Benar, apa yang pernah kau katakan ibu, bahwa sepanjang kaki kita masih bisa menapak ke bumi: Adakalanya daya hidup yang kita jalani harus habis untuk mengerti orang lain sekaligus menjadi tempat bersandar, sementara diri sendiri tak pernah punya waktu sekaligus tempat untuk berlabuh. Barangkali, retak, luruh dan kembali itu bisa dikata sebagai laku bercermin atau sebuah upaya yang seharusnya dapat dimengerti sebelum diminta—tidak menuntut balas—tapi menawarkan penjelasan tanpa perlu dibenarkan.
**
Lima tahun pasca ibu ditinggal mati oleh bapak dan peninggalan tinggal sisa-sia, bukan karena terpaksa aku datang ke ibu kota membawa satu koper kecil dengan kebiasaan lama yang sudah melekat dalam laku diri di desa—tidak terbiasa bertanya terlalu banyak. Di terminal, orang-orang bergerak cepat seolah punya tujuan yang saling mendesak. Di gerbang ke luar, aku berdiri sedikit ke samping, memastikan tidak menghalangi siapa pun. Seorang petugas menatapku sebentar lalu berkata, “Kamu kelihatan mandiri.” sapanya itu diucapkan ringan, seperti pujian yang tidak menuntut balasan.
Sedari kecil aku memang sering begitu. Siklus di desa, orang dewasa menyukai anak yang tidak menyela. Anak yang cepat paham. Anak yang bisa ditinggal tanpa banyak pesan. Ibuku pernah berkata, “Nak, kau itu beda, tidak seperti anak-anak lain.” Sejujurnya, aku tidak tahu perbedaan semacam apa yang ibuku maksud itu, tapi sejak itulah aku belajar menempatkan diriku—sebagai seseorang yang seharusnya bisa mengerti sebelum diminta.
Lamat-lamat, siklus ibu kota memperkuat kebiasaan itu. Aku menyewa kamar sempit di lantai atas rumah petak, pinggir kali besar—bisa dikata kompleks kumuh. Dindingnya tipis, suara orang lain sering masuk tanpa permisi. Aku bekerja paruh waktu, sampai bisa kuliah malam alias kelas karyawan, dan jarang mengeluh. Setiap kali aku mengatakan baik-baik saja, orang di sekitar mempercayaiku. Singkatnya, mereka senang mendengarnya. Tidak ada yang bertanya lebih jauh, dan aku juga tidak menawarkan penjelasan.
Kala itu usiaku masih remaja ketika pertama kali ada orang yang melihat ketenangan laku diri sebagai kesiapan. Ia lebih tua, tahu banyak hal tentang seluk-beluk napas ibu kota, dan ia berbicara dengan nada yang membuatku merasa aman. Ia berkata, bahwa aku tidak seperti anak-anak dari desa kebanyakan. Katanya, aku cepat belajar. Katanya lagi, aku sudah dewasa. Tentu saja, kala itu aku menerima kata-katanya itu tanpa menimbangnya, seperti menerima petunjuk arah dari orang yang lebih dulu tiba di ibu kota.
Detik jam yang terus bergeser, singkatnya kami sering duduk berseberangan di warung kecil di dekat halte—seberang pabrik tempatku bekerja. Ia bercerita panjang, aku mendengarkan. Sesekali ia bertanya pendapatku, dan aku berusaha menjawab sebaik mungkin. Aku merasa dihargai karena dianggap mampu. Jika ada hal yang membuatku tidak nyaman, aku menahannya dengan satu alasan—bahwa aku tidak ingin merusak kesan tentang diriku sendiri. Aku takut kembali menjadi anak desa yang dianggap tidak tahu apa-apa.
Barulah setelah bertahun-tahun aku menyadari betapa mudahnya ketenangan disalahartikan sebagai persetujuan. Benar, aku tidak pernah mengatakan ya dengan jelas, dan aku pun jarang mengatakan tidak. Seperti itulah gambaran di sekelilingku—dengan banyak diam sudah cukup untuk jadi modal kuat orang dewasa, guna melangkah lebih jauh. Namun di sisi lain, tidak ada yang mengira, bahwa aku sedang belajar bertahan, bukan memilih.
Sampai pada suatu sore yang masih aku ingat tanggal, bulan dan tahunnya, kala aku terlalu lelah untuk tersenyum: Kami berjalan di trotoar yang ramai, dan ia berbicara tentang rencana-rencana yang belum pernah kutanyakan akan kesanggupan, tapi aku mengangguk, seperti biasa. Di sebuah persimpangan, aku berhenti sebentar, mencoba mengatur napas. Ia menoleh dan berkata, kamu kuat, kan. Kalimat itu seperti kunci yang menutup kemungkinan lain. Setelahnya, aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya—bahwa yang kurasakan bukan kekuatan.
Di luar prediksi, kebanyakan orang sering mengira perihal kematangan itu letaknya ada pada kemampuan menahan diri: Tidak menangis di depan umum. Tidak membuat masalah. Tidak merepotkan. Karena kebiasaan di desa, aku mempraktikkan semuanya dengan baik. Hingga aku menjadi contoh yang meyakinkan—bahwa aku baik-baik saja. Bahkan ketika ada sesuatu yang seharusnya ditangani oleh orang dewasa, aku membawanya sendiri, menyimpannya rapi di tempat yang tidak terlihat, dan tentu saja ibuku sendiri tak pernah tahu sedikit pun akan hal ini.
Sejujurnya aku tidak pernah kehilangan sesuatu secara tiba-tiba. Ya, tidak ada satu peristiwa besar yang bisa kutunjuk sebagai awal dari segalanya—justru yang ada itu pengurangan pelan-pelan: Rasa ingin tahu yang mengecil. Keinginan untuk bertanya yang menghilang. Singkatnya, aku berhenti membayangkan diriku sebagai seseorang yang boleh ragu. Aku harus menjadi seseorang yang selalu siap, setidaknya di mata orang lain.
Sekarang, setelah bertahun-tahun tinggal di riuhnya ibu kota, aku sering bertemu anak-anak muda yang datang menenteng koper kecil dengan wajah waspada. Tentyu saja aku mengenali cara mereka berdiri, cara mereka mendengarkan—sebab hal itu sudah aku lewati. Kala menatap mereka, terkadang aku ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk tidak segera mengerti. Bahwa tidak semua pujian perlu diterima. Namun aku pun paham—betapa sulitnya menolak label yang membuat harga kita terasa pantas berada di sini.
Kini aku masih tinggal di kamar yang hampir sama, meski ukurannya sedikit lebih besar. Meski beda lokasi, akan tetapi suara napas hidup dan kehidupan di ibu kota masih masuk lewat jendela. Terladang aku terbangun dengan perasaan asing, seolah ada bagian dari diriku yang tertinggal di suatu waktu yang tidak pernah diberi penanda atau nama. Namun aku pun tidak menyebutnya trauma. Aku hanya tahu satu hal saja: Ada jarak antara diriku sekarang dan anak yang dulu ingin tahu segalanya.
Dan bilamana di ini hari ada seseorang yang mengatakan bahwa aku terlihat dewasa, maka aku akan tersenyum kecil, laju mengucapkan terima kasih. Akan tetapi di dalam hati, aku menyimpan catatan yang tidak bisa kubagikan—bahwa menjadi terlalu siap—sering kali berarti tidak diberi waktu untuk tumbuh. Bahwa ada perbedaan antara memilih menjadi kuat dan dipaksa untuk tidak menjadi rapuh. Dan satu hal di sebalik segenap ketenangan yang dipuji itu pernah ada seorang anak yang belajar terlalu cepat bagaimana caranya untuk tidak meminta apa-apa. Dan di situlah letak adanya kebodohan terbesar dalam menjalankan alur hidup yang jadi cermin sekaligus benteng abadi dalam ingatanku, ibu. []









