Pulo Semuang: Mangkuk Air Tawar di Atas Laut Asin

simuang 3

Di seberang Pulau Tasipi, tampak sebuah pemukiman baru berdiri rapuh di atas karang. Di tempat ini, tanah tak lebih dari bongkahan patahan laut yang ditumbuhi bakau dan rumput laut. Namun di bawah permukaannya, tersembunyi sesuatu yang langka: cadangan tipis air tawar yang mengapung di atas air asin.

Itulah alasan orang-orang dari Desa Tasipi berpindah ke pulau ini dan menamainya Pulo Semuang. Mereka datang bukan karena tanah ini subur atau menjanjikan hasil tangkapan melimpah, melainkan karena air bersih mengalir dari bawah telapak kaki mereka.

semang 3
Dari karang ini, kampung lama Tasipi terlihat penuh. Di sinilah pulo Semuang bermula. [foto: Ar]

Dalam waktu kurang dari satu tahun, 23 rumah telah berdiri. Masing-masing rumah menggali sumurnya sendiri, hanya sedalam 1 hingga 2 meter. Beberapa menggunakan pompa kecil agar air dapat langsung dialirkan ke rumah. Satu sumur besar dibangun di tengah kampung, lengkap dengan bak semen berukuran 4×4 meter. Namun karena tekanan pompa tak mencukupi, sumur itu hanya menjadi cadangan. Sebagian besar warga mengandalkan sumur pribadinya.

Menariknya, masyarakat di Pulo Semuang telah terbiasa membagi dua jenis: air laut untuk keperluan seperti mencuci kaki dan buang air, serta air tawar yang digunakan untuk mandi, memasak, dan minum. Bahkan, air bersih ini dijual keluar kampung dalam bentuk depot galon untuk memenuhi kebutuhan hampir seluruh desa pesisir sekitar.

Airnya bening, tidak keruh, tidak asin, dan tak berubah rasa meski musim berganti. Namun bukan berarti aman. Dalam istilah geohidrologi, cadangan air ini disebut lensa air tanah, lapisan tipis air tawar yang terapung di atas air asin karena perbedaan massa jenis. Lensa ini hanya dapat terbentuk jika ada tutupan vegetasi dan ruang resapan yang cukup, seperti yang disediakan oleh hutan bakau.

semeang
Bekas bakau yang ditebang, tumpukan akar di bawah dermaga yang hampir runtuh. [foto: Ar]

Sayangnya, warga belum sepenuhnya memahami bahwa bakau adalah pelindung utama cadangan air tawar itu. Lahan dibuka untuk pemukiman dengan cara menebang bakau. Tidak ada panduan atau kesepakatan bersama soal penebangan. Upaya penanaman ulang memang telah dilakukan, namun masih terbatas di lokasi yang sebelumnya ditebang. Itu belum cukup.

Lapisan air tawar terbentuk dari air hujan yang meresap dan mengambang di atas air laut karena massa jenisnya lebih ringan. Ketika akar-akar bakau ditebang, struktur tanah menjadi longgar. Jika air ditarik terus-menerus tanpa jeda, air laut bisa menyusup naik dan mengubah Pulo Semuang menjadi pulau asin.

Dari foto udara dan pengamatan langsung, diperkirakan sekitar enam hektare hutan bakau telah dibuka untuk pemukiman. Batang-batang tua bekas penebangan masih tergeletak di depan rumah warga, seperti saksi bisu dari ekosistem yang terluka. Penanaman ulang pun belum sebanding dengan luasan yang hilang.

semang 2
Dermaga satu-satunya, kini mulai runtuh. Seumur dengan kampung ini. [foto: Ar]

Salah satu dampak paling nyata adalah dermaga kayu yang baru dibangun setahun lalu kini telah rusak. Papan-papannya bergelombang, tiangnya miring, seolah digerogoti dari dalam. Padahal, dermaga ini adalah satu-satunya jalur masuk ke kampung. Seumur dengan pemukimannya, kondisi dermaga mungkin mencerminkan masa depan Pulo Semuang jika tak ada penanganan serius.

Status administratif Pulo Semuang pun belum diakui secara resmi. Warganya masih tercatat sebagai penduduk Desa Tasipi. Tak ada lembaga yang mengatur pengelolaan sumber daya air di sini. Semua infrastruktur dibangun secara swadaya: rumah, masjid, jalan setapak, jembatan, hingga depot air. Semuanya tumbuh dari kebutuhan, bukan dari perencanaan.

Lalu, pertanyaannya: bisakah Pulo Semuang bertahan?

Untuk saat ini, air mungkin masih terasa melimpah. Tapi dalam hitungan tahun, dengan pertumbuhan jumlah rumah dan meningkatnya permintaan air galon ke luar kampung, lensa air tanah itu bisa menipis. Ketika itu terjadi, air asin akan menyusup ke sumur-sumur, dan Pulo Semuang akan kehilangan satu-satunya alasan untuk dihuni.

Menjaga Lensa, Menjaga Masa Depan

Solusi tak hanya soal larangan, tapi soal pengetahuan. Edukasi ekologis menjadi keharusan. Penataan ulang tata guna lahan, sistem tanam bakau berbasis kearifan lokal, dan pembatasan jumlah sumur bisa menjadi langkah awal. Bahkan, perlu dipikirkan sumur bersama dengan sistem distribusi air yang efisien, agar tekanan terhadap lensa air tanah bisa dikendalikan.

Beberapa langkah mendesak yang dapat dilakukan bersama warga:

  1. Regulasi depot air galon. Batas distribusi, jadwal pengambilan, dan retribusi lingkungan dapat dibahas bersama warga dalam musyawarah kampung.
  2. Penanaman bakau secara sistematis dan tepat lokasi. Tidak cukup hanya menanam di bekas tebangan. Harus dibangun kembali sabuk hijau (zona vegetasi alami) yang berfungsi sebagai penahan dan penyaring air.
  3. Pemetaan zona resapan dan kesepakatan pembukaan lahan. Warga perlu menyepakati wilayah perlindungan untuk menjaga daerah tangkapan air.
  4. Pembangunan sumur kolektif dengan pompa efisien. Dibanding sumur per rumah, satu sumur bersama akan lebih efektif menjaga tekanan dan kualitas air tanah.

Namun, semua ini tak bisa hanya dibebankan kepada warga. Pemerintah daerah, lembaga lingkungan, dan perguruan tinggi perlu hadir sebagai pendamping. Bukan datang untuk mengatur dari luar, tapi menyentuh dari dalam, melalui riset, pelatihan, dan penguatan kapasitas warga untuk menjaga air mereka sendiri.

Pulo Semuang adalah pengingat: pulau-pulau kecil bukan hanya batas terluar negeri ini, tapi juga tempat di mana krisis bisa dimulai lebih dulu. Tapi ia juga bisa menjadi tempat di mana solusi dirintis lebih awal, jika kita bersedia mendengarkan air yang diam-diam menyimpan kehidupan.***


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *