Grup Musik Tradisional Sunda Puspa Karima: Catatan Lapangan tentang Bunyi, Perempuan, dan Tradisi yang Terus Bergerak

karisma

personil group musik tradisional sunda pop Karisma, dok. Dody Satya Ekagustdiman

Dalam beberapa kesempatan menyaksikan latihan dan pertunjukan Puspa Karima, saya menangkap sesuatu yang selalu konsisten: cara mereka memperlakukan bunyi dengan tenang, tidak berlebihan, dan tidak dibuat-buat. Permainan musik mereka terasa matang, tetapi tetap hangat. Setiap nada lahir seolah dari proses yang panjang — bukan sekadar latihan teknis, tetapi juga pengalaman, kesabaran, dan kesadaran artistik.

Puspa Karima adalah kelompok musik tradisional Sunda yang seluruh anggotanya perempuan. Didirikan pada tahun 2019 oleh Bunga Desri bersama rekan-rekan seniman perempuan lain, kelompok ini lahir dari kegelisahan yang nyata: bagaimana musik tradisi Sunda dapat tetap hidup di tengah perubahan zaman, dan bagaimana perempuan bisa hadir sebagai penggerak utama dalam ruang seni tradisional, bukan sekadar pelengkap. Berbasis di Bandung dan Sumedang, mereka menjadikan musik sebagai ruang kerja, ruang belajar, sekaligus ruang keberanian.

Langkah mereka dipandu oleh gagasan Wanita Binangkit — sosok perempuan yang kreatif, terampil, dan mampu bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa melepaskan akar tradisi. Binangkit bukan sekadar istilah. Bagiku, itu adalah sikap hidup, cara menempatkan diri, dan cara menafsirkan emansipasi. Emansipasi di sini tidak berarti menjauh dari budaya, tetapi merawatnya dengan kesadaran baru, martabat, dan keberanian untuk terus bertumbuh.

Secara musikal, Puspa Karima menghidupkan kembali warna klasik Sunda seperti Cianjuran dan Ketuk Tilu. Kacapi, suling, rebab, dan kendang dimainkan dengan hati-hati, penuh rasa, dan terukur. Vokal para personel mengalir dengan lembut, menyatu dengan instrumen, menciptakan harmoni hangat dan intim. Bunyi yang lahir terasa matang, tidak tergesa-gesa, dan tetap anggun. Setiap penampilan memberi kesan bahwa musik tradisi bisa menenangkan sekaligus berbicara kepada pendengar.

Yang menarik, bunyi dalam karya mereka tidak hanya estetika. Ia menjadi pusat pengalaman. Setiap nada seolah membawa jejak tanah, ingatan, dan pengalaman kolektif yang perlahan mulai jarang disentuh. Kreativitas bunyi menjadi cara mereka berbicara kepada dunia — tidak hanya sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai medium merawat identitas, sejarah, dan rasa memiliki terhadap budaya.

Mereka tidak terjebak pada nostalgia. Tradisi dijaga sebagai pijakan, tetapi pembaruan tetap diberikan dengan sentuhan modern yang halus, cukup untuk menjaga relevansi tanpa mengaburkan karakter musik Sunda. Di era digital, Puspa Karima memanfaatkan YouTube dan media sosial untuk mendokumentasikan karya, berbagi proses, dan menjangkau pendengar generasi muda yang tumbuh di ruang daring.

Musik bagi mereka juga menjadi medium untuk menyuarakan kepekaan sosial. Isu-isu seperti pemberdayaan perempuan, ketahanan pangan, dan persoalan sosial lain dimasukkan ke dalam karya, salah satunya melalui keterlibatan mereka di Lokovasia 2024. Dalam konteks ini, musik menjadi ruang dialog — tempat tradisi, realitas sehari-hari, dan gagasan masa depan bertemu tanpa saling meniadakan.

Jejak mereka pun meluas ke panggung internasional. Puspa Karima tampil dalam berbagai forum seperti China–ASEAN Music Festival di Tiongkok, Gwangju Biennale di Korea Selatan, dan OneBeat di Amerika Serikat. Pertemuan dengan seniman lintas negara memperkaya perspektif dan justru memperkuat identitas musik Sunda ketika ditempatkan dalam konteks global.

Di tingkat nasional, mereka aktif di berbagai program kebudayaan, termasuk Pekan Kebudayaan Nasional dengan tajuk Bunyi Puan Nusantara. Kehadiran mereka menegaskan posisi perempuan dalam seni tradisional sekaligus membantu membangun ekosistem seni yang lebih inklusif, ramah, dan berkelanjutan bagi generasi penerus.

Dalam ranah ekonomi kreatif, Puspa Karima menunjukkan pendekatan praktis dan membumi. Mereka mengembangkan tiang gong portabel untuk mendukung mobilitas pertunjukan. Selain itu, visi mereka ke depan adalah menjadi production house, membuka ruang bagi lebih banyak seniman perempuan dan memperkuat distribusi musik tradisi Sunda ke skala global.

Aktualitas perjalanan mereka akan kembali hadir melalui Gelar Geunjleung Puspa Karima pada Jumat, 23 Januari 2026, pukul 15.30 WIB, di Aula Unpad Graha Sanusi Hardjadinata, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung. Acara ini merupakan bagian dari Pidangan Seni Budaya Rumawat Padjadjaran ke-109 dengan tajuk WANOJA SADAYANA, dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, Puspa Karima berjalan dengan ritme sendiri. Tidak terburu-buru, tidak mengejar sensasi, tidak kehilangan arah. Yang mereka rawat bukan hanya musik, tetapi juga ingatan, bunyi, dan harapan — bahwa tradisi Sunda masih memiliki ruang untuk hidup, bertumbuh, dan berbicara dengan bahasa zamannya tanpa kehilangan akar yang membentuknya.

Sekian Terimakasih
Salam Budaya Lokal Jati Diri Bangsa

Bandung, 22.Januari.2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *