Suara Dari Simpang
dari simpang masa
kami bawa tanya yang lahir dari cinta
apakah hukum masih bernama cahaya
bila bayang teramat mudah dibaca?
tidak untuk menggugat takhta
cuma memastikan langkah tak buta
duhai penjaga garis tegas batas dan jalan
di dadamu kami titip harapan
suara yang lemah jangan diabaikan
sebab hukum tak punya wajah dan nama
maka adil tak boleh memilih siapa
seragammu harus menjadi pelita
bukan kabut menutup kami punya mata
lantaran kau tak dibesarkan puja
tapi dari keberanian untuk menjaga
maka setialah pada sumpah yang diikrarkan
sekali pun angin kepentingan tandang menyerukan
kami tak menuntut langit bersih
selamatkan langkah jujur di jalan tersisih
tegas bagi yang merusak nurani
lembut bagi yang menandaskan arti
dekatlah pada rakyat tanpa sekat
dengarlah keluh dari nasib yang terikat
bila pelindung sejati bukan benteng yang tinggi
maka datanglah peluk pada hari-hari sepi
kami generasi yang tumbuh dari luka
masih percaya pada makna negara
kamilah suara
yang menjaga langkah kalian tetap setia
di bawah gugus bintang dan siang yang terang
tegaklah tanpa condong ke utara atau selatan
bila hukum adalah rumah bersama
tempat setiap jiwa merasa merdeka
2025

SAJAK-SAJAK Ayie S Bukhary
Ketika Senja Gugur di Mataku I
ketika senja gugur di mataku
bisikmu merambat di tepi jendela
angin membawa sisa rautmu
seperti lagu yang kehilangan suara
ketika senja gugur di mataku
daun-daun menampung cahaya renta
sedang waktu mencoba menenun kata
aku memanggilmu,
lewat hujan yang diam-diam
ketika senja gugur di mataku
riuh kota jadi gema tak tentu
di jalanan basah langkahmu berlalu
meninggalkan bayang ragu
ketika senja gugur di mataku
langit menulis puisi di kaca kereta
jatuh satu-satu hurufnya
pecah di dada seperti rahasia
ketika senja gugur di mataku
kukenang langkahmu di pelabuhan
kau bawakan aku payung biru
aku bawakan untukmu kesunyian
kapal tak pernah benar-benar berangkat
sedang doa terus berlayar begitu lambat
ketika senja gugur di mataku
sepi bergetar di kawat burung
padam harapan di udara kelu
kenanganku bising di langit murung
ketika senja gugur di mataku
di bawah lampu jalan
kelak kau kembali sebagai ingatan
dan sebelum malam menutup pintunya
kukembalikan cintamu pada hujan dan cahaya
2025

SAJAK-SAJAK Yesmil Anwar
Ketika Senja Gugur di Mataku II
ketika senja gugur di mataku
langkah-langkah lembutmu surut dari halaman waktu
bila napasku berburu rindu
kukenang kau sebagai bayangan ragu
pada kabut, malam jatuh tak bernama
di sela genting dan aroma bunga
lalu detak jam berhenti di dada
rinduku menjelma doa yang sia
pada retakan di jendela
di bawah langit yang sama
bisikku tenggelam di tengah suara
hujan yang tak selesai jatuhnya
kupungut daun dari jejak perjalanan
di tengah suaramu yang terus bergema
di antara tenun tahun kehilangan
ketika senja gugur di mataku
malam menulis wajahmu di kaca
sedang setiap garisnya adalah waktu yang lupa
aku menghapusnya, sebab di situ aku pernah percaya
2025

PUISI Diro Aritonang
Barangkali Luka Adalah Rumah
barangkali luka
adalah jalan menuju sunyi yang jujur
kau mencari jawab di antara detik berdarah
sementara waktu hanya tahu cara mencuri
di reruntuhan aku pernah berdoa
dengan nada timbul tenggelam menyebut nama
dari tatap menjadi kenang, dari genggam menjadi gema
dan ketika kau bertanya,
mengapa takdirnya tetap luka?
sebab semesta tak pandai menulis akhir bahagia
diajarkannya kehilangan, agar kita tahu arti bertahan
maka biarkan perjumpaan menjadi perpisahan
seperti laut yang setia mengirim ombak kepada pantai
sebagaimana kenang mengekalkan pelukan
barangkali luka adalah rumah
tempat kita pulang dengan dada retak
menyalakan setitik cahaya
dari nyaris sisa padamnya doa
di jendela aku melihatmu
membaca ulang nasib di antara kaca dan kabut
di situ, cinta berhenti sebagai isyarat lembut
hingga kelak takdir menyisakan namamu
sebagai alamat bagi rindu
2025

