Transformasi Randu Gede: Swadaya Membangun Peradaban dari Pinggir Jalan Provinsi dan Rel Kereta

randu gede 1

Redy Rofiandi, kiri (rompi hijau) sedang memimpin rapat di Gedung Serba Guna Al Abror

RAJAPOLAH 15|02|2026 – Di tengah tantangan tata kelola sampah yang kerap menjadi isu pelik di tingkat desa, warga Kampung Randu Gede, Desa Rajapolah, memancarkan sinar optimisme. Bukan melalui keluhan, melainkan lewat gerakan swadaya yang terstruktur dan visioner. Mereka menegaskan komitmen untuk merombak wajah kampung menjadi lingkungan yang bersih, aman, dan berdaya saing melalui filosofi gerakan bottom-up—membangun dari bawah ke atas.

Darurat Sampah di Jalur Transisi

Aksi ini dipicu oleh kondisi geografis Randu Gede yang unik sekaligus rentan. Terjepit di antara rel kereta api dan jalan raya provinsi, kampung ini tidak memiliki trotoar penyangga. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh oknum dari luar wilayah sebagai “tempat pembuangan sampah ilegal” karena aksesnya yang terbuka.

randu gede 2
lokasi perbatasan sungai dan perkampungan warga

Ketua RT setempat, Pak Redy Rofiandi, menyoroti urgensi  kebersihan dan keselamatan di balik tumpukan limbah tersebut. “Saat hujan turun, sampah   diantaranya terbawa ke tengah jalan. Jika terlindas kendaraan, ban bisa selip dan berpotensi besar menyebabkan kecelakaan fatal,” tegasnya. Secara estetika, kawasan ini pun tampak kumuh, sangat jauh dari citra Rajapolah sebagai desa kreatif yang masyhur.

Sebagai langkah konkret pertama, warga bergerak mandiri memasang pembatas fisik berupa paranet, plang larangan, hingga pembatas baja ringan di titik-titik rawan. Menariknya, seluruh pembiayaan bersumber dari kantong masyarakat dan donatur, tanpa menyentuh anggaran pemerintah.

Resiliensi di Tengah Keterbatasan Fasilitas

Warga menyadari bahwa Pemerintah Desa Rajapolah bukannya abai, namun terkendala fasilitas. Dengan cakupan 22 kampung, armada pengangkut sampah desa hanya tersedia 3 hingga 4 unit yang fokus pelayanannya masih terserap di area pasar dan terminal.

Alih-alih menyalahkan birokrasi, warga Randu Gede memilih jalur resiliensi. Mereka membenahi internal terlebih dahulu agar tercipta sistem yang solid. Targetnya jelas: jika kampung sudah terbukti tertib dan disiplin dalam pengelolaan sampah secara mandiri, maka dukungan pemerintah—seperti lampu merkuri, tempat penampungan permanen, hingga teknologi pembakaran sampah ramah lingkungan—akan datang sebagai bentuk apresiasi atas prototipe yang sudah berjalan.

randu gede 3
aktifiytas warga memagari tepian jalur provinsi.

 Sebagaimana nama kampung Randu Gede, Pohon Randu (Yang Besar) itu tumbuh di Pinggir jalan sebagai penanda wilayah, sekaligus  dijadikan landasan filosofi untuk bergerak secara bersama sama  bahu membahu sebagaiman pohon randu dilambangkan sebagai pohon kehidupan yang melambangkan ketahanan, kebijaksanaan dan perlindungan.Dengan titik awal  langkah kerja yang diniatkan : Bersih Dulu, Baru Indah

Gerakan di Randu Gede tidak dijalankan secara terburu-buru. Ephron Herry, selaku tokoh masyarakat setempat menekankan pentingnya fondasi kebersihan sebelum melangkah ke hal lain termasuk estetika. “Seindah apa pun suatu tempat, jika kotor tetap tidak memiliki nilai,” ungkap salah satu perwakilan warga.

Warga merancang peta jalan (roadmap) yang ambisius namun realistis:

  • Fase Penertiban: Menanamkan disiplin sampah dan pemasangan fisik penghalau sampah liar.
  • Fase Penerangan: Meningkatkan pencahayaan jalan provinsi untuk keamanan dan kenyamanan visual.
  • Fase Estetika: Mengubah bekas titik kumuh menjadi taman kecil dan ruang hijau.
  • Fase Ruang Publik: Memanfaatkan struktur kampung yang berbentuk lingkaran (bundaran) sebagai area olahraga, jalan santai, dan interaksi sosial.

Sinergi Ekonomi

Lebih jauh lagi, gerakan ini berkelindan dengan visi ekonomi warga. Rencana kolaborasi dengan BUMDes telah digagas, mencakup unit usaha produktif seperti Warung Kopi Karang Taruna dan pengembangan Sistem Hidroponik untuk ketahanan pangan skala rumah tangga.

randu gwdw 5
aktifitas warga di tepi rel kereta api

Visi ini berpijak pada kearifan lokal. Warga Randu Gede ingin mengintegrasikan identitas mereka sebagai pengrajin—terutama sentra logam, bambu, dan aktivitas Kamasan (pengerajin perhiasan)—ke dalam penataan wilayah. Setiap ornamen yang akan dibangun kelak diupayakan selaras dengan habitat sosial setempat, sehingga pembangunan tidak mencabut warga dari akar budayanya.

Membangun Budaya, Bukan Sekadar Seremonial

Kekompakan warga Randu Gede sebenarnya sudah teruji. Kesuksesan penyelenggaraan kegiatan jalan santai tingkat RT, tapi bersekala luas beberapa waktu lalu menjadi bukti bahwa partisipasi publik sudah mengakar kuat. Gerakan-gerakan ini dipandang sebagai bentuk baru dari gotong royong yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.

randu gede 4
Tokoh Masyrakat Ephon Herry bersama warga kala beristirahat.

Warga menegaskan bahwa mereka tidak mengejar hasil instan. Perubahan ini bisa memakan waktu yang cukup panjang. Mereka mengibaratkan gerakan ini seperti menanam pohon randu, butuh waktu lama untuk tumbuh besar, pohonnya bermanfaat dan mampu bertahan lama.

“Kesadaran dibangun dari dalam, dilaksanakan bersama, dan hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan seluruh warga,” tutup mereka. Randu Gede kini tidak lagi hanya sekadar titik koordinat di pinggir rel, melainkan sebuah laboratorium sosial bagi Rajapolah yang lebih asri dan mandiri. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *