teater tubuh PostHaste karya & sutradara Rachman Sabur. aktor Mohammad Wail Irsyad. Produksi Teater Payung Hitam. all dok. Rachman Sabur.
Terkait dengan keterlibatan tubuhku di proses PostHaste dan proses lainnya di Teater Payung Hitam—disutradarai oleh Rahman Sabur; yang untuk selanjutnya saya sebut Babeh) adalah mata pencaharian yang terus menggerakkanku pada pengenalan esensi tubuh dan teater tubuh. Mengenal Tubuh mikro (Tubuh diri sendiri) dan tubuh makro (Tubuh di luar diri) yaitu tubuh orang lain, tubuh sosial dan lingkungan adalah rumus tubuh yang berlaku untuk semua aktor (ungkapan babeh Rachman yang kerap kali muncul saat kami berdiskusi tentang tubuh).

Ketika aku ada di proses “Margin” misalnya, aku dihadapkan pada distorsi tubuh yang ekspresif dan agresif. Juga pada proses tubuh di pertunjukan Palsu dan Kelana Crying Teater Payung Hitam lainnya. Aku tidak berpikir tentang sublimasi pada pertunjukan tersebut. aku hanya melayani keberadaan tubuh dengan kendali otot dan stamina tinggi. Berbeda dengan proses PostHaste aku bersiap diri dengan kemungkinan tubuh yang lebih kompleks.
Sebelum proses PostHaste, ada proses latihan Makan-Makan yang direncanakan akan pentas di Studio teataer ISBI Bandung pada awal Tahun 2016. Proses tersebut berjalan 9-10 kali latihan dan tertunda karena ada PostHaste. Tertundanya proses tersebut tidak menghilangkan gagasan tubuhnya Babeh. Gagasan tubuh makan-makan yaitu tubuh natural yang dikembangkan juga. Di Makan-Makan Bagaimana aku harus menjadi pelayan untuk menyajikan makanan pada tamu (penonton) dengan sikap tubuh yang natural kemudian secara tiba-tiba aku harus masuk pada tubuh distorsi. Semua tubuh memiliki motifnya sendiri. Aku berpikir tidak hanya tubuh yang harus dipertontonkan dalam pertunjukan tersebut, tapi juga realitas dalam yang dibutuhkan, tingkat sublimasi konsentrasi dan porsi yang ketat. Teror tubuh lewat sajian makanan akan sangat dekat dengan penonton. Teror yang tidak melulu dibarengi dengan ekspresifitas dan agresifitas. Aku juga menemukan tubuh distorsi yang dibayang-bayangi lagu Genjer-Genjer yang disenandungkan oleh seluruh aktor. Lagu yang nyaman didengar tapi juga ada perasaan getir dari mata yang nanar. Sebuah konsep teater yang terus melintas cepat saat aku mendengar lagu Genjer-Genjer.

Pada proses PostHaste, aku masih berhadapan dengan lagu Genjer-Genjer dan sajian makanan. Gagasan tubuh pada “PostHaste” rupanya tidak luput dari jiwa proses Makan-Makan. Aktor harus kembali ke kesadaran pekerjaan sehari-hari sekaligus. Awalnya aku berpikir setiap sesuatu yang ke luar dari gagasan sutradara yang berkaitan dengan eksperimen tubuh, kumaknai dengan tubuh distorsif dan ekspresif. Aku selalu mempresentasikan tubuh yang menggunakan kekuatan distorsi seperti aku mencoba merespon tembok studio teater lewat benturan-benturan tubuhku, hingga menghasilkan bunyi tubuh dan tembok batu bata. Atau mengerahkan seluruh perangkat tubuh luar untuk menampung ekspresi dari dalam, sehingga tubuh mampu merajut teks simbolik yang tak butuh daya ungkap kata-kata. Namun ternyata tidak hanya tubuh distorsif, kompleksitas tubuh sangat dibutuhkan pada dua proses tersebut. Bagi tubuh yang tak terlatih, teks rupanya tak memberikan ruang untuk cepat berkembang. Semua tubuh harus melewati tingkatan teknis. Teknik tubuh menjadi wajib dikuasai oleh semua aktor. Sebab jika aktor tidak menguasai teknik tubuh (mengenal perangkat kasar tubuh) maka aktor akan dihantui tubuh-fisikal dan akan menghambat tubuh-esensial.
Tubuh-luar dan tubuh-dalam
Pada teknik menubuhkan gagasan, kami selalu melakukan persiapan tubuh luar dan tubuh dalam. Persiapan tentu berlaku bagi seluruh aktor. Sebab keduanya adalah satu.
Rutinitasnya seperti ini: berlari untuk mengukur kekuatan nafas, berjalan dengan setengah berdiri (posisi kuda-kuda silat) untuk mengukur kekuatan tubuh bagian bawah, berjalan pada posisi tubuh tanpa tulang punggung untuk mengukur kekuatan dan fleksibilitas tubuh bagian tengah, berjalan sambil berputar untuk mengukur kekuatan dan fokus tubuh bagian atas. Push-up dan sit-up untuk kekuatan otot perut dan lengan, berjalan jinjit dan menancapkan kaki ke tanah untuk power tubuh perangkat luar, berjalan dengan langkah panjang untuk stamina tubuh bagian bawah, mengunci persendian tubuh untuk power tubuh, membebaskan sendi dan otot tubuh untuk fleksibilitas tubuh, tubuh bergerak sangat pelan dan kemudian sangat cepat untuk kontrol dan emosi.

Ilustrasi latihannya seperti ini: Tubuh tanpa kendali mata adalah untuk terbebas dari persepsi visual melalui mata, tubuh tanpa kendali telinga untuk mengukur tubuh tanpa intervensi audio verbal dari telinga, tubuh tanpa kendali mulut adalah untuk melatih tingkat kesadaran tubuh tanpa kendali kata. Tubuh dengan sentuh halus dan kasar adalah untuk mengukur kepekaan tubuh yang terkait dengan indra peraba. Tubuh tanpa kendali telinga dan mata sekaligus untuk melatih tingkat sublimasi tubuh. Semua itu harus kami olah. Kami memulai proses tubuh dari sini. Selebihnya melakukan pengamatan dan riset pada realitas tubuh di sekitar kita, baik tubuh sosial dan tubuh lingkungan. Untuk pengenalan tubuh sendiri, sutradara selalu menekankan kepada setiap aktor untuk punya kesadaran mengasah ke arah sana, karena semua realitas tubuh-sosial yang sifatnya makro adalah berangkat dari tubuh mikro, berangkat dari dalam diri kita. Komunikasi dengan seluruh aktor dan pendukung adalah salah satu cara kami membaca kebutuhan fisik dan psikis).
Aktor adalah teka-teki
Sutradara kami tidak akan menjelaskan secara rinci maksud dari adegan yang dibuatnya. Itulah salah satu cara sutradara kami untuk memberikan porsi besar, agar kami (aktor) berkembang alami. Kami mencari penjelasan dari apa yang dibuat dalam adegan adalah dengan membaca visual benda-benda atau audio yang ditawarkan Babeh dalam setiap bincang santai di waktu senggang. Dari situlah kami menubuhkan menjadi peristiwa. Tak jarang aku mempresentasikan tubuh dan tidak menemukan kesepakatan dengan sutradara. Namun setiap kali sutrada menginginkan apapun dariku, aku pasti menjawabnya “siap”… meskipun di tengah perjalanan, tubuhku tidak siap dan aku harus mencari lagi informasi kepada aktor yang lain.

Gaya penyutradaannya mengajak kami untuk mengisi teka-teki. Aku seperti bertemu dengan teka-teki yang harus kujawab terus menerus sampai pada jawaban bahwa aktor adalah teka-teki itu sendiri. Dalam kondisi hilang arah, sikap refleks dan improvisasi tubuh menjadi dominan padaku. Namun bukan berarti aku tidak melatih sebelumnya. Kami aktor Teater Payung Hitam punya rutinitas berlatih seperti pada penjelasan sebelumnya. Sebab aku punya kelemahan pada tubuh, dalam kesendirian aku selalu mencoba bagaimana tubuh bisa mengkomunikasikan peristiwa batin. Terkadang aku mencobanya saat sudah di dalam kamar mandi tanpa pakaian melekat pada tubuh. Kadang aku mencobanya di ruang olah tubuh, kadang di atas kasur saat sudah siap tidur dalam kondisi lampu sudah kumatikan. Kadang aku mencobanya sepontanitas sambil bercanda di hadapan teman-temanku dalam sepersekian detik. Dimanapun aku berada, setiap perasaanku mendorongku untuk mengungkapkannya, aku akan refleks mencobanya. Tapi seluruhnya dalam hitungan detik dan berlaku hanya sebagian kecil pada tubuhku. Terkadang hanya wajah, terkadang otot di punggung yang tiba-tiba mengeras, terkadang jari jemari tangan, kaki, betis dan leher. Kecuali di dalam kamar mandi cendrung lebih lama dan berlaku bagi keseluruhan tubuh. Berbeda dengan olah tubuh yang sudah terprogram bisa dipastikan membutuhkan waktu lebih lama.
Softwer Tubuh dan belatung
Pada proses Posthaste, kebiasaan tersebut tidak kutinggalkan. Kami diarahkan agar selalu sadar pada ruang tubuh sehari-hari. Seperti mulai dari mencuci piring, membersihkan kamar mandi, membersihkan torn tempat penampungan air, bersih-bersih rumah, naik motor dan bertemu banyak peristiwa tubuh dan mesin, bikin nugget. Memperhatikan tukang sampah yang tiap hari senin atau selasa datang ke rumah dan mengambil sampah-sampah yang sudah bertumpuk, terkadang sudah terdapat belatung, karena petugas kebersihan liburnya terlalu lama. Aku merasa belatung juga berkeliaran di dalam tubuhku. Apa yang ada pada tubuhku adalah sama dengan tempat sampah penuh belatung di depan rumahku.

Aku juga sering berjumpa dua orang buta suami istri tiap sekitar jam 19.00 WIB. Mereka konsisten duduk menunggu siapapun di pengkolan jalan Cijagra (antara rumah makan Manjabal dan kuburan). Tidak ada penerangan di tempat itu, kecuali hanya bias cahaya dari rumah makan Manjabal. Aku juga berhadapan dengan realitas tubuh anakku yang baru lahir, adik-adikku yang macam-macam karakter mendandani tubuhnya, dan aku juga sering berjumpa dengan pedagang sayur keliling yang suka pakai sepatu bola dan kupluk bayi, dia berusia sekitar 65 tahun. Itulah sebagian peristiwa sehari-hari di luar kerja teater yang dijadwalkan dan berpengaruh besar terhadap kerja tubuh naturalku.
Kerja mengasah softwer tubuh (perangkat tubuh mikro) juga terjadi pada saat kita berjumpa sutradara. Latihan yang terus diulang-ulang bahkan terus menerus mencoba segala sesuatu sampai ke batas maksimal. Bongkarpasang dan terus begitu adalah bagian dari latihan kami untuk melampaui tubuh teknis.
Tak ada yang berubah sebenarnya pada pola keseluruhan pekerjaan keseharianku, Sebelumnya aku beraktifitas tanpa kesadaran teater, (keseharianku dan ruang prosesku tidak betul-betul bertemu di dalam jiwaku). Sekarang aku memulai merajut aktifitasku dengan kesadaran teater. Aku juga mencoba komunikasi dengan tanaman hias di rumah. Aku menanam dan merawatnya meskipun luasnya hanya satu meter ke satu meter. Komunikasi dengan tanaman adalah terapi, kata sutradara.
Meminalisir intervensi pikiran
Sebuah usaha agar tubuh terminimalisir dari intervensi pikiran aku jalani dengan cara “puasa bicara”: selama dua hari dua malam aku mencoba berkomunikasi tanpa bahasa lisan, tulisan, maupun bahasa isyarat. Selama dua hari itu aku merasa takut berjumpa dengan orang lain selain istriku. Ketakutan itu dipicu oleh perasaanku untuk tidak membuat orang tersinggung dan marah. Karena siapapun yang datang dan bertanya sesuatu padaku, aku tidak bisa menjawabnya bahkan aku menolak untuk melakukan gerak isyarat, seperti mengangguk atau menggelengkan kepala. Aku hanya menatapnya cukup lama. Jika lawan bicaraku tak mampu memahami tatapanku, aku biarkan saja. Namun lagi-lagi selama dua hari itu, ada gemuruh besar dalam diriku yang memaksaku untuk menjelaskan apa yang sedang kulakukan pada mereka. Ada gejolak agar aku melayani komunikasi dengan orang yang berjumpa denganku saat itu.

Ada peristiwa yang tak ada sebelumnya pada tubuhku. Setiap waktu pergantian matahari, aku merasakan hening, meskipun aku ada di rumah yang tiap harinya selalu ramai. Aku merasakan kesendirian yang asing. Begitupun saat bangun dari tidur, aku merasakan hal yang sama, bahkan aku merasa ada yang hilang dari tubuhku. Tidak menyenangkan memang. Tapi menakjubkan bagiku. Hal ini ku lakukan atas keinginanku dan dorongan dari sutradaraku Babeh (Rahman Sabur) dalam proses PostHaste. Proses yang mengajakku bermain biasa. Kerja cepat, tepat, dan proporsional. Tubuh mikro selalu didengungkan oleh sutradaraku yang satu ini. Hahahahahaiiii.. Ayo Babeh bantu kami yaa…
Siapakah Tubuh
Semula tak paham apa yang dilakukan tubuh pada ruang dan benda di dalam dan di luar tubuhku. Semula tak paham pada bunyi di luar tubuh dan di dalam tubuh. Semula tak paham pada tubuh. Sampai saat ini pun tampaknya tak kunjung paham. Ada pikiran dan imajinasi yang terus melakukan agresi pada tubuh yang berdalih pengalaman lahir dan pengalaman batin. Keduanya terus menerus keluar dan masuk, keduanya sangat pandai menyamar, hingga akupun tak lihai menangkap kecepatan penyamarannya. Kejam, unik, lucu dan ngeri, dingin tapi juga riang dan indah, seperti tokoh Joker. Begitulah yang aku rasakan dalam setiap menempuh proses penciptaan teater. Apapun jenis teaternya tubuhku selalu diseret pada sebuah belantara imaji dan realitas yang campur baur.
Tubuh menjalankan tugasnya, membahasakannya kepada seluruh penonton yang beragam cara pandang dan beragam selera. Tubuh memang selalu menemukan pengalaman yang tak terhingga dan tak terduga. Tapi untuk memilah pengalaman tubuh menjadi teks teater, tak mudah aku raih. Terkadang tubuh menggodaku untuk pamer kemampuan-kemampuan fisikal, layaknya seorang yang sedang pamer kekebalan di depan banyak orang. Tapi ternyata itu hanya akan memperburuk keadaanku dan teater yang sedang kujalani.
Aku menyadari bahwa teater tak hanya unjuk kebolehan akan hal-hal fisikal. Dia harus mempertaruhkan ‘ruh’ teater yang mampu menampilkan realitas luar dan realitas dalam diri manusia itu sendiri. Realitas luar dan dalam yang juga menjadi milik publik.
Kesadaran itu hanya sebatas kesadaran saja. Pada realitasnya aku tak banyak tahu jalan menuju kesana. Yang aku tahu adalah aku hanya punya keterbatasan perangkat untuk menuju medan tempur dan aku harus terus melatih bagaimana aku lihai memainkan perangkat-perangkat itu. Dan bagaimana aku tak luput dan tak hambur mempergunakan perangkat yang terbatas. Aku hanya ingin di dalam keterbatasan perangkat, mampu memanfaatkan perangkat tempurku tepat pada sasarannya yaitu manusia. Lagi-lagi keinginan yang sulit untuk ku wujudkan.
Di saat-saat pergulatan keinginan dan kenyataan yang aku miliki tak sejalan, aku hanya bisa menempuh pelajaran bahwa aktor harus memiliki tubuh yang terlatih dan berpengalaman. Bermain terus dan terus bermain. Berlatih dengan kesadaran yang tinggi. Selebihnya aku punya tanggung jawab bahwa aku akan terus mencari tubuhku yang terkandung Padaku, pada orang lain, pada lingkunganku, pada alam.
Aku belum menemukan realitas tubuh yang bisa kukenal dan kuyakini milikku. Aku hanya lintasan imaji yang bisa berubah-ubah dan tak memiliki identitas. Paling buruknya adalah melintasi panggung dan tak menyisakan apapun, sirna seperti asap. Itu semua aku sadari karena aku tak kenal tubuhku sendiri. Kengerian dan kegelapan terus menjadi hantu dan bergentayangan dalam jiwaku dengan memilih jalan ini. Jalan panjang tak berujung. Aku bertemu dengan banyak jiwa dalam setiap persinggahan (panggung). Jiwa-jiwa itu tak mampu ditangkap. Ia gesit, licin, dan sangat halus dan keras. Jiwa yang mewakili isi semesta dan mewakili zamannya, mewakili Tuhannya. Sementara untuk bersalaman dengannya, aku merasa seperti perahu kecil di tengah samudra luas dan tak memiliki gayuh untuk ke tepi.
Meski suatu saat aku tahu dan yakin bahwa tubuh tak lagi ada, tapi pengetahuan itu akan menjadi energi yang besar dan menjadikan hidup terus berjalan ke arah itu.
Aku juga kembali membiasakan berbisik pada diriku sendiri setiap hendak tidur atau menjelang latihan. Kebiasaan yang sudah lama ku tinggalkan. Isi bisikannya adalah:
Aku memiliki tubuh, namun aku bukanlah semata tubuhku.
Aku memiliki emosi, namun aku bukanlah semata emosiku.
Aku memiliki akal pikiran, namun aku bukanlah semata akal pikiranku.
Aku memiliki ego, namun aku bukanlah semata egoku.
Aku memiliki hati, namun aku bukanlah semata hatiku.
Aku memiliki pusat spritual, namun aku bukanlah semata pusat spritualku.
Aku adalah seluruh jiwaku, dan aku adalah misteri yang memasukkan kehadiran Tuhan tersembunyi di dalam diriku.
(Hati, Diri dan Jiwa, psikologi transformasi. Robert Frager. Serambi, 1999)
Tubuh siapakah ini
Tubuhku atau tubuh orang lain
Aku yang mana, orang lain yang mana
Jika sakit, Siapakah yang sakit
Jika lapar, Siapakah yang lapar
Jika ngantuk, Siapakah yang mengantuk
Siapakah yang melangkah
Siapakah yang melambai
Siapakah yang tersenyum dan tertawa
Siapakah yang mengunyah dan meludah
Siapakah yang bicara
Siapakah yang rindu
siapakah yang sedih
Siapakah yang marah
Siapakah yang malu
Siapakah yang bersikap halus dan kasar
Siapakah yang tidur
siapakah yang ada dan siapakah yang tidak pernah ada?
Siapakah tubuh
Dari manakah tubuh
Milik siapakah tubuh
Perjalanan berbatas sekaligus tak berbatas
Ada energi di dalam tubuh
Energi yang menggerakkan teknologi dalam diri
Miliaran sel seperti kelopak bunga
Tumbuh dan menciptakan pusatnya tak terhingga
Adakah tubuh
atau tubuh hanya bayang bayang tak kongkrit
suatu saat bisa ada, pun bisa tak ada
Ataukah tubuh hanya terminal
tempat menaikkan dan menurunkan pengalaman-pengalaman dan sesekali kosong
Atau justru tubuh menampung segala sesuatunya dan tak pernah kosong
Penutup: Resiko menyedrai ruang
Proses PostHaste adalah proses yang terus berkembang sampai pada waktu beberapa menit sebelum pentas. Aku sadar aku harus masuk pada ruang biasa itu. Ruang yang bisa kutempati senyaman mungkin. Meski terakhir kali aku pentas di Cirebon (Gedung Kesenian Nyimas Rarasantang, 5 April 2017) dengan penguasaan teknis di luar panggung yang menterorku dan menggangguku, sebab kelalaian dan ketidak-adilanku menyikapi dua ruang yang masih baru untukku. Aku merasa lebih terasing dari pentas Posthaste sebelumnya.
Aku merasakan teater pada Posthaste ini berlangsung di dua ruang sekaligus. Yaitu diluar panggung dan di dalam panggung. Tak ada waktu untuk istirahat, mencari celah bersenda gurau, dan sebagainya yang bersifat lalai. Harus fokus seperti pemain “sirkus” kata Babeh Rahman. Kedua ruang itu menuntutku agar terbiasa. Keduannya adalah peristiwa teater yang serius. Jika salah satu ruang kucederai, maka di semua ruang, aku akan merasakan sakitnya. Aku mencederainya Sehingga aku merasa asing dan gelap. Aku bingung apa yang harus kuperbuat di luar panggung. Aku sakit, sebab ruang tanpa lampu dan tanpa mata penonton itu menolakku.
Semoga aku bisa dan terbiasa merasa memiliki terhadap dua ruang tersebut dan mengakrabinya. Mengakrabi tubuhku dan tubuh diluar aku.***


