SENI KEHIDUPAN PEMUDA BERJIWA BOGALAKON

bogalakon cover fiks

Di tengah kehidupan sosial yang semakin gemar merayakan keterlihatan—jumlah pengikut, panggung, statistik pencapaian, dan pengakuan publik—terdapat bentuk perjuangan yang justru bergerak menjauh dari sorotan. Perjuangan ini berlangsung dalam senyap, berproses panjang, dan kerap tidak meninggalkan nama. Namun dari ruang-ruang sunyi inilah kehidupan kultural sesungguhnya bertahan. Di sanalah seni menemukan maknanya yang paling hakiki: bukan sebagai komoditas atau tontonan, melainkan sebagai laku hidup.

Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” telah lama hidup dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia. Dalam konteks kekinian, istilah ini menemukan relevansinya kembali melalui sosok-sosok pemuda yang bekerja di ranah pendidikan, seni, dan kebudayaan tanpa janji imbalan atau pengakuan formal. Guru di daerah terpencil, penggerak literasi desa, aktivis seni komunitas, relawan kemanusiaan, hingga pendamping masyarakat akar rumput bergerak bukan untuk dikenang, melainkan karena merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan di sekitarnya.

Pengabdian semacam ini dapat dipahami sebagai bentuk seni kehidupan. Seni yang tidak selalu hadir sebagai pertunjukan, pameran, atau komposisi artistik, melainkan sebagai praktik keseharian yang konsisten dan berkesadaran. Seni yang tidak berhenti pada wilayah estetika, tetapi menjelma etika—cara manusia memosisikan dirinya dalam relasi sosial, mengambil keputusan, serta bertahan pada nilai yang diyakininya.

Sejarah pendidikan dan kebudayaan Indonesia menyimpan banyak jejak pengabdian semacam ini. Lagu Hymne Guru karya Sartono, misalnya, telah lama menjadi simbol ketulusan pendidik yang jasanya “tak terlukiskan oleh kata-kata”. Pada dekade 1970–1980-an, banyak guru mengajar di wilayah terpencil dengan fasilitas yang sangat terbatas dan kesejahteraan yang jauh dari memadai. Namun keterbatasan tersebut tidak memadamkan dedikasi. Justru dari ruang-ruang sederhana itulah lahir generasi-generasi yang kemudian menopang perjalanan bangsa.

Dalam lanskap hari ini, semangat serupa tidak hanya hidup di ruang kelas. Ia menjelma dalam berbagai bentuk pengabdian pemuda: guru muda yang memilih mengajar di daerah terluar, relawan yang hadir pertama kali saat bencana, penggerak taman baca dan ruang belajar alternatif, aktivis lingkungan lokal, hingga pekerja sosial yang mendampingi kelompok rentan. Mereka bekerja dalam diam, tetapi dampaknya nyata dan berjangka panjang.

Dalam khazanah budaya Sunda, dikenal istilah bogalakon, yang merujuk pada pemeran utama dalam sebuah lakon. Namun dalam seni kehidupan, bogalakon tidak selalu hadir di pusat panggung. Ia justru kerap berada di balik layar—sebagai subjek yang sadar akan perannya, berani mengambil tanggung jawab, menciptakan ruang di tengah keterbatasan, serta siap menanggung konsekuensi dari pilihan-pilihannya.

Berjiwa bogalakon berarti tidak menunggu keadaan ideal untuk berbuat. Ia menciptakan peluang ketika peluang tidak tersedia. Ia tidak menggantungkan nilai hidup pada seberapa sering namanya disebut, melainkan pada seberapa jauh dampak kerjanya menjalar. Pengakuan bukanlah sesuatu yang ditolak, tetapi juga tidak dijadikan tujuan. Fokusnya adalah proses—kerja berulang, kehadiran yang setia, dan keteguhan untuk tetap bertahan ketika perhatian publik berpaling.

Pada titik inilah seni antimainstream menemukan pijakannya. Seni yang tidak tunduk pada logika viralitas dan pasar, tetapi berpihak pada keberlanjutan. Seni yang memilih bekerja dalam kesunyian, namun meninggalkan jejak yang nyata. Dalam konteks ruang digital yang dipenuhi arus disinformasi, integritas semacam ini menjelma sebagai keberanian untuk menyebarkan kebenaran tanpa dorongan viralitas, serta menolak manipulasi perhatian demi popularitas semu. Seni yang demikian tidak sekadar menghibur, melainkan menghidupi manusia dan lingkungannya.

Dalam konteks seni dan kebudayaan Indonesia hari ini, sikap semacam ini penting bukan sebagai romantisasi penderitaan, melainkan sebagai kritik terhadap cara kita memaknai keberhasilan. Tidak semua yang penting harus terlihat, dan tidak semua yang terlihat sungguh penting. Ada nilai-nilai yang justru tumbuh dan bertahan karena dijalani secara konsisten, tanpa hingar-bingar pengakuan.

Seni kehidupan mengajarkan bahwa keberanian terbesar sering kali adalah keberanian untuk tidak tampil. Untuk tetap bekerja ketika tidak ada tepuk tangan. Untuk setia pada nilai, meski tidak populer. Pemuda pejuang tanpa tanda jasa yang berjiwa bogalakon adalah penjaga denyut kebudayaan itu sendiri.

Pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di pusat perhatian, tetapi juga oleh mereka yang memilih bergerak di pinggiran—dalam senyap, dalam kesadaran, dan dalam tanggung jawab. Karena seni, pada titik terdalamnya, adalah soal bagaimana manusia memilih menjalani hidupnya.

Sekian Terimakasih…

Salam Bogalakon, Perjuangan dan Berjuang tidak banyak berkata-kata (teu loba omong teu loba bacot, nu penting berkreativitas berkarya seni kehidupan, yang berwujud pasti bukti, aya tapakna),

BOGALAKON HESE PAEHNA MUN CAN WAKTU NA

Bandung,
08 Januari 2026

Quote Pagi II
Baca Tulisan Lain

Quote Pagi II


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *