“Apakah matahari itu biangnya warna, sebab bisa melahirkan ragam warna kala membias di air bahkan dalam bayang fatamorgana?”
Saya tak tahu pasti warna itu apa. Apakah ia senyata-nyatanya warna atau hanya sekedar respon indrawi mata biologis semata? Apalagi saat ini ragam warna dalam satu jenis warna asal bermunculan, misal ada warna merah maroon, merah muda, merah salmon, merah darah, merah Indian dan yang lainnya.
Ragam warna dari satu jenis warna itu, pada gilirannya diproyeksikan untuk penambahan produksi kain di bidang konveksi. Katanya itu bagian dari pengembangan daya kesensitifan manusia.
Konvensi yang menentukan keberagaman jenis ini warna dengan sub-subnya — itulah inovasi emosional manusia. Sebab ia memberikan nilai manfaat dalam menumbuhkan selera baru pada manusia. Selera yang beragam itu “mudah-mudahan” bisa membuat hidup ini indah.
Ya hanya sebatas mudah-mudahan. Sebab banyak manusia berperang soal warna, soal selera. Sebagaimana kecintaannya terhadap warna favoritnya bisa membuat suami dan istri gagal berhubungan intim, seorang anak berani membunuh orang-tuanya dan sesama manusia dari masa ke masa bisa terus menerus bermusuhan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Ada madzhab merah putih biru dan lainnya. Ada ormas Islam kuning, hijau, hitam, putih dan lainnya. Ada Nasionalis, Agamis, Pancasilais dan is me lainnya. Pada akhirnya, semua warna itu baik, kalau intim. Masuk ke wilayah kemesraan, ikatan cinta kasih dan kepedulian universal. Indah.
Namun atau tapi, ya mudah-mudahan. Faktanya ragam warna itu semakin mengecilkan empati jiwa yang seharusnya besar, malah menyempitkan kesadaran yang seharusnya luas. Ya, lagi-lagi saya tak tahu pasti apa itu warna.
Untuk saat ini, saya hanya bisa ikut saja menerima — mengapresiasi hasil konvensi sebagian orang di dunia, sebagaimana kata indah itu muncul bagi keintiman pribadi yang berlaku “mungkin” bagi orang lain. Ada pun ketika ada kesamaan persambungan rasa keintiman dalam akal jiwa manusia secara komunal, hal itu bagian dari kasih sayang Tuhan yang mempersamakan dan mempersambungkan.
“Bisakah disebut warna?” [ihfa, 081224]









