Bentuk Opera Kecil atau Sekar Catur Lagu Sunda Berjudul Percoma dari Nano S.

Nano S. kosapoin.com

Sekar Catur Percoma karya Nano S. adalah drama musikal Sunda (opera kecil) yang memadukan lagu, dialog, dan gerak. Tinjauan mendalam menunjukkan filosofi mendalam tentang kritik sosial/hubungan manusia, etika kesopanan (tata krama), estetika seni tradisi yang dinamis, serta teknik vokal-instrumental (gamelan) yang terstruktur rapi.

Segi Filosofi dari Karya ini seringkali mengandung kritik sosial atau refleksi mendalam mengenai hubungan antarmanusia atau manusia dengan alam, khas gaya Nano S. yang kontemplatif namun tajam.

Dalam Etika atau Adab, terdapat penekanan pada tata krama, etika berbicara (sastra/bahasa Sunda), dan moralitas yang tersirat dalam dialog dan narasi, menegaskan pentingnya silih asah, silih asih, silih asuh.

Lagu “Percoma” karya Nano S. merupakan salah satu representasi penting dalam seni Sunda yang sering dikaitkan dengan format opera kecil atau sekar catur (nyanyian empat orang/dialog musikal). Karya ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah medium edukatif yang sarat akan nilai-nilai mendalam.

Berikut adalah tinjauan terhadap aspek filosofi, etika, estetika, dan teknik dalam konteks drama musikal Sunda:

1. Tinjauan Filosofi

Kehidupan Manusia dalam Lagu ini sering menggambarkan realitas sosial dan pencarian jati diri. Secara filosofis, karya Nano S. cenderung berpijak pada prinsip Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh (saling mencerdaskan, menyayangi, dan menjaga).

2. Tinjauan Etika

Di dalam Pesan Moral, sebagaimana lagu kaulinan atau kawihan Sunda lainnya, “Percoma” memuat ajaran tentang etika berperilaku dalam masyarakat dan tanggung jawab individu terhadap sesama.

Tentang relasi Sosial, dalam format drama musikal, ada interaksi antar tokoh menggambarkan norma kesopanan (tatakrama) dan konsekuensi dari pelanggaran etika sosial.

3. Tinjauan Estetika

Secara Estetika Paradoks Nano S. dikenal dengan gaya estetika yang menggabungkan kesedihan lirik dengan melodi yang dinamis, menciptakan pengalaman estetik yang disebut waas (perasaan rindu/haru yang mendalam).

Secara alur horizontal komposisi Harmonisasi Keindahan lagu ini terletak pada keselarasan antara vokal (suara) dan iringan musik instrumen yang membentuk satu kesatuan organik.

4. Tinjauan Teknik dalam Drama Musikal

Seni Vokal Sekar Catur, dalam Teknik ini melibatkan dialog yang dinyanyikan (paguneman) oleh beberapa penyanyi. Kesulitannya terletak pada sinkronisasi antara diksi, wirahma (ritme), dan ekspresi karakter.

Dalam Karya Seni Gending Karesmén, Sebagai bagian dari embrio drama suara Sunda, teknik penggarapan musik nya menggunakan pola karawitan yang terstruktur namun tetap memberi ruang bagi improvisasi emosional aktor.

Vokal dan Karakter dalam teknik menyanyi harus mampu membedakan karakter melalui warna suara tanpa meninggalkan pakem kualitas vokal Sunda yang berkualitas.

Struktur Ilmu Bentuk Musik (Musical Form)
Dalam Ilmu Bentuk Musik, lagu ini umumnya mengikuti pola Strophic atau bentuk( Frase A – Frase B – Frase A –
Frase C ) Frase A Tanya, Frase B Jawab,
Frase A1 Tanya, Frase C Jawab, yang sesuai dengan Struktur prinsip Balunganing Gending Banjaran (Patokaning Laras-Panglangen- Patokaning Laras- Pangrena) dimodifikasikan untuk kebutuhan dialog:

Intro: Bagian awal yang biasanya didominasi oleh dentuman kacapi atau instrumen pameget (pria) yang membangun suasana sebelum masuk ke vokal.

Verse (Bait): Berbentuk dialog antara tokoh pria dan wanita. Dalam liriknya, bagian ini memperkenalkan situasi (misalnya, suami pulang siang hari saat istri sedang memasak).

Reffrain (Inti): Menjadi puncak emosional atau pesan utama lagu yang diulang untuk menegaskan tema.

Interlude & Outro: Jembatan musik instrumental yang seringkali menampilkan kemahiran improvisasi untuk instrumen tradisional Sunda.

Naskah Lirik lagu Percoma, dari Nano S.

P : Pameget (Suami).
I : Istri (Istri).

Pengiring/Pamirig : Instrumen/Waditra- Kacapi Siter

Skala Nada/Tuner : Pelog Degung.

Perkenalan/Peringkat Pembuka oleh Kacapi Siter:

Sketsa Nada-nada Daminatila untuk Intro:

// 0 0 0 3 /
/34 5 4 3/
/ 34 5 4 3/
/34 5 4 3/ 0 0 0 4 /
/45 1′ 5 4/ 45 1′ 5 4/
/45 1′ 5 4/5 4 3 5/
/4 1 2 3/3 3 3 3/
/2 1 2 3/0 2 1 2/
/1 2 3 4/5 4 3 5/
/3 4 5 1’//
/0 1> 0 1>/

>
P : Masak naon mani seungit ngahiliwir…
>
I : Aeh geuning Engkang naha mulih siang-siang.
>
P : Di Kantor teu puguh cabak, rada teu ngareunah awak.
>
I : Duh… Hawatos di Dapur nembe beberes.
>
P : Cing, Goreng Oncom.
>
I : Hapunten teu acan garing.
>
P : Atuh eta goreng tempe.
>
I : Kapan kanggo Sayur-Lodeh…
>
P : Ngaraosan Angeun.
>
I : Teu acan disamara’an.
>
P : Geuning sagala teu acan, ari Akang dahar naon…?
>
I : Ulah ngarewong nu di Dapur osok Pusing…
>
P : Akang keur gering ubaran Sangu Sapiring.
>
I : Hawatos kanu teu damang di Sanguna nembe ngisikan.
>
P : Hanas Akang balik rusuh di Imah Aratah keneh… Duh, Percomah…

>
Interlud:
Masuk Lagu sekali lagi,

Bagian 2:

P : Cik ngorehan
sugan aya sangu poé

I : Aduh nembé pisan
dibikeun ka hayam rénggé.

P : Hayam di nomor
hijikeun Akang mah disapirakeun

I : Duh hapunten
manawi mo bakal sumping

P : Cing anu amis

I : Aya ogé buah ngora

P : Atuh pangninyuhkeun kopi

I : Hapunten teu aya gula

P : Cik cik neang ka warung

I : Warung kaleresan tutup

P : Na ieu téh poé
naon mana sial sial teuing

I : Ulah ngaberung
da lepat akang sorangan

P : Har ari enung
kuma mun akang kapaéhan

I : Antosan sakedap deui
urang nyanyu urang masak

P : Rek balik ka kantor
éra di imah nungguan lila

hhmmm PERCOMA…

Tamat…

Analisis Lirik dan Makna (Semantics)

Secara tekstual, “Percomah” (Sunda: Percuma/Sia-sia) menggunakan gaya bahasa Rumpaka Kawih yang lugas namun kaya akan metafora kehidupan rumah tangga.

Di dalam Makna Denotatif, Lirik lagu “Percoma” ini menggambarkan percakapan sehari-hari antara pasangan suami istri, seperti pertanyaan
“masak apa?” dan “kenapa pulang siang?”.

Makna Konotatif kata “Percomah” sering kali merujuk pada rasa sia-sia dalam usaha atau hubungan jika tidak didasari oleh pengertian dan kejujuran.

Gaya Bahasa dalam penggunaan diksi yang berirama (purwakanti) memberikan keindahan estetika saat dinyanyikan, yang merupakan ciri khas karya Nano S. dalam menjaga identitas budaya Sunda.

Karakteristik Musikal

Tangga Nada Dalam lagu Percoma ini menggunakan laras Pelog atau Degung yang khas dalam karawitan Sunda, memberikan nuansa melankolis namun tetap dinamis.

Dalam Harmonisasinya, meskipun liriknya sederhana, aransemen Nano S. dikenal detail dalam penempatan aksentuasi yang perkusif dan sinkopasi, yang membuat lagu ini tetap relevan di berbagai generasi di masyarakat khususnya di Jawa Barat.

Cukup Sekian Terimakasih,
Salam Budaya Lokal Jati Diri Bangsa…

Bandung, 02.Januari.2026,


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *