Tantangan literasi di era pasca-kemerdekaan yang nyaman (era digital) adalah kesenjangan akses dan kualitas informasi, ketergantungan teknologi yang berlebihan, rendahnya minat baca cetak, dan tantangan literasi digital (keamanan siber, misinformasi), padahal literasi fundamental (membaca, menulis, berpikir kritis) tetap krusial untuk sumber daya manusia unggul di tengah banjir informasi, menuntut kolaborasi dan inovasi platform digital untuk meningkatkan keterampilan guru dan aksesibilitas sumber pengetahuan.
Tantangan Utama:
- Kesenjangan Digital: Akses internet dan perangkat teknologi yang belum merata, terutama di daerah terpencil, menghambat pemerataan literasi digital.
- Kualitas Informasi vs. Kuantitas: Banjir informasi di era digital membuat sulit membedakan fakta dan hoaks, menuntut kemampuan literasi kritis yang tinggi.
- Minat Baca Menurun: Kemudahan hiburan digital menggerus minat membaca buku fisik, padahal literasi cetak dasar tetap penting, kata Dailymotion.
- Keterampilan Guru: Guru perlu pelatihan untuk memanfaatkan teknologi dan metode pengajaran inovatif dalam meningkatkan literasi siswa.
- Keterlibatan Orang Tua: Kurangnya dukungan orang tua dalam menumbuhkan kebiasaan literasi anak sejak dini.
- Keamanan Siber: Masyarakat masih minim kesadaran akan keamanan saat beraktivitas online, PT. FAASLIB SERAMBI MEDIA.
Solusi dan Strategi:
> Perkuat Budaya Membaca: Revitalisasi perpustakaan (fisik dan digital) dan taman baca, serta kampanye membaca nasional/lokal.
> Manfaatkan Teknologi: Kembangkan platform digital interaktif dan mudah diakses untuk pembelajaran.
> Tingkatkan Kompetensi Pendidik: Beri pelatihan literasi digital dan metode mengajar inovatif bagi guru.
> Kolaborasi Lintas Sektor: Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu bersinergi menciptakan ekosistem literasi berkelanjutan, sebut Penerbit Yaguwipa.
> Fasilitasi Akses Buku: Program seperti perpustakaan keliling efektif menjangkau daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), contohnya di Natuna.
> Intinya: Era “nyaman” digital justru menciptakan tantangan literasi baru, dari akses hingga pemahaman mendalam. Membangun budaya membaca, didukung teknologi dan kolaborasi, adalah kunci Indonesia menjadi bangsa literat.
Tantangan utama yang dihadapi dalam meningkatkan literasi di masyarakat
Berbagai tantangan seperti keterbatasan akses buku, rendahnya keterlibatan orang tua, ketergantungan terhadap teknologi digital, serta kurangnya pelatihan guru menjadi hambatan dalam meningkatkan literasi anak sejak dini.
Tantangan dalam membangun literasi digital untuk mendukung kemajuan bangsa
Tantangan utama yang sering ditemukan mencakup kesenjangan digital, kurangnya pelatihan guru dan orangtua, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan siber.
Permasalahan literasi di Indonesia
Permasalahan literasi di Indonesia, terutama di daerah terpencil, masih menjadi tantangan besar. Tingginya angka buta huruf dan rendahnya minat baca menjadi indikasi kurangnya akses terhadap sumber-sumber pengetahuan yang berkualitas.
Literasi adalah wujud keterampilan sebagai kunci untuk masa depan, karena kemampuan literasi yang baik memungkinkan seseorang untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara efektif. Dalam era digital yang terus berkembang, informasi tersebar luas dan dapat diakses dengan mudah melalui internet dan media sosial.
Tantangan literasi sering dimulai dengan kesadaran fonemik yang kemudian mengarah pada tantangan dalam penguraian kata—kemampuan untuk mengeja kata-kata tertulis dan mengenali bagian-bagian kata yang familiar . Masalah dengan penguraian kata umumnya dikaitkan dengan disleksia. Beberapa siswa mengalami kesulitan memahami apa yang sedang dibaca.
Dengan adanya gerakan literasi di sekolah-sekolah, itu akan membantu menumbuhkan kesadaran bagi generasi penerus khususnya setiap siswa dan siswi, bahwa kegiatan membaca, menulis, menghitung, menyimak dan berbicara ( mengungkapkan pedapat, ide atau pun pemikiran lainnya) merupakan kegiatan yang penting untuk dilakukan.
Hal utama para guru pendidik mengajarkan literasi ketika menghadapi siswa
Hal utama yang diajarkan guru adalah membangun kebiasaan dan minat baca siswa melalui kegiatan rutin (misalnya 15 menit membaca setiap hari), menciptakan lingkungan yang kaya bacaan (sudut baca, perpustakaan mini), dan mengintegrasikan teknologi untuk sumber belajar yang beragam, sambil membimbing siswa memahami materi secara komprehensif dan berpikir kritis terhadap informasi, termasuk literasi digital dan finansial agar menjadi pembelajar seumur hidup yang cakap dan bertanggung jawab.
Strategi utama guru dalam mengajarkan literasi:
1. Membiasakan Membaca dan Menulis:
Menerapkan kegiatan membaca wajib di awal pelajaran (misal: 15 menit).
Meminta siswa menceritakan kembali apa yang dibaca untuk memastikan pemahaman.
Menyediakan beragam bacaan sesuai minat siswa (buku, majalah, konten online).
2. Menciptakan Lingkungan Literasi:
Menyediakan pojok baca atau perpustakaan mini di kelas.
Menggunakan media audiovisual dan alat bantu pembelajaran yang relevan.
3. Mengintegrasikan Teknologi:
Memanfaatkan e-book, aplikasi edukatif, dan sumber digital untuk meningkatkan ketertarikan.
Mengajarkan literasi digital agar siswa bijak di dunia maya (memahami dampak, menghindari hoaks).
4. Pengembangan Keterampilan Berpikir:
Mendorong pemahaman materi secara aplikatif dan kontekstual.
Mengajarkan literasi finansial melalui kegiatan praktis (misal: di kantin/koperasi sekolah).
5. Peran Guru sebagai Fasilitator & Pembimbing:
Menjadi teladan dalam literasi, termasuk literasi digital dan etika.
Menciptakan suasana emosional dan sosial yang positif untuk mendukung belajar.
Menggunakan diskusi kelompok agar siswa saling membantu memahami materi.
Hal spesifik untuk meningkatkan minat literasi terutama bagi para pelajar
Berikut adalah langkah-langkah spesifik untuk meningkatkan minat literasi bagi pelajar pada tahun 2026:
Pemanfaatan Literasi Digital & Gamifikasi: Gunakan aplikasi seperti Wattpad atau IPusnas untuk mengakses buku secara gratis. Terapkan elemen permainan (gamifikasi), di mana pelajar mendapatkan poin atau lencana digital setelah menyelesaikan satu buku.
Kurasi Bacaan Sesuai Minat (Personalized Reading): Berikan kebebasan kepada pelajar untuk memilih genre yang mereka sukai, termasuk komik, novel grafis, atau artikel populer, bukan hanya buku teks pelajaran.
Pembentukan Komunitas Baca (Book Club): Buat kelompok diskusi kecil yang santai atau silent reading club di mana pelajar membaca bersama tanpa tekanan, kemudian berbagi kesan singkat di media sosial seperti TikTok (BookTok) atau Instagram (Bookstagram).
Lingkungan Kaya Teks: Ciptakan sudut baca yang nyaman dan estetik di sekolah. Pastikan akses ke perpustakaan mudah dan koleksinya diperbarui secara berkala dengan judul-judul terbaru tahun 2026.
Integrasi Menulis Kreatif: Dorong pelajar untuk menulis ulasan buku, membuat fan fiction, atau blog pribadi. Menulis secara aktif akan merangsang keinginan mereka untuk membaca lebih banyak referensi.
Program “15 Menit Membaca”: Terapkan rutinitas membaca buku non-pelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum memulai kegiatan belajar mengajar untuk membangun kebiasaan (habit).
Kunjungan ke Festival Literasi: Ajak pelajar ke acara seperti Indonesia International Book Fair (IIBF) atau lokakarya kepenulisan untuk bertemu langsung dengan penulis idola mereka.
Sekian Terimakasih…
Salam Budaya Kebajikan…
Bandung, 12.Januari.2026









