foto lukisan karya Amang Rahman Jubair. judul lukisan: Nenek. Media: Cat Minyak Kanvas. Ukuran: 70 x 90 CM. Tahun Penciptaan: !976. Foto tangkapan layar oleh Mochammad Rohamudin. dok. Mochammad Rohamudin.
Amang Rahman Jubair lahir di Ampel, Surabaya, pada 21 November 1931, dari keluarga keturunan Arab Hadramaut yang hidup berpadu dengan tradisi Islam pesisiran Jawa Timur. Masa kecilnya sarat dengan suara azan, bacaan Al-Qur’an di surau, dan nisan-nisan tua berhuruf Arab dan Jawa. Lingkungan ini membentuk kedalaman batin yang padat dan rasa religiositas yang bermakna dalam pengalaman hidupnya.

Meskipun Amang bukan kiai, ia tumbuh sebagai santri yang disiplin, tanggap spiritual, dan memiliki rasa ingin tahu besar tentang kehidupan dan seni. Pendidikan formalnya tidak berlanjut hingga selesai, tetapi ketertarikan pada seni rupa, sastra, musik, dan kaligrafi sangat kuat.
Ia membaca karya-karya sastra klasik dan modern, mengamati lingkungan sekitar, dan memadukan pengalaman spiritual dengan penghayatan estetika.
Peran dalam Komunitas Seni Surabaya
Amang Rahman bukan hanya pelukis, tetapi juga fasilitator komunitas seni. Pada 1967, ia ikut mendirikan Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA), yang menjadi ruang belajar, bereksperimen, dan menyalurkan ide bagi seniman muda.
Pada 1971, ia turut mendirikan Dewan Kesenian Surabaya (DKS), organisasi yang menyediakan para pelukis berpameran, diskusi, dan pertukaran ide. Melalui DKS, Amang menunjukkan pentingnya keberlanjutan seni lokal,bahkan menjaga tradisi estetika Jawa Timur agar tetap hidup dan relevan di tengah modernitas.
Estetika dan Dimensi Sufistik
Karya Amang Rahman dikenal sebagai surealisme sufistik. Di mana spiritualitas, simbolisme, dan bentuk visual bersatu. Ia mengembangkan konsep Jamal, Kamal, Jalal, suatu keindahan, kesempurnaan manusia, dan keagungan yang menghubungkan subjek dengan ilahi.
Maka figur manusia muncul sebagai medium refleksi eksistensial. Setiap garis, bentuk, dan ruang kanvas disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan suasana kontemplatif yang menyatu dalam semesta.
Warna biru mendominasi sebagian besar karyanya, menjadi simbol kontemplasi, kedalaman batin, dan pengalaman spiritual. Dalam beberapa lukisan, biru di sinergikan dengan merah atau cokelat gelap, menciptakan ketegangan visual yang selaras dengan ketegangan batin manusia.
Kaligrafi Arab menjadi ciri khas karya Amang. Huruf-huruf Arab mengalir menjadi garis, warna, dan ruang, menjadikan karya dan pengalaman batiniah yang hidup. Demikianlah karya besar Amang Rahman bahwa kaligrafi bukan sekadar ornamen, tetapi jembatan antara visual dan makna spiritual.
Analisis Karya Utama
Figur manusia dalam lukisan Amang tampak menyendiri, menunduk, bahkan melayang. Posisi ini merepresentasikan introspeksi batin, pencarian eksistensi, dan kerinduan akan kesempurnaan spiritual. Inilah pergelutan Amang Rahman yang sejati. Ruang di sekeliling menjadi minimalis, menciptakan kesan melayang, seolah penikmat diundang masuk ke dalam kekosongan itu.
Bentuk geometris sederhana muncul untuk menciptakan ritme dan keseimbangan visual, memberikan ketertiban di tengah ruang yang luas dan tak terbatas. Setiap elemen dipertimbangkan Amang untuk menimbulkan gairah visual sekaligus batin yang sedalam-dalamnya.
Warna sebagai Dimensi Emosi
Penggunaan warna biru menjadi medium refleksi spiritual dan kontemplatif. Biru gelap atau biru muda hadir sebagai oranamen kedalaman batin dan ketenangan meditatif.
Ketika dipadukan dengan merah atau cokelat gelap, visual menjadi bergetar, namun tetap harmonis, mencerminkan dualitas kehidupan, sebagai ketenangan batin dan pergolakan emosional. Ya, bagi Amang Raman Jubair warna adalah bahasa batin yang diterjemahkan pada tataran kanvas.
Kaligrafi sebagai Jembatan Spiritual, bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari perenungan Amang. Dalam karya seperti “Laa Ilaaha Illallah”, kalimat tauhid menjadi garis vertikal di tengah kanvas, menegaskan hubungan antara manusia dan Tuhan. Terus bergerak seperti Alif vertikal.
Kaligrafi ini mengubah kata-kata suci menjadi arah batiniah yang hidup, menghadirkan kesadaran spiritual yang sesungguhnya.
Mengayuh becak menawarkan lukisan
Amang Rahman dikenal humoris dan bersahaja dalam kehidupan sehari-hari. Namun karya-karyanya memancarkan kesunyian dan refleksi batin yang matang. Ia menghadapi masa-masa sulit, seperti menjual satu lukisan dari belasan karya hanya untuk bertahan hidup. Pernah juga ia mengayuh becak sendiri untuk menawarkan karyanya kepada kolektor.
Kesederhanaan hidup dan penghayatan spiritual menjadikan karya Amang lebih dari sekadar visual. Mereka adalah pengalaman batin, lahir dari kesadaran akan keterbatasan manusia dan pencarian makna hidup yang universal. Seni bagi Amang adalah medium untuk memahami hidup, eksistensi, dan relasi manusia dengan dunia dan Tuhan.
Sejak 1960-an, Amang Rahman telah menggelar pameran tunggal dan bersama di Surabaya maupun luar negeri, termasuk Arab Saudi, Australia, Malaysia, dan Brunei. Setelah wafat pada 15 Januari 2001, karyanya tetap hidup melalui pameran retrospektif, seperti In Memoriam di Galeri Prabangkara Surabaya.
Pameran ini menampilkan puluhan lukisan, menegaskan kekuatan estetik dan spiritual karya-karyanya.
Warisan Amang Rahman bukan hanya berupa lukisan, tetapi juga pengaruh terhadap generasi seniman Surabaya dan Jawa Timur. Ia membuktikan bahwa seni bisa menjadi refleksi batin, medium kontemplatif, dan sarana pembangunan komunitas.
Kesimpulan
Amang Rahman Jubair adalah pelukis utuh: seniman, pemikir estetika, fasilitator komunitas seni, dan reflektor spiritual. Karya-karyanya memadukan keheningan, rindu batin, dan pengalaman manusiawi.

Surealisme sufistik yang diterapkannya menjadikan setiap garis, warna, dan kaligrafi sebagai medium bercorak batin.
Perannya dalam AKSERA dan DKS menguatkan bahwa seni adalah fenomena kolektif yang lahir dari komunitas dan interaksi manusia.
Dalam sejarah seni rupa Indonesia, khususnya Jawa Timur, Amang berdiri sebagai tonggak modernisme yang sarat spiritualitas dan simbolisme batin, dengan warisan yang tetap relevan hingga kini.
Lukisan-lukisannya bukan memanahkan medium kontemplatif yang menyentuh ruh dan spiritualitas manusia, menjadikannya figur penting dalam sejarah seni rupa Indonesia.









