Menagih Janji Inovasi Kampus Untuk Rakyat

kampus toga 1

Terlalu lama membiarkan perguruan tinggi terjebak dalam ritual akademik. Urusan administrasi dan birokrasi kerap diposisikan di depan, melampaui pergulatan ilmu itu sendiri.

Akibatnya, setiap tahun ribuan wisudawan dilepas dengan toga mentereng, namun kualitas jauh dari realitas harapan rakyat. 

Kampus tak boleh menjadi “menara gading.” Asyik dengan dirinya sendiri, memuja akreditasi, bersolek demi peringkat global, dan memajang slogan-slogan mentereng di dinding birokrasi, tapi nihil makna.

Padahal, di luar gerbang kampus megah itu, desa-desa sedang kesepian, menunggu sentuhan sains dan teknologi. Gagasan tentang Desapreneur sejak beberapa tahun lalu bukan tren musiman, disikapi dengan seminar formalitas.

Inilah “gugatan balik” janji kampus, melalui arah pendidikan tinggi yang didambakan. Sebuah manifesto mengembalikan khittah universitas ke jalan inovasi membumi.

Pertanyaannya: apa gunanya tumpukan jurnal terindeks internasional jika petani di pelosok negeri masih kalah oleh tengkulak? Apa artinya gelar doktor jika teknologi tepat guna masih harus impor? 

Paulo Freire, tokoh pendidikan Brasil mengatakan, pendidikan tinggi seharusnya tidak menjadi alat “penindasan intelektual” yang menjauhkan terdidik dari realitasnya.

Freire menekankan bahwa pendidikan sejati berupa Conscientization, proses di mana mahasiswa dan pengajar bersama-sama memahami realitas sosial. Kemudian mentransformasikan dalam kehidupan nyata.

Kampus yang abai pada nasib desa, maka ia gagal memanusiakan mahasiswanya.

Transformasi: Laboratorium Hidup

Mengembangkan perguruan tinggi tidak cukup merenovasi gedung, mempercanggih laboratorium, atau menambah pundi-pundi dana riset. 

Perlu revolusi epistemologis, kurikulum transformatif, tanpa teori-teori usang. Sehingga kampus menjadi laboratorium hidup (living laboratory).

Dalam konsep Desapreneur, universitas tak lagi mendidik mahasiswa untuk menjadi peminta kerja (job seeker), melainkan menempa mereka menjadi kreator nilai (value creator), berani turun ke daerah. 

Mahasiswa harus didorong  kesediaannya untuk “pulang kampung”, bukan hanya dalam  formalitas memebuhi kewajiban KKN yang administratif, melainkan dalam tujuan melakukan rekayasa sosial dan ekonomi.

Inilah Contextual Teaching and Learning yang sesungguhnya.

Ilmu pengetahuan baru akan menjadi “sakti” jika beradu dengan problem nyata di lapangan. 

Desa adalah “palagan” paling keras bagi pertarungan nalar dan realitas. Ia tulang punggung bagi realitas kemajuan bangsa.

Bukan Sekadar Gelar

Arus transformasi mengundang peran dosen terutama para doktor dan guru besar (Profesor) menjadi “pengungkit” masalah akut di pedesaan. Merekalah pemegang otoritas intelektual tertinggi, memiliki posisi unik sebagai translational researchers—penyambung lidah antara jeritan masyarakat dengan riset di laboratorium.

Kita butuh dosen dan alumni inovatif, mampu melahirkan alat pertanian murah, sistem cocok tanam presisi, dan tata niaga industri pertanian prospektif.

Kampus wajib menjalankan peran Academic Leadership

Para dosen atau peneliti tak boleh berdiam diri di ruang ber-AC. Harus turun menjadi panglima inovasi, meskipun harus menabrak sekat-sekat birokrasi yang seringkali membelenggu kreativitas.

Sinergi antara kepakaran dan pelaku ekonomi, “senjata ampuh” yang bisa meledakkan potensi kemandirian bangsa. 

Para dosen dan peneliti harus bersedia turun gunung ke desa-desa, maka kemajuan Perguruan Tinggi menjadi sebuah realitas.

Sinergi Triple-Helix Berdaulat

Kita harus mengakhiri era dimana riset hanya berakhir berdebu di rak perpustakaan. “Lembah kematian” antara kampus, industri, dan pemerintah harus segera dijembatani.

 Model kolaborasi Triple-Helix yang digagas oleh pakar sosiologi inovasi internasional, Henry Etzkowitz, harus dihidupkan dengan roh kedaulatan. Etzkowitz menegaskan bahwa dalam masyarakat berbasis pengetahuan, universitas harus mengambil peran sebagai penggerak utama ekonomi melalui inovasi.

Di sinilah peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak. Kampus berani melakukan Frugal Innovation, inovasi yang lahir dari keterbatasan namun berdampak.

Inovasi tidak harus selalu mahal dan berteknologi tinggi, tapi harus fungsional bagi rakyat kecil.

Inovasi inilah jalan pulang ilmuwan menuju singgasana pendidikan bermartabat.

Pendidikan yang Membebaskan

Membangun pendidikan tinggi ideal bukan soal mengejar skor akreditasi, atau peringkat internasional i. Fokus utama harus digeser, bagaimana mencetak “mesin hidup”, pintar menghitung angka, namun tetap memiliki kompas moral dan karakter pengabdian kuat.

Desa Preneurship adalah peta jalan untuk mencetak pemimpin masa depan yang mau melayani dengan pengabdian berkarakter itu.

Kampus Jalan Inovasi

Universitas harus menjadi rahim bagi lahirnya kemandirian nasional. Jika pendidikan tinggi gagal menjawab tantangan kemiskinan dan ketimpangan di desa, maka kita sebenarnya sedang melakukan “pengkhianatan intelektual massal”. Saatnya kampus berhenti bersolek demi popularitas di mata dunia.

Mulailah bekerja keras untuk rakyat melalui ilmu pengetahuan. Tanpa itu, kampus hanya akan menjadi obor di tengah kegelapan, menyilaukan mata namun hampa makna.

Kembalikan pendidikan ke jalan yang benar: jalan inovasi dan kreativitas.

Dosen jangan dipaksa menghuni ruang kosong hanya demi memenuhi absensi administratif yang kaku. Biarkan mereka keluar “kandang”, bertarung menguji kemampuan dengan tantangan nyata.

Ingat, dosen bukan pegawai administrasi yang harus terjebak oleh jadwal mengikat tanpa jiwa. Mereka para ilmuwan jalan-jalan tridharma secara benar.

Sebab, tolok ukur kesuksesan sebuah universitas bukan seberapa tinggi peringkat dunianya, melainkan seberapa besar manfaat yang dihadirkan dari karya para dosen dan alumninya.

Jika kampus terus menutup mata, maka jarak antara universitas dan rakyat akan diisi oleh aktor non-akademik: tengkulak, broker teknologi asing, dan logika pasar yang dingin. 

Saat itu, kampus bukan lagi pusat perubahan, melainkan museum pengetahuan yang ditinggalkan zaman.

HARMONI OTAK DAN SENI
Baca Tulisan Lain

HARMONI OTAK DAN SENI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *