Kajian Makrifat: Syaiful Karim dan Tiga Fakir

TIGA FAKIR

Kalau kita kaji, tujuannya sama dengan makrifat pada umumnya, yaitu mengenal Allah SWT secara hakiki, melampaui sekadar ilmu rasional. Menekankan pada pengalaman kesadaran batin (consciousness) dan menyaksikan Allah pada segala sesuatu, bukan hanya melalui ritual semata.

Menggunakan istilah dan cara penyampaian yang memiliki ciri khas, seperti “Jalan Dahsyat,” yang seringkali dihubungkan dengan pemahaman fisika atau kesadaran modern, sehingga wajar dalam kajian keilmuan apapun apa lagi kajian spiritual ini menimbulkan perdebatan.

Beberapa ajarannya dianggap menyimpang dari kaidah tasawuf tradisional dan akidah Islam, bahkan MUI pernah memberikan pandangan negatif terhadap tafsirannya, seperti pada surat Al-Qariah.

Secara singkatnya, kajian makrifat yang memiliki ciri khas dari sosok Syaiful Karim, menawarkan pemahaman mendalam tentang Tuhan dengan pendekatan kesadaran, namun kontroversial dalam metodologinya.

Syaiful Karim dikenal sebagai seorang pengajar dan praktisi spiritual yang dikenal melalui kajian Makrifatullah (mengenal Allah). Pendekatan yang beliau gunakan, kajiannya cukup unik karena menggabungkan pemahaman Tauhid yang mendalam dengan pendekatan sains modern (seperti fisika kuantum) serta pemberdayaan diri.

Berikut adalah poin-poin utama dalam kajian Makrifat Syaiful Karim:

1. Mengenal Jati Diri

Inti dari kajian beliau adalah memahami siapa diri kita yang sebenarnya. Syaiful Karim sering menekankan bahwa manusia bukan sekadar fisik, melainkan Ruh yang ditiupkan oleh Allah. Dengan mengenal diri sendiri, seseorang akan lebih mudah mengenal Sang Pencipta (Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu).

2. Tauhid dan Kesadaran (Consciousness)

Kajian beliau ini mengajarkan agar setiap aktivitas hidup didasari oleh kesadaran akan kehadiran Allah. Dalam kajiannya, tauhid bukan hanya sekadar teori, melainkan aplikasi praktis di mana seseorang merasa “diawasi” dan “dibersamai” oleh Allah setiap saat.

3. Pendekatan Fisika Kuantum

Syaiful Karim sering menggunakan analogi ilmiah untuk menjelaskan fenomena spiritual. Misalnya, beliau menjelaskan bagaimana pikiran dan perasaan manusia memiliki energi atau getaran (frekuensi) yang dapat memengaruhi realitas hidup, sejalan dengan hukum-hukum Allah di alam semesta.

4. Shalat sebagai Mi’raj

Dalam kajian makrifatnya, shalat bukan hanya penggugur kewajiban, melainkan sarana Mi’raj (pertemuan spiritual) antara hamba dengan Tuhannya. Beliau menekankan pentingnya kekhusyukan yang dicapai melalui pemahaman makna di balik setiap gerakan dan bacaan shalat.

5. Keikhlasan dan Pasrah (Surrender)

Salah satu materi yang sering dibahas adalah mengenai manajemen kalbu, terutama tentang bagaimana melepaskan keterikatan pada duniawi dan berserah diri sepenuhnya kepada ketetapan Allah. Hal ini dianggap sebagai kunci ketenangan jiwa.

Kanal Syaiful Karim sering membagikan video ceramahnya, sesi tanya jawab, dan meditasi dzikir.

Beliau juga menulis menyusun beberapa buku terkait perjalanan spiritual dan kajian makrifatullah.

Kajian makrifat ini, sebaiknya dipelajari secara bertahap dan dibarengi dengan bimbingan atau dasar syariat yang kuat agar pemahaman spiritual tetap selaras dengan tuntunan agama.

Kajiannya ini memang kadang menimbulkan perdebatan, seperti saat ia pernah dinilai menyimpang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait penafsirannya terhadap Al-Qur’an.

Meskipun menimbulkan kontroversi, ia tetap memiliki banyak pengikut yang tertarik pada cara pandangnya yang kajiannya unik dalam mendekati konsep makrifat.

Kajian MAKRIFAT TIGA FAKIR

Kajian Tiga Fakir merupakan sebuah program diskusi dan perjalanan spiritual yang digawangi oleh tiga tokoh utama untuk menggali pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an dan kesadaran diri.

Berikut adalah poin-poin utama mengenai kajian ini:

Kajian ini dipandu oleh tiga orang yang menyebut diri mereka sebagai “fakir” (merasa tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa, dan bukan siapa-siapa): Abu Marlo, Sonnie Wicaksono, dan Perdamean Harahap (Bang Dame).

Istilah “Tiga Fakir” mencerminkan sikap rendah hati sebagai murid yang terus belajar dan bertumbuh bersama audiens, tanpa bermaksud menggurui atau menceramahi.

Salah satu materi inti adalah pembahasan tentang tingkatan kesadaran manusia:

Konsep Kesadaran “Aku Tiga”: Salah satu materi inti adalah pembahasan tentang tingkatan kesadaran manusia:

Aku Satu: Bersumber dari Allah.

Aku Dua: Level Roh atau jati diri sejati.

Aku Satu (Pikiran/Emosi): Identitas diri yang terbentuk dari pikiran, perasaan, memori, dan imajinasi. Keterjebakan pada level “Aku Tiga” seringkali dianggap sebagai sumber penderitaan karena manusia lupa akan jati diri sejatinya.

Metode Pendekatannya, selalu menggunakan “Jalur Langsung” (Direct Path) yang berfokus pada pertanyaan fundamental “Siapa Aku?” untuk melampaui pemahaman syariat menuju pengalaman hakiki tanpa mengabaikan dasar-dasar agama.

Juga tujuan kajiannya, mengajak audiens untuk bertransformasi melalui pemahaman Al-Qur’an sehingga pengetahuan tersebut menjadi sikap dan petunjuk hidup dalam keseharian.

Tiga fakir ini yang terdiri dari: Sonnie Wicaksono, Abu Marlo dan Perdamean Harahap yang sama-sama sedang belajar memahami dan menggali pengetahuan yang terkandung dalam Al-Qur an sehingga pengetahuan dan pemahaman ini dapat bertransformasi menjadi sikap dan tindakan sekaligus sebagai petunjuk hidup.

Pengertian fakir dalam tasawuf ini, selain pandangan para ahli bahasa tentang fakir dan pendapat keempat imam fikih tersebut, menurut terminologi tasawuf fakir adalah suatu keadaan dimana hati tidak butuh kepada sesuatu kecuali Allah.

Siapa sajakah yang dapat disebut orang fakir?

Pada kelompok fakir yaitu seseorang yang tidak memiliki sumber penghasilan apapun yang disebabkan oleh masalah berat, seperti sakit. 2. Miskin. Sementara, definisi miskin yaitu seseorang yang memiliki sumber penghasilan, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Al-faqir artinya apa?
Makna al-faqr secara umum diartikan sebagai orang yang memiliki kekurangan materi. Dalam perspektif hadis Nabi makna ini juga ditegaskan tapi kekurangan itu tidak hanya berkisar pada materi tapi juga yang berkaitan dengan non materi, seperti kemiskinan pada rohani.

Seperti apakah gaya hidup seorang faqir?

Istilah fakir telah mengalami penggunaan yang lebih baru dan lebih umum untuk seorang pertapa yang melepaskan harta duniawi, dan bahkan telah diterapkan pada non-Muslim. Fakir banyak terdapat di Timur Tengah dan Asia Selatan; mereka dianggap mandiri dan hanya memiliki kebutuhan spiritual akan Tuhan.

Apa itu sifat fakir?

Fakir bermakna tidak mempunyai harta atau penghasilan layak untuk mencukupi kebutuhan hidupannya, sedangkan miskin orang yang tidak memiliki kecukupan hidup, namun dia tidak mau meminta-minta.

Kekuatan apa yang dimiliki para fakir?
Fakir umumnya dianggap sebagai orang suci yang memiliki kekuatan ajaib, seperti kemampuan berjalan di atas api . Meskipun kurang berpengaruh di daerah perkotaan karena penyebaran pendidikan dan teknologi, fakir tetap memiliki pengaruh terhadap masyarakat di desa-desa dan daerah pedalaman negara tersebut.

Apa perbedaan antara orang miskin dan orang yang membutuhkan?

Perbedaan Antara Orang yang Membutuhkan dan Orang Miskin, menurut beberapa pedoman, miskin dalam arti ekonomi berarti hidup dalam kemiskinan (tidak memiliki cukup uang untuk hidup). Membutuhkan dalam arti ekonomi berarti tidak mampu memperoleh kebutuhan pokok hidup (makanan, pakaian, dll.).

Bagaimana para fakir hidup?
Para Fakir adalah pengemis kuno (dari Asia Selatan dan Timur Tengah) yang memfokuskan seluruh energi hidup mereka untuk mencapai keselamatan. Mereka bergantung pada sedekah untuk memberi makan dan memenuhi kebutuhan hidup dasar . Dengan kata lain, mereka melepaskan diri dari keinginan materi, dan selalu bermeditasi.

Ciri ciri mental miskin?

Ciri-ciri mental miskin meliputi pola pikir serba kekurangan, suka menunda pekerjaan, tidak punya rencana keuangan, boros untuk gengsi, suka mengeluh dan menyalahkan orang lain/keadaan, iri pada kesuksesan orang lain, malas berinvestasi pada diri sendiri, dan cenderung mencari jalan pintas atau instant gratification daripada membangun kekayaan secara bertahap. Mental ini bukan soal jumlah uang, tapi cara berpikir yang menghambat pertumbuhan finansial dan pribadi.

Memilih barang hanya karena murah, bukan karena manfaat jangka panjangnya. Menghamburkan uang untuk terlihat kaya (merek, gadget terbaru) meskipun tidak sesuai kemampuan. Tidak Punya hidup tidak punya rencana dan serba mendadak, tidak punya tabungan atau investasi jangka panjang.
Mudah Tergoda Investasi Bodong/Skema Cepat Kaya, mencari jalan pintas tanpa memahami risiko.
Suka menunda-nunda pekerjaan atau hal-hal produktif karena malas atau merasa nyaman dengan keadaan.

Selalu mengeluh sulit, menyalahkan pemerintah, takdir, atau orang lain, tanpa berusaha meningkatkan kompetensi diri.
Iri Hati (Crab Mentality), merasa tidak senang saat melihat orang lain sukses dan melihat kesuksesan sebagai sesuatu yang terbatas (zero-sum game).
Minta Ditraktir/Bergantung, selalu terbiasa meminta atau bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan.
Arogan dan Tidak Mau Disalahkan, dan merasa paling benar, tidak percaya orang lain, dan tidak mau bertanggung jawab saat gagal.

Pola Pikir dan Sikap Diri:

Malas dan Tidak Mau Berubah, Nyaman dalam zona nyaman meski tidak ideal, enggan belajar hal baru atau meningkatkan diri. Kebiasaan Instan, terlalu fokus pada kesenangan sesaat (hedonisme) daripada tujuan jangka panjang. Merasa Selalu Kurang, tidak bisa bersyukur dan selalu merasa kekurangan, sehingga mudah stres atau mencari pembenaran.

Cara Mengatasinya (sebagai kebalikan mental miskin):

Fokus pada nilai daripada harga, ubah pandangan dari biaya ke nilai.

Berinvestasi: pada diri sendiri (skill, pendidikan), bukan hanya konsumsi.

Ubah lingkungan: untuk menjauhi mentalitas “zero-sum game”.

Tinggalkan kebiasaan: malas, mengeluh, dan iri.
Miliki rencana keuangan dan tetapkan tujuan.

Apa beda fakir dengan miskin?

Fakir dan miskin sama-sama membutuhkan, tapi fakir kondisinya lebih parah karena tidak punya harta/penghasilan dan tidak bisa memenuhi setengah kebutuhan pokoknya, bahkan tidak mampu bekerja; sedangkan miskin masih punya harta/penghasilan tapi tidak cukup untuk seluruh kebutuhan pokoknya, meskipun masih bisa berusaha memenuhi sebagian kebutuhannya (misalnya punya pekerjaan tapi gaji kecil).

Jadi, fakir lebih membutuhkan bantuan karena tidak punya apa-apa, sementara miskin masih memiliki sedikit ‘pegangan’ meskipun kurang.

Bagaimana ciri-ciri orang tasawuf?

Ciri-ciri orang tasawuf (sufi sejati) adalah memiliki keikhlasan, fokus pada Allah, menjaga akhlak terpuji (rendah hati, sabar, tidak sombong), rajin zikir dan muhasabah (introspeksi), zuhud (tidak terpedaya dunia), dan konsisten dalam ibadah (istikamah), serta menunjukkan kesamaan antara batin dan lahirnya dalam ketaatan. Mereka lebih mengutamakan keridaan Allah dan hubungan dengan sesama manusia, bukan pencitraan atau duniawi.

Niat murni karena Allah, mencintai Allah di atas segalanya.
Zikir dan Dzikir, selalu sadar mengingat Allah dengan hati yang hadir, baik dalam sepi maupun ramai.
Akhlak Terpuji, Rendah hati, tidak merasa lebih baik, sabar, pemaaf, dan suka menolong.
Zuhud dan Sederhana, Tidak materialistis, tidak terpengaruh kekayaan atau popularitas, lebih mengutamakan akhirat.

Istiqamah, Konsisten dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah.
Muhasabah (Introspeksi), selalu mengevaluasi diri secara kritis.
Tawakkal, Percaya penuh pada Allah.
Keselarasan Lahir-Batin, Amalan batin dan lahirnya sejalan; batinnya lebih baik dari lahirnya, atau minimal sama.
Mengikuti Sunnah, selalu menjalankan ajaran dan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Sikap dalam Kehidupan

Merasa Butuh pada Allah, meski kaya atau mulia, tetap merasa hina dan butuh Allah.
Tidak Bergantung pada Makhluk, tidak butuh pengakuan atau memanfaatkan nama orang lain.
Menyikapi Kejahatan dengan Kebaikan, membalas keburukan dengan kebaikan.
Peduli Sosial, selalu berusaha memberi manfaat dan kesejahteraan bagi sesama.
Perbedaan dengan Sufi Gadungan
Sufi sejati tidak hanya soal penampilan atau ritual lahiriah, tetapi kualitas batin dan ketaatan yang konsisten di segala kondisi, tanpa riya’ (pamer), ujub (membanggakan diri), atau takabur (sombong).

Apakah Nabi Muhammad mengajarkan tasawuf?

Nabi Muhammad SAW mengajarkan prinsip-prinsip dasar tasawuf melalui ajaran tentang Ihsan, zuhud, dan kehidupan spiritualnya yang menekankan kedekatan dengan Allah, meskipun istilah “tasawuf” belum dikenal pada masanya; ajaran ini kemudian dikodifikasi menjadi disiplin ilmu tasawuf pada abad-abad berikutnya.

Praktik kehidupan Nabi seperti uzlah di Gua Hira, kesederhanaan (zuhud), dan ibadah mendalam menjadi fondasi spiritual bagi para sufi.

Dasar-dasar Tasawuf dalam Ajaran Nabi,
Konsep Ihsan, yaitu ajaran inti tasawuf beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya, yang merupakan puncak spiritualitas (mencapai tingkat ma’rifah).

Zuhud: Sikap tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan mengeluarkannya dari hati, seperti yang dicontohkan Nabi dalam kesederhanaan dan kedermawanan beliau.

Pengasingan Diri (Uzlah): Nabi sering menyendiri di Gua Hira untuk tafakkur dan ibadah, mencontohkan praktik zuhud dan peningkatan spiritualitas.

Akhlak dan Kesucian Jiwa: Kehidupan dan akhlak Nabi menjadi teladan utama para sufi dalam membersihkan niat, mengendalikan hawa nafsu, dan mencapai kedekatan dengan Allah.

Perkembangan Tasawuf:

Pada zaman Nabi, ilmu-ilmu Islam belum dikategorikan secara spesifik seperti sekarang.
Istilah “tasawuf” dan kodifikasi ilmu ini baru muncul dan dikembangkan oleh para ulama (seperti Hasan Al-Bashri) pada abad kedua Hijriah, sebagai reaksi terhadap kondisi politik dan untuk mengkaji secara spesifik aspek Ihsan dan spiritualitas.

Secara singkatnya, ajaran dan teladan spiritual Nabi Muhammad SAW adalah sumber utama dan landasan fundamental dari tasawuf, meskipun istilah itu sendiri muncul kemudian. Beliau adalah sosok sufi teladan yang praktik hidupnya menjadi panduan para sufi sepanjang zaman.

Cukup Sekian Terimakasih…
Salam Budaya Spiritual…

Bandung, 18.Januari.2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *