Anyir yang Sama

jongko

Pasar adalah rimba peluh yang tidak punya urusan dengan kenangan, tetapi dari balik jongko daging itu, mantel kelabu dengan potongan leher yang kaku mendadak menghentikan waktu. Ia mengenali jahitan itu; benang-benang yang pernah dipeluk sebelum segalanya tumpah. Di atas meja kayu yang becek, di sela tumpukan pisau dan sisa lemak, buku catatan itu masih menyimpan bercak darah—tersamar di antara anyir darah potong yang mengering pada beberapa halaman terakhir.

Dunia tidak peduli. Orang-orang tetap saling sikut menawar harga di atas ubin yang licin, sedangkan ia hanya berdiri seperti orang tolol. Raganya terasa lumat, menjelma ribuan suara yang berhamburan mencari tempat berpijak. Ia memaksakan diri tegak, melepas pisau dari tangannya untuk keluar dari balik meja dagangan. Ia memburu bayangan itu di sela wajah-wajah dingin, tetapi kerumunan segera menelannya. Sosok itu sudah jauh melompat, sementara ia tertinggal di sana, menjadi sepi yang paling bising. []

Titik di Ujung Kalimat
Baca Tulisan Lain

Titik di Ujung Kalimat


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *