SAJAK-SAJAK Rachman Sabur

nyanyian angsa 3

TOPENG RANJAK

Wajah kita
adalah topeng-topeng
semua wajah bertopeng
topengku dan topengmu
saling menterjemahkan isyarat :
Ranjak! Ranjak! Ranjak!
Ayo! Siapa sedia?
tanggalkan topeng dirinya?
Ayo! Kita mainkan topeng Ranjak! :
Ranjak! Ranjak! Ranjak!
Topengku dan topengmu
saling menatap jahat!
Ayo! Kita nyanyikan
lagu maut! :
Ranjak! Ranjak! Ranjak!
Wajah-wajah
di balik topeng
Topeng-topeng bersandiwara
di panggung hidup
lalu saling bunuh!
lalu saling bunuh!
lalu saling bunuh!
ranjak ranjak ranjak!
ranjak ranjak ranjak!
ranjak ranjak ranjak!

SAJAK-SAJAK Husni Hamisi
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Husni Hamisi

1/2 TIANG

Beribu-ribu mulut hitam
menyanyikan lapar.
Mereka mengunyah-ngunyah dagingnya sendiri.
Mereka memotong-motong
uratnya sendiri.
Mereka menghisap-hisap darahnya sendiri.
Darahnya pahit!
mengucur dari luka hitam
dijilatinya luka itu
karena dendam
O karena lapar!
Beribu-ribu tangan gemetar
mengibarkan bendera hitam :
di gubuk-gubuk karton
di lorong-lorong gelap
di gang-gang becek
di gorong-gorong tikus
di situ kehidupan
tak lagi punya tanda
karena nasib mereka
telah diporak-porandakkan
oleh kekuasaan
dan peradaban
yang edan!
Beribu-ribu
bendera hitam
menyibak langit hitam.
Langit mereka
Langit kami
Langit Tuhan juga

PUISI Sosiawan Leak
Baca Tulisan Lain

PUISI Sosiawan Leak

NYANYIAN ANGSA

Di antara kursi-kursi kosong
tanpa penonton.
Lampu-lampu panggung temaram.
Di balik layar
angin menari gelisah
tak ada siapapun
kecuali bayangan sendiri.
“Akulah angsa tua itu!
sempoyongan di panggung kosong
menyanyikan lagu terakhir
menjelang mati”
Di luar gedung
di penghujung malam
aku berdiam diri
di sudut-sudut cafe
sambil minum whisky
sampai lupa berdiri.
Telah kuberikan tubuhku
untuk segala peran
tanpa reserve!
“Akulah angsa tua itu
yang mabuk
karena hidup
adalah sandiwara”

PUISI Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

PUISI Rachman Sabur


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *