Cerpen Pulang karya Lintang Ismaya membawa pembaca memasuki dunia batin Melati, seorang dokter dengan identitas berparas cantik yang tampak berhasil secara profesional dan sosial—namun menanggung kesepian dan tanggung jawab yang berat. Cerita ini menunjukkan bahwa prestasi dan pengakuan sosial tidak otomatis menghadirkan ketenangan batin. Pengorbanan orang tua, tekanan hidup, tuntutan profesi, dan konflik personal menumpuk menjadi beban yang tak terlihat, tetapi membentuk keseluruhan pengalaman hidup seseorang. Kota-kota tempat Melati bertugas—Akulturasi, Suryalis, dan Absurd—menjadi simbol puncak kariernya: prestasi yang diakui banyak orang, tapi tidak mampu mengisi kekosongan batinnya.
Cerita dibuka dengan monolog batin Melati di tepi kubur ibunya: “Di tepi kuburmu ibu, ada rindu yang mencuat ke permukaan saat hati sedang nelangsa. Tetapi aku harus mengerti, ada kalanya kenyataan tak bisa dilawan, bahwa hidup punya aturan yang tak bisa dilanggar. Mawar ini untukmu. Langit dan matahari aku kembalikan pada catatan musim bersama doa yang aku apungkan pada-Nya!” Paragraf ini menegaskan kesedihan personal sekaligus kesadaran eksistensial tokoh. Rasa kehilangan digabungkan dengan penerimaan akan aturan hidup yang tak selalu bisa dikendalikan. Mawar, langit, dan matahari menjadi simbol doa, pelepasan, dan penghormatan kepada ibu, menciptakan suasana lirih dan reflektif. Secara implisit narasi monolog tersebut menekankan sunyi yang menabiki hati Melati, menghadirkan suasana batin yang intim dan personal.
Ungkapan batin Melati dilanjutkan melalui sajak pendek yang ditulis dengan tangannya sendiri: “Lentik api di ujung napasmu / Debur darah di palung rasaku //” Sajak ini menjadi saluran emosi yang terlalu dalam untuk diungkapkan secara langsung. Api menandakan intensitas batin, darah menggambarkan kedalaman kehilangan, dan palung menegaskan ruang internal yang gelap dan sunyi. Hujan yang jatuh di wajah Melati sekaligus mencerminkan hujan batin, menghubungkan ekspresi internal tokoh dengan persepsi pembaca. Melalui sajak ini, pembaca merasakan ketegangan emosional yang tidak muncul melalui tindakan nyata, tapi mampu membangun empati yang mendalam.
Latar keluarga dan masa kecilnya memperkaya pemahaman batin Melati. Ayahnya meninggal tersambar petir ketika Melati masih balita, meninggalkan Mami yang membesarkannya seorang diri. Mami menahan diri untuk tidak menikah lagi, bukan karena harta, tetapi demi menjaga keutuhan kasih sayang. Pengorbanan ini membentuk karakter Melati: kemandirian, tanggung jawab, dan kesepian yang melekat sejak dini. Kehilangan figur orang tua dan hubungan yang rumit dengan kekasihnya menjadi fondasi bagi pilihan hidup dan konflik internal Melati.
Dusun Sidomulyo sebagai tanah kelahiran bukan sekadar latar geografis, tetapi ruang kenangan dan ingatan emosional. Rumah lama, kuburan, dan warga yang menyambut hadir menegaskan kesunyian. Kepulangan Melati bukan pencarian kenyamanan, tetapi konfrontasi dengan seluruh kesepian, kehilangan, dan tanggung jawab yang menumpuk. Kejanggalan temporal—kehadirannya di pusara ibunya pada hari yang sama—menggambarkan pengalaman batin yang bergerak di luar hukum fisik; rindu, penyesalan, dan kehilangan mengikuti logika batin, bukan jarak atau waktu perjalanan.
Sejak awal, alur cerita memelihara nuansa surealis dan logika batin secara natural. Waktu terasa lentur, sajak seolah melayang sebagai luapan batin, dan simbol-simbol muncul dari kedalaman perasaan Melati. Dunia yang dihadirkan mengikuti logika rasa, bukan realitas sehari-hari, sehingga pembaca bisa masuk ke ruang sunyi tokoh dan merasakan rindu, kehilangan, serta kesepian secara penuh empati. Unsur surealis ini tidak terasa kaku atau artifisial, tetapi mengalir selaras dengan emosi dan pengalaman internal tokoh.
Peran Jamhari dan interaksi sosial Jamhari sebagai abdi setia keluarga, hadir sebagai saksi sosial sekaligus penopang moral. Ia mengurus kebutuhan praktis, termasuk penguburan Mami, tapi tetap berada di luar inti konflik batin Melati. Kehadirannya menekankan bahwa penderitaan terdalam sering tak terlihat bahkan bagi mereka yang paling dekat, sekaligus menegaskan jarak antara pengalaman internal tokoh dan pengamatan sosial.
Surat pendek yang ditulis Melati merujuk pada kekasihnya dan kisah Subadra-Buriswara. Surat ini memiliki fungsi simbolik ganda sebagaimana sajak pendeknya yang jadi penanda simbol konflik: menegaskan konflik personal yang menjadi penyebab kematiannya, sekaligus menempatkan Melati dalam narasi budaya tentang kehormatan, pengorbanan, dan penderitaan perempuan. Surat menjadi petunjuk bagi pembaca yang hidup: menegaskan bahwa kematian Melati adalah hasil tekanan emosional dan rasa kehilangan yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri yang menyebabkannya bunuh diri.
Kedatangan jenazah Melati pada keesokan paginya disampaikan tanpa dramatisasi berlebihan. Cerita menolak bingkai moral eksplisit, konsisten sejak awal. Bunuh diri ini menjadi puncak kesepian, tanggung jawab, dan kehilangan yang dipikul sendiri. Pembaca diajak mengembangkan empati dan memahami batin tokoh tanpa diarahkan menegakkan norma atau moral tertentu. Dua waktu—pucuk senja sebelumnya dan pagi berikutnya—menguatkan kesan realitas batin yang berbeda dari hukum fisik, sekaligus memperdalam nuansa eksistensial.
Pada kalimat terakhir cerpen tertulis: “Ligar Melati di negeri timur, tiga lambang tak bisa dipisah: kelahiran, perkawinan, dan kematian.” yang dipungkas dengan diksi “Hening!” menegaskan refleksi eksistensial universal. Seluruh hidup Melati—dari lahir, menjalani tanggung jawab sosial dan batin, hingga mati—merupakan satu kesatuan utuh. Di sisi lain, pernyataan ini menjadi metafora kehidupan manusia: kelahiran, hubungan, pengorbanan, dan kematian membentuk pengalaman emosional, sosial, dan eksistensial yang tak terpisahkan. Demikian pula dengan diksi “Hening!” menutup narasi dengan kesadaran batin yang mendalam. Ia memberi jeda reflektif bagi pembaca, menjadi simbol keheningan universal, menegaskan kesadaran eksistensial, dan mengundang pembaca merenungkan siklus hidup: kelahiran, hubungan, pengorbanan, hingga kematian. Keheningan ini bersifat literal, estetis, dan filosofis, menghadirkan ruang empati dan kontemplasi.
Bahasa cerpen puitis, intim, dan hidup. Metafora, sajak dan surat yang ditulis tangan Melati, detail rumah, payung di genggaman tangan Jamhari, serta pucuk senja yang kesumba dan deskripsi cuaca menjadi penyangga emosi yang memungkinkan pembaca merasakan pengalaman batin tokoh tanpa penjelasan moral eksplisit. Pucuk senja yang kesumba menegaskan transisi batin Melati: merah keunguan senja melukiskan batas antara hadir dan pergi, hidup dan duka, keindahan sekaligus kesedihan yang membara tapi tertahan, menggambarkan kesendirian dan kesunyian yang membungkus tokoh. Bahasa menjadi medium ekspresi batin sekaligus pengalaman estetis, menyalurkan emosi yang tidak tersampaikan melalui tindakan nyata, hal ini mampu mengundang pembaca hadir secara empatik dalam dunia internal Melati.
Lintang Ismaya, melalui Cerpen Pulang, mengajak pembaca memahami keterbatasan dan kerentanan manusia. Tentang bagaimana seseorang dapat pergi jauh, mengabdi, dan mencapai banyak hal, tetapi tetap kehilangan rumah batin. Narasi yang disusun dalam cerita pulang ini mendorong pembaca menatap kehidupan secara perlahan, empatik, dan reflektif, menyadari bahwa di balik keteguhan yang tampak utuh, selalu ada ruang kosong yang tak terdengar. Di sinilah narasi, simbol, metafora, unsur surealis, dan perjalanan batin berpadu menjadi pengalaman estetis dan humanistik yang utuh.









