TUBUH GARAM : Dari Tubuh Kembali ke Tubuh

wail 9

proses latiahan teater tubuh dengan judul TUBUH GARAM karya & sutradara Mohammad Wail Irsyad. dok Rachman Sabur

Selalu yang diulang dalam proses penjelajahan teater payung hitam adalah “takaran” ketubuhan. Panggung bagi Rachman Sabur seolah tempat menyajikan menu-menu makanan yang berpusat pada rasa. Takaran ini menjadi kunci yang harus ditempuh oleh aktor maupun sutradara. Takaran ini tidak hanya berlaku bagi teater tubuh tapi juga bagi ekspresi seni secara menyeluruh.

wail 13
proses latiahan teater tubuh dengan judul TUBUH GARAM karya & sutradara Mohammad Wail Irsyad. dok Rachman Sabur

Pada proses tubuh garam, kami terbayang oleh istilah takaran. Sebuah kata kunci yang seolah membatasi, tapi ternyata kata itu adalah senjata untuk menembus batas-batas. Menu ekspresi seni dengan takaran yang pas, memang menjadi inti dari komunikasi estetik agar energi yang memantul dari dalam jiwa manusia masuk kembali kepada manusia yang lain dalam wujudnya yang halus dan tumbuh subur menjadi kegelisahan.

Wahai Aku Yang Di Luar

Wahai yang memilih berada di ruang antara titik aku bertanya: ruang apakah itu yang dipilih setiap generasi masyarakat garam? Yang memilih migrasi ke ruang lain dengan alasan pendidikan ekonomi, atau pilihan lainnya yang dianggap mampu merubah jalan hidup menjadi basah? Sementara lingkaran kebijakan tidak bisa kau sentuh titik itu, kembalilah sebagai garam dan diamlah sesuai dengan takaran, agar kehadiranmu tidak terlihat, tapi terasa.

wail 12
proses latiahan teater tubuh dengan judul TUBUH GARAM karya & sutradara Mohammad Wail Irsyad. dok Rachman Sabur

Pada mulanya mereka memilih ruang baru dengan tujuan untuk kembali dalam kondisi yang lebih baik. Migrasi ini kemudian mengalami peristiwa kompleks pada saat ruang-ruang itu memposisikan tubuhnya pada garis liminal. Kata “baik” yang mulanya menjadi tujuan, sebagai sebuah harapan perlu dikaji ulang. Setiap yang keluar selalu lupa jalan pulang. Lupa pada setiap peristiwa keturunan yang menjadi pilar sosial seperti adat dan kebiasaan yang mula-mula miliknya, Tiba-tiba menjadi hantu yang memanggil-manggil tanpa suara. Tubuh “perbatasan” menjadi predikat baru. Dan ingatan adalah peristiwa yang paling menyiksa. Batasan dan ingatan saling berebut masuk ke dalam tubuh, ingin menduduki tahta dari nama-nama yang menyebar.

Tubuh garam menyebar di seluruh penjuru wilayah di Indonesia, maupun luar negeri baik sebagai pelajar atau pekerja atau pebisnis. Namun mereka mayoritas berada di lingkaran luar. Mereka tidak dapat menyentuh inti lingkaran dari tempat yang mereka pilih sebagai ruang bermukim. Tubuh-tubuh garam ini kemudian menemukan hambatan menuju jalan pulang karena terlalu lama tinggal di ruang baru. Sementara ruang itu tidak akan terus baru. Garam yang menjadi identitas tubuhnya tiba-tiba tidak lagi asin. “Terasing karena memang dibuat untuk disebut orang asing di daerahnya sendiri”. Orang Madura menyebutnya: Reng Kottah atau orang kota. Reng Kottah adalah jebakan identitas yang menjerat tubuh ke dalam ruang distorsi kesuksesan dan kestabilan ekonomi.

Namun pada kenyataan yang lain, banyak perantau dari Madura yang memilih tinggal di luar, hanya karena ingin mempertahankan image kesuksesan dalam realitasnya yang terpuruk. Memilih begitu karena kebudayaan kota telah diposisikan lebih tinggi secara ekonomi atau kualitas pendidikan yg rendah. Gejala perpindahan atau migrasi tubuh pada akhirnya menjerat mereka. Beberapa komunitas masyarakat garam telah membangun dinding perbatasan pada tubuhnya yang sulit untuk ditolak, bahwa ia mengalami keterasingan internal dan eksternal.

wail 11
pementasan teater tubuh dengan judul TUBUH GARAM karya & sutradara Mohammad Wail Irsyad. dok Rachman Sabur

Lubang Ingatan

Hantu-hantu itu berwarna putih, asin, kasar, lebur. Ia ada dalam tubuh, kemudian keluar lewat sembilan lubang. Lubang-lubang itu tak terjangkau. Dulu ia tidak bernama dalam tubuh. Sebab ia adalah tubuh itu sendiri. Perjalanan ke lubang tubuh semakin hari semakin tak terang. Ia hadir dan bertemu kembali di garis batas.

wail 10
pementasan teater tubuh dengan judul TUBUH GARAM karya & sutradara Mohammad Wail Irsyad. dok Rachman Sabur

Sebagai tubuh, Ia tetap bermain, bekerja, tidur lelap. Terkadang bermimpi. Terkadang pula tidak. Sebagai tubuh, Ia tetap makan, mandi, bertemu tubuh yang lain, bertengkar dan rutinitas tubuh lainnya yang tidak pernah Ia pilah. Dalam rutinitasnya, hantu berwarna putih itu selalu hadir. Tapi mungkin juga Ia tidak lagi bernama hadir, karena Ia ada bersama benda-benda dan jiwa-jiwa. Hanya karena beberapa lubang sering tertutup rapat dari cahaya putihnya. Keberadaannya tidak jarang disebut tiada. Itulah garam dan Madura adalah tubuhnya. Dan air yang asin, Ia mengalami tua. Dari matahari Ia menjadi padat. Dari tanah kering Ia menjadi Madura. Dzukirnya adalah ombak, doanya adalah terik, adminnya adalah gersang, dalamnya adalah angin.

Madura berwarna putih yang kecipratan merah titik. Madura juga berwarna merah yang kecipratan putih. Kupersembahkan sebagai Jalan Terang kehadiranmu di atas gelanggang arena. ***


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *