JOKER ?

ephhron herry joker kosapoin.com 1

Membaca teks drama pantalogi Rahim Kata Atawa Gugatan Dari Balik Titik karya Lintang Ismya dengan tokoh sentral Raka–Lastri dan tokoh-tokoh di dalamnya (bapak, ibu), tentu saja saya harus punya otoritas sebagai pembaca dengan sepenuh persepsi dan interpretasi tersendiri. Subyektivitas yang punya otoritas dalam pandangan awam dunia sastra. Namun justru dari sudut pandang personal itulah naskah ini bekerja: ia memancing pembaca menjadi saksi batin atas luka, trauma, dan bahasa tubuh yang tak selesai diucapkan.

Membaca naskah ini sembari ngopi… dan rasa pahit yang kutelan perlahan terasa seperti nikmat yang menyakitkan, atau sebaliknya: menyakitkan namun ada rasa nikmat yang khas. Kontradiksi rasa itu sejalan dengan struktur dramanya: kekerasan dan keintiman berjalan berdampingan, membuat pembaca terus berada di wilayah ambigu antara empati dan ngeri.

Saya jadi ingat petuah sepuh: “melak cabe jadi cabe, melak bonteng jadi bonteng (melak hade jadi hade melak goreng jadi goreng!).” Petuah ini terasa paralel dengan gagasan determinisme sosial dalam naskah: lingkungan, sejarah keluarga, dan luka masa lalu menjadi ‘tanah’ yang menumbuhkan karakter Raka dan Lastri.

Dan “bonteng” yang ditanamkan sembarangan di persemaian kebun cabe tentu saja tidak akan menjadikan bonteng rasa pedas. Begitulah kenikmatan purbawi menjadi asal mula cerita apakah ia akan menjadi baik atau sebaliknya. Naskah ini seperti mengajukan pertanyaan: apakah kebiadaban lahir dari naluri, atau dari sistem keluarga yang retak sejak awal?

Membaca naskah ini sambil ngopi bakal ketemu harmoni bila sambil udud… maksudku kepulan asap rokok ini mampu membimbingku ke alam jelajah ingatan multi kompleks—seperti membuka ingatan pada kisah panggung, film, novel, berita koran, atau cerita langsung di tengah percakapan masyarakat (perselingkuhan, pembunuhan, incest, dunia gelap gulita, dll). Cerita penuh darah, dan juga “broken horm”—sebuah tato typo nan satir (saya suka kata ini). Satir bahasa dalam naskah memperlihatkan bahwa kata-kata bukan sekadar dialog, melainkan rahim luka: tempat trauma dilahirkan kembali melalui ujaran yang patah dan brutal.

Berkali-kali kepulan asap ini menerawang… dan Joker (film) itu—folie à deux—terus membayang seolah ingin merebut porsi kisah Raka–Lastri dan memaksaku untuk menonton kembali (di youtube). Jatuh cinta pada aktornya yang bermain sangat gila luar biasa (meraih Oskar)… duh sudah lama jadi pada lupa…

Perbandingan dengan Joker terasa relevan karena kedua teks sama-sama menyoroti individu yang terlahir dari sistem sosial yang abai—bukan sekadar monster personal, melainkan produk kegagalan empati kolektif. Dengan segala heroisme tokoh Joker dan latar belakangnya… ia seperti Raka dan Lastri yang mampu membuat penonton/pembaca terusik… jangan-jangan-jangan-jangan ia ada karena ketidakpedulian kita pada tatanan sosial, sudah masa bodoh dengan moral orang lain—yang penting loe loe gua gua.

Dan yang paling parah, vonis itu jadi alat menghakimi dan membully sehingga terlahir “joker” baru: Raka–Lastri, ibu yang berselingkuh, bapak yang biadab…  Naskah ini terasa seperti gugatan terhadap masyarakat yang gemar memberi label tanpa mau memahami akar trauma—sehingga kekerasan beranak pinak sebagai siklus, bukan peristiwa tunggal. Ah, jangan-jangan penulis naskah ini… jangan-jangan saya pun termasuk? Oh tidak! Maksudku Joker itu hanya referensi liar dalam imajinasi.

Hehehe. Kupikir pada awalnya naskah ini cuma monolog berseri… tapi ternyata cocok jadi pertunjukan utuh (saya lebih setuju jangan dinarasikan oleh dalang). Menarik pertunjukan ini jika dipentaskan terdiri dari monolog-monolog dan berakhir dengan pertemuan tiga aktor di bagian akhir lakon. Struktur monolog terasa seperti ruang pengakuan dosa: tiap tokoh menjadi hakim bagi dirinya sendiri, sementara penonton dipaksa menjadi juri tanpa kepastian moral.

Namun naskah itu tak serta merta berakhir (sintesis)… kesimpulan itu: tak ada kesimpulan, karena ia akan menjadi tesis baru. Justru di situlah kekuatan dramanya: titik bukan penutup cerita, melainkan luka yang terus berdetak—sebuah gugatan yang menolak finalitas kebenaran tunggal. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *