Sirip Hiu dan Seni Menjual Cerita

ekor hiu dewasa

ekor ikan hiu dewasa. dok: Adhy Rical

Aku masih ingat hari itu.
Angin laut Wakatobi datang dari arah timur, membawa bau asin yang menempel seperti kenangan. Di bawah rumah panggung kecil itu, saya melihat seorang nelayan membawa sesuatu yang mungkin tidak boleh dilihat semua orang.

Ketika aku mendekat, suara mesin perahunya baru saja mati. Tapi dari bawah titian jembatan rumahnya, aku masih bisa merasakan bau hangat yang naik dari perahu, menyentuh telapak kakiku yang tanpa alas. Tidak terlihat uapnya, tapi aku bisa merasakan panas halus yang menembus kulit, sisa tenaga dari perjalanan yang baru berhenti.

Perahu itu masih basah, kulit kayunya memantulkan cahaya pagi. Itu pertanda ia datang dari laut dalam. Ia baru sempat berlabuh satu menit ketika aku melihatnya.

Di ruang tengah perahu yang biasanya hanya diisi jaring atau peti ikan, dua ekor hiu besar terbaring pucat. Tubuh mereka memantulkan sinar matahari seperti batu karang lembap. Tapi yang pertama menusuk mataku bukan tubuhnya melainkan ketiadaan ekornya. Bagian belakang tubuh mereka dipotong kasar, seperti simpul hidup yang diputus oleh kebutuhan manusia, bukan oleh laut.

Nelayan itu terlihat tergopoh-gopoh menutupi tubuh hiu besar itu dengan terpal, seolah itulah rahasia yang ingin ia sembunyikan.

anak hiu1 1
anak ikan hiu. dok: Adhy Rical

Tapi perhatianku justru tertuju pada sesuatu yang lain.

Lima ekor anak hiu berada di dalam ember di dekat anak tangga rumahnya. Tidak ada bau amis, mereka masih hidup. Perut kecil mereka masih bergoyang pelan, tipis seperti napas terakhir yang berusaha bertahan. Ketika kuangkat satu di antaranya, ia menggeliat lemah, tubuhnya licin seperti sesuatu yang belum siap menyentuh dunia.

Di samping ember itu, tergeletak potongan ekor yang baru saja dibuang. Warnanya gelap, dingin, tetapi jelas menjadi tanda bahwa bagian tubuh hiu yang benar-benar dicari—siripnya—sudah dilepas terlebih dahulu. Ekor itu sendiri tidak bernilai besar, bukan untuk sup atau untuk cerita kemewahan. Mungkin nanti akan dijual murah sebagai daging, atau mungkin dibiarkan begitu saja. Tetapi bagiku, ekor itu seperti penanda sunyi, semacam catatan kasar tentang berapa banyak hiu yang telah lewat di hidup nelayan itu.

Kesunyian lima ekor anak hiu, justru itulah yang paling keras

Nelayan itu akhirnya bicara, suaranya serendah angin yang menyelinap di antara papan perahu.

Daging hiu besar itu akan ia jual. Anak-anak hiu itu akan ia masak di rumah. Dan siripnya yang dipotong sebelum tubuh induknya sempat benar-benar dingin itulah yang dicari orang kota.

Aku hanya diam. Ada ruang kosong di antara kami, bukan persetujuan atau penghakiman, hanya kenyataan yang terlalu tua dan terlalu dekat untuk ditinggalkan begitu saja.

Aku tidak sedih pada hiu besar itu. Mungkin begitu roda ekosistem berputar. Tapi lima anak hiu di dalam ember di sanalah rasaku tersangkut.


Beberapa hari kemudian, aku duduk di sebuah restoran kecil, aku satu-satunya pengunjung pagi itu. Aku sengaja datang awal untuk melihat bagaimana dapur mereka bersiap menyambut siang. Aroma dapur masih hangat, menempel di udara seperti selimut tipis. Lampu restoran menyala, tapi tidak cukup kuat untuk menyingkirkan cahaya pagi yang menyelinap lewat celah-celah ruang. Restoran itu berdiri tepat di atas air, dan buih ombak kadang terdengar, membentur tiang-tiang kayu di bawah lantai.

anak hiu2
anak ikan hiu. dok: Adhy Rical

Pemilik restoran tersenyum seperti seseorang yang menyimpan kartu truf dari masa lalu.
“Sup sirip hiu,” katanya. “Itu yang paling mahal.
Orang kota datang jauh-jauh hanya untuk itu.”

Ia bangga bukan pada rasanya, tetapi pada cerita yang menempel di mangkuk itu. Ia meletakkan semangkuk sup di hadapanku. Uap tipisnya naik, dan sirip pucat itu mengambang di tengah, seperti benda yang masih dipertahankan tradisi meski rasanya telah lama pergi.

Aku menatapnya sebentar. Cukup untuk mengerti. Lalu menutup menu.
“Saya ambil ikan bakar kerapu saja.”

Senyumnya meredup, tapi tetap ada. Ia terbiasa dengan orang yang datang untuk mengejar gengsi tertentu. Aku hanya mengejar yang lain.

Kerapu bakar itu datang dengan aroma asap yang jujur. Dagingnya putih, kulitnya seperti peta pulau kecil yang terbakar ringan. Saat aku menyuapnya, aku teringat percakapan dengan nelayan di Wakatobi, lelaki lima puluh tahun yang berbicara seperti sedang membuka album kenangan.

“Lima belas tahun lalu,” katanya, “aku sering bertemu kerapu sebesar perahu.
Sering. Kau bisa lihat matanya dari jauh.
Kita cuma saling pandang, lalu pergi masing-masing.
Sampai sekarang aku belum pernah menyentuhnya.”

Ia tertawa kecil.
Tawa orang yang pernah berjumpa sesuatu yang lebih besar dari dirinya dan memilih tidak merusaknya.

Sejak hari itu, kerapu bukan lagi sekadar ikan bagiku. Ia menjadi janji kecil yang kutitipkan pada laut: bahwa suatu hari nanti aku akan kembali, bukan untuk menangkapnya, tetapi untuk menyaksikannya hidup di ruang yang hanya dipahami oleh kedalaman.

Dan di sanalah paradoks itu berdiri, seterang cahaya yang memantul di permukaan mangkuk sup yang tadi kusisihkan.

Sirip hiu. Benda pucat yang tidak punya rasa, dijual mahal karena cerita, bukan karena apa yang ia berikan.
Orang membeli legenda bangsawan, bukan nutrisi. Mereka meminum kuah yang gurih bukan karena siripnya, tetapi karena gengsi yang dikisahkan turun-temurun.

Sementara itu, di dermaga: dua hiu besar tanpa ekor dan lima anak hiu di dalam ember menjadi bukti bagaimana ekonomi bisa mempercepat akhir sebuah kehidupan.

Jauh di bawah laut: seekor kerapu raksasa mungkin masih berenang perlahan, makhluk yang tidak pernah masuk menu mana pun, tetapi membawa cerita yang jauh lebih bernyawa daripada sirip mana pun yang dijual dengan harga tinggi.

Akhirnya aku mengerti: banyak orang terpana membeli cerita yang mengapung di permukaan kuah sup sirip hiu, sementara kisah-kisah yang sesungguhnya hidup, kerapu sebesar perahu misalnya, tatapan sunyi di kedalaman laut, rahasia yang menua bersama arus, dibiarkan tinggal sebagai bayangan di dasar samudra.

Yang dijual adalah sirip. Yang dicari adalah gengsi. Yang hilang adalah makna. Sedangkan yang menunggu, di suatu tempat di bawah sana, mungkin hanyalah seekor kerapu besar yang pernah diceritakan nelayan tua itu, kelak akan kutemui sendiri.

Bukan untuk dibawa pulang. Tetapi untuk memastikan bahwa cerita yang benar-benar bernyawa masih punya ruang di laut, meski dunia terus membeli yang sebaliknya.***


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *