak kali pertama majelis ini berdiri dan sudah menjadi komitmen kami untuk berbagi hewan qurban..” Sambutan yang singkat dan padatnya itu ditutup dengan menyerahkan satu ekor sapi untuk warga sekitar yang diserahkan secara simbolis pada saudara Epul Saepuloh, selaku ketua RT 01 / RW 08 Kp. Smeasari.
Sementara Babeh Endin, selaku perwakilan dari pihak Takmir Masjid MilikNya Bukan Milikku, dalam sambutannya berbicara tentang hakikat qurban bukan sekadar ajang berbagi. Namun ada yang lebih penting dari itu, yaitu perihal ikhlas dalam melaksanakannya: “Berbagi itu hal yang sangat mudah, tapi berbagi yang didasari dengan ikhlas itu bukanlah istimewa, melainkan laku sewajarnya hidup yang sadar akan hakikat dan siapakah kita itu sebenarnya?” paparnya.
Role Mode
Dengan adanya Majelis Ilmu MilikNya Bukan Milikku, yang berdomisili di RT 01/RW 08, Kp. Smeasari menjadi salah satu kampung percontohan dalam semarak bulan puasa yang menjadi Kampoeng Ramadhan. Berdirinya UPZ Smeasari Berdaya. Program Ekonomi Umat. Selain itu gerakan shalat subuh bareng keluarga (GERBANG SURGA), menjadi agenda tetap bagi warga setempat yang tak pernah sepi dalam saban subuh dengan tematik; shalat subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan tahsin dan tausiah singkat.
Sedangkan disetiap minggunya, diadakan Tabligh Akbar dengan tematik JIHAD (ngaji di poé Ahad) dengan tetap tidak melepaskan tahsin paska selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah. Singkatnya, Kp. Smeasari menjadi kampung majemuk. Hal ini bisa dicermati dalam tematik syiar yang tidak dikhususkan untuk golongan tertentu saja pun dengan jamaah yang hadir.
Kolaborasi Antar Komunitas
Dalam melaksanakan program-programnya, Majelis Ilmu MilikNya Bukan Milikku tidak hanya berkolaborasi dengan warga setempat saja, melainkan bekerjasama dengan ragam komunitas, seperti UPZ Smeasari Berdaya, KPAI, BAKOMUBIN, Komunitas Seni, Komunitas Luar Pagar, Kalam Nada dan LDM Maiyah Tasikmalaya. Sehingga, dalam pelaksanaanya, tidak hanya program yang datang dari majelis saja yang terjadi di ruang tersebut.
Sepertihalnya Program Ekonomi Umat yang berkolaborasi dengan UPZ Smeasari Berdaya dan BAKOMUBIN selaku pemantik teori ekonomi. Serta program yang datang dari LDM Maiyah Tasikmalaya yang mengadakan rutin tawasulan di saban malam kamis, pihak majelis menjadi fasilitator tempat saja, pun dengan jamaah tawashulan, tidak hanya dari LDM Maiyah Tasikmalaya saja, melainkan ada juga jamaah dari warga setempat dan warga umum pun bisa mengikutinya. Hal ini senada dengan sebagaimana progam majelis lainnya, seperti dalam Program Maghrib Mengaji di saban harinya yang tidak dikhususkan untuk warga sekitar saja.
Simpul
Majelis Ilmu MilikNya Bukan Milikku yang mempunyai slogan ikhlas dengan ruang lingkup capaiannya: spiritual, integritas, kolaboratif, humanis, loyal dan adaptif ini merupakan sebuah upaya dalam membangun masyarakat yang tidak sekadar religius tapi juga romantis dalam menjalankan sisa roda kehidupan. Sehingga wujud gotong royong dalam program Ketahanan Umat sudah bisa dirasakan di kp. Smeasari Berdaya; “Capaian ini tentu saja bukan akhir, melainkan pondasi awal dalam membangun masyarakat yang majemuk.” papar H. Riki R. Permana M.Phil, selaku founder majelis, kala dihubungi via saluran WA. []













